Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Amarah Algi


__ADS_3

Brrakkkkkk


Suara pintu dibuka paksa, Aldara terperanjat dan segera menduduki foto yang tadi dilihatnya.


"Bunda cepatlah, lama banget tuh malah Helen yang minta jagung sama nenek! " Helen mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada, sedangkan Aldara mengehembuskan nafasnya panjang.


"Aduh, Helen! " Aldara membaringkan tubuhnya, hampir saja dia copot jantung tadi.


"Bunda kok malah tidur! " Helen menghampiri Aldara dan menarik tangannya


"Tidak sayang! " Aldara kembali terduduk.


Helen menatap foto yang kini terlihat setengahnya,"Bunda itu foto siapa? "


"Oh, bukan foto siapa-siapa!" elak Aldara.


Dirumah Rumi dan Jefri tengah menonton tv, sambil memakan cemilan, dan Rumi berkata,"Algi juga ada? "


"Apa? " Jefri menatap sang istri terkejut.


"Apa, Kenapa? " Rumi pun menoleh pada Jefri.


"Apa mereka seakrab itu?" Jefri penasaran hingga pandangannya tidak putus pada Rumi.


"Entah! Tapi Aldara itu sekarang sekertarisnya Algi. Dan Algi yang menginginkannya! " Rumi kembali memasukan kripik pisang itu kemulutnya.


"Oh, tadi Algi kesini bersama Helen dan kebetulan kamu lagi mandi. Apa aku salah menyapa atau apa terlihat Algi menampakan muka masam, seperti tengah marah,"sambung Rumi memberitau.


"Ada yang tidak beres! " Jefri berdiri hendak pergi namun pergelangan tangannya di tahan oleh Rumi.


"Apa yang tidak beres!" Rumi menatap tajam suminya itu.


"Dugaan ku saja! " Jefri seraya tersenyum pada Rumi dan bergegas pergi.


Jefri berjalan tergesa kerumah Aldara, dirinya tidak tenang karena sebelumnya dia menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal, yang memberitau kalau dirinya telah difitnah kembali.

__ADS_1


Nomor misterius yang selalu memberitahu segala hal, Jefri sempat mencari tau siapa tapi tidak juga kunjung ditemukan.


Jefri tiba dihalaman rumah Aldara, dia mengetuk pintu keras tanpa jeda hingga pintu itu terbuka.


"Algi, ada yang perlu aku bicarakan! " ucap Jefri, dan kebetulan yang membuka pintu adalah Algi, Jefri pun segera menarik pergelangan tangan Algi menjauh dari sana.


Tidak ada bantahan, Algi menurut mengikuti kemana Jefri membawanya. Hingga mereka berada ditaman depan rumah Aldara tepatnya disamping tenda yang dibangun tadi.


"Jangan percaya! " ucap Jefri.


"Apa? " Algi tersenyum mengejek, "Jangan percaya! Sedangkan aku harus percaya pada kebusukanmu itu. Kau menikah dengannya tanpa sepengetahuanku! Apa kau merencanakan hal jahat lagi padaku! Sebenarnya kau tidak terlalu penting bagiku aku akan membuktikan kebenaran pada diri Aldara. Jika dia berbohong otomatis kau benar-benar musuhku, dan aku akan menyesal telah mempunyai keluarga seperti mu seumur hidupku! "


"Kau telah dibutakan oleh Fadil, semua yang dia katakan kebohongan aku menikah dengan Rumi itu murni aku mencintainya tanpa ada rencana didalamnya! Mana mungkin aku menyakiti mu, aku kecewa! Terserah apa yang kau pikirkan aku lelah dengan semua ini, kau hanya memandangku sebelah setelah kejadian yang menyalahkan ku. Apa kau tidak ingat kita dulu selalu bersama, dan kau begitu saja percaya pada Fadil sialan itu yang dulu jauh dari hidupmu!" teriak Jefri dan nafasnya menggebu karena emosi yang meluap.


"Kau akan sangat menyesal jika bukti yang sebenarnya terungkap, aku jamin! Dan satu hal kau tidak boleh menyakiti Aldara! " Jefri menunjuk wajah Algi dengan bergetar, lalu pergi begitu saja. Sedangkan Algi hanya membuang muka sambil menonjolkan pipinya dengan lidah.


"Aku akan menjadi diriku saja, terserah akan apa yang aku rencanakan! " gumam Algi menyeringai.


Algi kembali kedalam rumah disana telah ada anak-anak dan juga Aldara yang tengah bercanda. Perlahan Algi mengigit bibirnya, lalu menghembuskan nafas panjang.


"Kami lagi mendengar cerita lucu dari Bunda, jadi sempat lupa untuk ke tenda, " ucap Roni.


