
Di gedung perusahaan milik keluarga Gunawan, dan Algi yang menjadi CEO nya di sana Aldara tengah memakan seblak dimejanya dia terlihat sibuk dengan komputer dihadapannya.
"Berikan aku itu! " suara Algi terdengar jelas oleh Aldara, Aldara pun menoleh lalu tersenyum.
"Maaf Pak, biar saya membelikan yang baru! " Aldara berdiri tapi dengan cepat Algi menekan bahu Aldara agar dia kembali duduk dikursinya, lalu memutar kursi itu agar Aldara menoleh padanya.
"Ini waktu istirahat kenapa kau masih sibuk dengan komputermu?" Algi berjongkok tepat dihadapan Aldara, dan kembali jantung Aldara terpacu lebih cepat.
"Khm, itu! " Aldara menoleh pada komputernya yang menampakan sebuah game pertanian, Aldara dengan cepat mengeluarkan game itu.
"Kau bermain game, aku kira mengerjakan sesuatu yang bermanfaat untuk perusahaanku! " ucap Algi dan membuat Aldara bingung. Algi tidak marah!
"Maaf kan saya, hanya saja waktu istirahat kali ini aku tidak ingin ke kantin jadi saya-" ucapan Aldara terhenti saat telunjuk Algi membungkamnya.
"Sial ada apa dengan jantungku! " Aldara menoleh pada hal lain, agar tidak bertatapan dengan Algi tapi tidak bisa Algi memegang kedua pipi Aldara agar mereka bisa saling menatap.
Jika dalam serial film mungkin kali ini jantung mereka terdengar jelas berdegup dengan kencang, hati mereka pun bergetar merasakan rasa cinta yang semakin tumbuh tanpa mereka sadari.
"Suapi aku itu! " Suruh Algi menelan ludahnya lalu menyingkirkan kedua tangnnya dari pipi Aldara.
Aldara pun menyindukan seblak itu dengan tangan bergetar, entahlah kenapa dia terlihat gugup kali ini.
"Apa kau sakit? " tanya Algi yang melihat kalau tangan Aldara bergetar tanpa sebab.
"Ah tidak, buka mulutnya! " Aldara segera menyindukan seblak dan hendak menyuapkannya, dan kembali tatapan itu bertemu.
"Khm! Ini rasa pedas kesukaanku! " Aldara segera menyuapi Algi dan menyimpan sendok itu, lalu menghindari tatapan Algi.
"Apa! Jangan pernah memakan ini! " Algi merebut paksa seblak itu dari Aldara dan membuangnya ke tempat sampah yang ada didekatnya.
"Pak ada apa dengan Anda, itu makanan saya! Main buang saja! " kesal Aldara menatap makanan kesukannya terngok tidak berdaya ditempat sampah.
"Itu sangat pedas, dan akan membuat pencernaanmu bermasalah! " Algi menahan rasa pedas hingga matanya mulai berkaca. Aldara yang menyadari itu, segera pergi hendak menyeduhkan susu.
"Mau kemana? " tanya Algi menarik tangan Aldara.
"Aku akan mengambilkan susu untukmu, karena aku sempat membaca buku kalau rasa pedas akan reda jika meminum susu! " sahut Aldara.
"Tidak usah aku tidak suka minum susu! " Algi seraya meninggalkan Aldara ke ruangannya.
Seperti tidak bisa dihentikan kaki Aldara begitu saja mengikuti Algi keruangannya, membuat Aldara menggerutu.
"Tidak bisa aku seperti ini!" Aldara hendak kembali setelah membuka pintu itu.
"Masuk! " Terdengar Algi berucap, Aldara pun mengurungkan niatnya untuk kembali kemejanya.
__ADS_1
"Ia Pak? " tanya Aldara mendekati Algi.
"Ambilkan aku minum! " titah Algi dan Aldara pun menurut. Mengambil air minum yang tidak jauh dari posisi Algi duduk.
"Tinggal merogohya saja padahal, orang kaya memang ingin semaunya saja! " gumam Aldara dalam hati.
"Aw! " Aldara terkejut saat pinggangnya di tarik paksa oleh Algi hingga air itu tumpah dan kini dirinya kembali ada dipangkuan Algi.
"Hobinya sekarang memangku diriku! " kembali gumaman itu dalam hati Aldara.
"Lama mengambil air! Aku ingin air ini saja! " Algi meraih tengkuk Aldara.
"Sekarang dia sesuaka hati melahap bibirku! " ucapnya tentu saja dalam hati Aldara.
"Baiklah aku akan kasih tau bagaimana cara berciuman yang membuat kenyang, sampai dia tidak akan menciumku lagi! " setelah hatinya berkata, Aldara membalas ciuman itu, membuat Algi bahagia.
