
HAPPY READING
.
.
.
Di dalam mobil Aldara sibuk dengan ponselnya, dia tengah ditelepon oleh sang anak.
"Bunda lagi dijalan! " sahut Aldara, menjawab pertanyaan Helen yang menanyakan keberadaannya.
"Bunda lama banget, Helen dan Roni sampai lapar menunggu! " grutu Helen di rumah.
"Apa nenek tidak menemui kalian? " tanya Aldara.
"Tadi nenek kesini bersama kakek, mereka sekarang lagi membelikan makanan untuk kami! " jelas Helen, sedangkan Aldara mendengar kata makanan dia teringat akan suatu hal.
"Ya ampun aku lupa! " Aldara menepuk keningnya dan membuat Helen tidak mengerti dengan ucapan Bundanya.
"Bunda kenapa?" tanya Helen.
"Nak Bunda sekarang sudah hampir dekat, dan lupa membeli jagung," sahut Aldara dan Algi yang tengah mengemudi itu menoleh sesaat pada Aldara.
"Tidak mau tau Bunda pokoknya Helen mau jagung bakar!" rengek Helen.
"Iya, udah dulu telponnya Bunda mau cari jangungnya dulu! " Aldara melirik Algi.
"Iya Bunda, " Helen memutuskan sambungan telpon itu.
"Pak Al-"
"Hentikan kau memanggilku dengan embel-embel pak, giliran sedang marah saja kau dan kamu sedangakan sedang baik-baik saja malah disebut Pak. Apa kau lupa, kau yang ingin menjadi kekasihku kan! Udah panggil sayang saja! " ucapan Algi memotong ucapan Aldara, sedangkan Aldara sendiri terlihat mendengus.
"Nggak mau, itu terlalu kekanakan! Udah aku kamu aja cukup! " tungkas Aldara.
"Sayang! " sentak Algi, Aldara mulai mengepalkan kedua tangannya.
"Dia cerewet, menyebalkan, semaunya saja!" suara Hati Aldara.
Aldara kembali mengambil ponselnya dan mulai menelepon Rumi, dia tidak mau banyak bicara sekarang lebih tepatnya tidak mau meladeni ucapan Algi.
"Bibi aku butuh jagung dan bahan makanan lainnya. Apa ditoko ada? " tanya Aldara setelah sambungan telpon itu tersambung.
"Tidak perlu ke toko, dirumah Bibi ada komplit kau perlu mengambilnya saja dikulkas! " sahut Rumi di sebrang telpon sana.
"Bibi sekarang dimana? " tanya Aldara.
"Bibi lagi membeli pecel buat anak-anak, sekarang udah siap dan sebentar lagi mau pulang, " jawab Rumi.
"Baiklah!" Aldara memutuskan sambungan telponnya.
__ADS_1
"Gak niat untuk bakar jagung hm? " tanya Algi.
"Iya soalnya tadi terlalu lama bakar bibir! " sahut Aldara ketus membuat Algi tertawa.
"Lebih enakan bakar bibir, kalau gitu bolah aku menginginkannya lagi! " Algi menoleh sesaat menatap raut wajah Aldara yang memerah.
"Terus saja minta, mana ada kenyangnya kan makan bibir! " ketus Aldara meniup rambut yang menghalangi pandangannya, Algi yang melihat itu tangannya terulur menyingkirkan rambut diwajah Aldara dan menyimpannya dibalekang telinga perlahan.
"Kau juga suka kan? " goda Algi, dan kembali pipi Aldara memerah karena malu.
"Akhirnya sampai juga! " ucap Aldara dan menghiraukan ucapan Algi.
"Kau ini! " Algi tersenyum.
Aldara dan Algi buru-buru keluar dari mobil dan menghampiri pintu rumah, knop pintu pun diputar oleh Aldara.
"Tidak di kunci, dasar anak-anak! " guman Aldara dan segera memasuki rumahnya dan diikuti oleh Algi.
"Bunda! "
"Daddy! "
Helen dan Roni berlarian ke arah mereka.
"Lihatlah kami telah menyiapakan segalanya kecuali makanan! " Roni menunjukan tenda yang masih terlipat.
"Anak-anak pintar! " Aldara mengudap puncak kepala Roni dan Helen bergantian dan kembali hati Algi berdesir menyaksikan itu.
"Kalau gitu Daddy kita bangun tendanya saja! " usul Roni.
"Baiklah, Deddy akan mengambil tendanya kalian tunggu didepan ya!" suruh Algi dan mulai berjalan mendekati tenda itu.