"Roni kau baru kali ini saja mendengar cerita Bunda, sehingga kau merasa asing nah aku sudah mendengar beberapa kali membuat telingaku panas walau selalu ketawa pada akhirnya." sahut Helen membuat Aldara mendelik.


"Oh begitu ya Hel? Sini kamu! " Aldara mulai mengulurkan kedua tangannya pada Helen bersiap untuk menagkap anaknya yang sempat meledek itu.


"Kabur! " Helen dan roni berlari keluar tepatnya ke tenda sedangkan Algi hanya tertawa mengejek melihat hal itu.


"Kenapa ketawamu aneh! " Aldara yang menyadari raut muka Algi.


"Tidak, hanya saja kau pandai melawak! " Algi berbalik dan berjalan menghampiri anak-anak.


Malam semakin larut. mereka seperti layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Dua anak, Daddy dan Bunda itu menghabiskan waktu bersama dengan bersenang-senang, bahkan jagung yang dibakar telah habis serta api unggun yang mereka buat kini telah padam. Aldara dan Algi kini menatap kedua anak itu bersamaan, mereka sudah tertidur, raut wajah yang cerah terlihat dari keduanya.


"Mereka terlihat senang! " Algi mengusap puncak kepala Roni dan Helen bergantian.

__ADS_1


"Apa mereka akan tetap senang mengetahui kalau kita bukan orang tuanya! " ucapan Algi membuat Aldara sangat terkejut, dan segera menarik Algi menjauh dari tenda itu.


"Apa maksud ucapanmu itu? Helen adalah anaku darah dagingku, apa kau yang sedang berterus terang kalau Roni bukan anakmu! " Aldara menatap tajam pada Algi.


"Benar! Dia adalah keponakanku bukan anaku! " Algi menyeringai tentu saja hal itu tidak membuat Aldara terkejut, karena dia sudah tau.


"Ha ha kau bercanda? Maksudmu kau mengadopsi Roni kemana orang tuanya? " Aldara menghindari tatapan Algi yang semakin menajam bagai pedang.


"Apa aku harus menjelaskan yang sebenarnya, supaya kau juga bisa tidak terus berbahong! " Algi mendekatkan wajahnya ke wajah Aldara membuat Aldara tidak bisa berkutik tapi semaksimal mungkin Aldara mencoba menghindar.


"Apa maksudmu aku tidak mengerti! "Aldara melangkah mundur.


"Apa dia mengetahui jati diriku? Apa dia marah karena aku telah berbohong, tapi siapa yang memberi taunya bahkan aku merapatkan identitas diriku juga bibi dan Helen," gumam Aldara dalam hati.


"Biar aku membuat mu mengerti! " Algi menepuk tangannya ke atas dan datanglah dua orang laki-laki bertubuh tegap, sedangkan Aldara dibuat was-was dan segera menekan tombol di ponselnya, Algi yang menyadari pergerakan Aldara segera mengambil ponsel itu paksa lalu melemparnya kesembarang tempat.


"Apa yang kau la-" Teriakan Aldara terputus kala Algi membuangkam mulutnya dengan tangan kekarnya, lalu membalik tubuh Aldara hingga kini Aldara membelakangi Algi tanpa melepaskan tangannya.


"Pindahkan anak-anak kerumah jangan sampai mereka terbangun! " titah Algi kepada kedua laki-laki tadi.


Aldara terus menepuk tangan Algi, mencoba untuk menggigit telapak tangannya tapi tidak dirasa oleh Algi, dia terus menekan tangannya dimulut Aldara.


Tangan Aldara tidak tinggal diam dia menggapai apapun yang ada di tubuh Algi agar dia bisa terlepas, hingga dia mencengkram area bawah Algi dan membuat Algi meringis tapi segera dia menepisnya.


"Kau belum tau, sekuat dan sebesar apa pun kau tenaga ku akan lebih kuat darimu! " Algi mengangkat Aldara dan disimpannya dibahu, bagai memanggul karung beras.


"Turunkan aku! " Aldara dengan sekuat tenaga memukul punggungnya, dan kakinya menendang perut berotot Algi.


"Tidak akan! " Algi menekankan dan memasukan Aldara paksa kedalam mobilnya.


SEPERTI BIASA LIKE, KOMEN, FAV DAN VOTE JUGA YA.......


DAN AUTOR JUGA MEMPUNYAI NOVEL YANG UDAH TAMAT DENGAN JUDUL GURU DUNIA AKHIRAT, JANGAN LUPA BACA YA....


DAN MAAF UP NYA MASIH SEBAB SEBAB TAPI MASIH BERUSAHA UNTUK LEBIH, KARENA HARUS JAGA SAYUR DI TOKO HEHEH....... 😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2