Tapi beberapa saat Algi merasa ada yang mengganjal ciuman itu membuat mulutnya tambah panas, Algi melepaskan ciuman itu tapi Aldara kembali mencegahnya dengan menarik tengkuk Algi kasar.
Dengan sengaja Aldara memposiskan dirinya berhadapan dengan Algi, hingga kepemilikin dirinya dan juga Aldara saling berhadapan.
"Gawat! " gumam Algi dalam hati.
Algi mendorong pinggang Aldara tapi Aldara kembali memajukan dirinya merapatkan tubuhnya.
Aldara merasakan ada yang bangun dibawah sana, seketika senyum nya menyeringai. Aldara sengaja beralih kini mencium dan menyesap leher Algi serta tangannya yang mencoba masuk pada kemeja miliknya.
"Kau!" ucap Algi tertahan, dia sudah sangat sesak dibawah sana.
Setelah dirasa benda dibawah sana mengeras sangat keras, Aldara turun dari pangkuan Algi dan kembali mengisi gelas itu dengan air.
"Redakan dengan ini! Atau mau ke kamar mandi? " Aldara menyimpan gelas itu di meja lalu dengan cepat pergi dari sana.
"Aldara! " teriak Algi, sedangkan Aldara tertawa sangat senang dimejanya karena berhasil mengerjai atasannya.
Aldara memegang dadanya yang berdesir rasa itu kembali menyeruak ditubuhnya, tawanya seketika hilang. Dia seperti bukan dirinya kali ini jika bersama dengan Algi.
Aldara pun memutuskan untuk ketoilet hanya sekedar mencuci muka, di sana dia bertemu dengan ibu menejer yang tengah memoleskan lipstik dibibirnya.
"Ald! " sapa Ibu menejer itu dan Aldara pun menoleh.
"Ya? " sahut Aldara.
"Bekas gigitan manusia mana tuh! " ledek ibu menejer dan membuat Aldara buru-buru melihat lehernya, tentu saja kali ini dia kena preng.
"Emang benar ya dilehermu ada sesuatu? " goda ibu menejer. Aldara yang melihat lehernya masih utuh dengan foundation itu hanya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Dan kau menutupinya dengan alas bedak? "sambung ibu menejer itu.
"Tidak ada apa-apa di leherku! " tungkas Aldara.
"Tidak apa-apa jangan malu, kalau itu perbuatan orang yang kau cintai! Aku juga pernah mengalaminya,"Ibu menejer itu menyimpan lipstik itu ditas kecil.
"Apa? "
"Kau ini jangan berlagak polos, mana mungkin kau memberikan lehermu pada orang asing kan! Tentu saja kau juga suka sama dia hingga rela lehermu menjadi korban gigitan dia, dan boleh aku tau siapa orang yang bisa menaklukan hati sang Aldara wanita dingin dan cerdas ini?" ucap ibu menejer itu.
"Hentikan omong kosong itu, Ibu menejer! "
"Jangan mengelak lihatlah pipimu memerah! " ledek ibu memejer.
"Aku tidak tau, Anda bicara tidak jelas! " Aldara beranjak dari toilet.
"Tunggu! " Ibu menejer itu berlari menyusul Aldara.
"Mana mungkin aku cinta sama dia, gila! " gumam Aldara dan terdengar oleh ibu menejer.
"Ald! " Ibu menejer itu menepuk bahu Aldara dan tentu saja hal itu membuat Aldara terkejut.
"Ibu menejer! " sentak Aldara.
"Apa jantung mu tiba-tiba berdegup dengan kencang? Hatimu bergetar dan membuat kau gugup serta kau selalu ingin memandangnya, bahkan kau tanpa sadar memikirkan orang itu?" tiba-tiba ibu menejer berucap tanpa jeda.
"Hah! " Aldara bingung dengan jawabannya.
"Itu gejala penyakit yang serius! " kemudian Ibu menejer itu menatap tajam Aldara.
"Apa? Penyakit?Serius? " Aldara membulatkan matanya.
"Iya, yang akan membuat mu bahagia dan sedih! " sahut Ibu menejer serius.
"Hah? "
"Hei Aldara! Apa kau tidak merasakn jatuh cinta sebelumnya? Huh hah heh melulu! " geram Ibu menejer karena Aldara tidak paham juga dengan yang dia katakan.
"Jatuh Cinta? " gumam Aldara.
"Anak ini, kau itu terserang virus cinta! Gejalanya seperti yang sudah aku bicarakan!" Ibu menejer itu melangkah berbelok
"Tunggu dulu! " Aldara menghentikan langkah Ibu menejer.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE YA 😍😍😍
__ADS_1