Saat akan pergi keluar, Algi merasakan getaran di saku celana jeans nya. Algi pun menyimpan kembali tenda itu dan mengambil ponselnya. Dilihatnya ada sebuah pesan Algi mulai membacanya.
"Apa ini! " Seketika Algi merasa marah raut mukanya memerah serta hatinya yang sakit.
"Tidak mungkin! " Algi mengeraskan rahangnya dan menggengam ponsel itu keras.
"Daddy cepat! " Ucap Roni, dan Algi menghembuskan nafasnya meredakan emosinya lalu berjalan menghampiri Roni dan Helen.
"Roni, Helen!" Rumi memanggil membuat mereka menoleh begitu juga dengan Algi.
"Ada Pak Algi juga! " sambung Rumi dan Algi hanya mengangguk menanggapi.
"Kalian mau kemping tidak ajak-ajak," kembali Rumi berbicara.
"Ini urusan keluarga, nenek juga sekarang sudah cuek sama Helen dan selalu sama kakek, iya kan Ron?" sahut Algi seraya menoleh pada Roni, sedangkan Roni hanya mengangguk.
"Kakek? " gumam Algi mengerutkan keningnya bingung.
"Hey, nenek juga masih keluargamu hanya saja sedikit harus berbagi waktu gitu aja! " Rumi menyimpan dua bungkus makanan di meja halaman rumah.
__ADS_1
"Sekarang sudah telat, nanti saja kalau kami akan kembali berkemah nenek dan kakek akan kami ajak! " ucap Helen.
"Baiklah, selamat bersenang-senang! " Rumi pun berbalik dan mulai melangkahkan kakinya.
"Tunggu sebentar!" sergah Algi membuat Rumi menghentikan langkahnya dan menoleh pada Algi.
"Ada apa? " tanya Rumi.
"Apa kau menikah dengan Jefri?" tanya Algi dengan tatapan menyelidik.
"Oh kami lupa tidak memberi tahumu, iya kami baru saja menikah kemarin," jawab Rumi dan seketika mata Algi memerah.
"Baiklah aku pergi! " Rumi buru-buru meninggalakan rumah itu.
"Aku hanya perlu membuktikannya! Jika mereka semua adalah musuhku! " Algi lagi-lagi mengepalkan tangannya erat.
"Daddy ayo! " ajak Roni.
"Hahhhhhh, hm! " Algi menghampiri Roni dan Helen.
Sedangakan di kamar setelah selesai mandi dan mengenakan baju Aldara menyambungkan sobekan foto itu, dan terkejut.
"Benar ini adalah pemandangan ditempat kemping itu! " Aldara membulatkan matanya, dan merekatkan foto itu menjadi satu lalu membaliknya dan di sana terlihat jelas kata 'KEY' .Aldara pun teringat kembali ucapan Indah ditenda waktu itu, yang mengatakan bahwa kakaknya yakni Sarah pernah memberikan kotak kecil sebagai hadiah buat suaminya.
Aldara kembali melihat foto itu, terlihat Dinar tengah tersenyum dengan tatapan mengarah pada rumah itu dengan telapak tangan yang mengarah pada kamera.
"Apakah yang disembunyikan dia adalah kotak kecil itu? Apakah itu bukti kebenarannya!" Aldara bergumam hingga tidak disengaja pandangannya megarah pada telapak tangan itu dan ada dua huruf disana yang ditulis dengan balpoin.
Aldara memperjelas penglihatannya, menelisik huruf itu yang tidak terlalu jelas.
"RR?" ujar Aldara dengan tatapan bingung.
"Apa ini inisial? "Aldara bertanya pada dirinya sendiri.
"RR, siapa? " Aldara mencoba mengingat nama inisial itu.
"Roni! " kemudian Aldera berteriak sendiri.
"Rina? " lanjutnya Aldara mengucapkan nama Helen yang sebenarnya dengan sangat pelan.
Aldara menutup mulutnya segera lalu melangkah menuju pintu takut ada orang yang mendengar ucapannya, dibukanya dengan sangat hati-hati pintu itu lalu matanya menyapu ruang yang berada didepan kamarnya.
Dia pun mengusap dadanya yang berdegup cepat dan kembali menutup pintu itu dan kembali menghampiri foto yang terletak diatas kasurnya.
"Aku harus mencoba untuk membawa Roni dan Helen ke tempat itu! " gumam pelan Aldara, hingga
Brrakkkkkk
🌺🌺🌺
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, FAVORIT DAN VOTE YA............
__ADS_1