Dendam Sang Adik

Dendam Sang Adik
Kakek dan Nenek


__ADS_3

Toko sayur milik Rumi hari ini terlihat sepi, padahal kali ini Dila dan Budi masuk kerja. Rumi duduk dikasir sambil membaca sebuah novel romantis kesukaannya, sedangkan kedua karyawannya tengah membungkus dan memberi barkot pada sayur kangkung.


Terdengar pintu ada yang membuka Rumi segera menaruh novel itu lalu membungkuk.


"Selamat datang, " sapa Rumi pada pengunjung tapi tidak ada sahutan. Rumi pun mendongkak dan ternyata yang datang Jefri yang tengah memandanginya.


"Ada yang perlu dibantu? " tanya Rumi kemudian.


"Aku perlu hati dan cintamu! " jawab Jefri dan membuat Dila dan Budi saling pandang, lalu segera berjalan mengendap menuju kasir.


"Maaf Pak hatiku cuma satu dan tidak akan saya berikan kepada siapa pun, karena aku tidak akan hidup tanpa hati yang berfungsi menghasilkan cairan empedu dan cairan itu berguna untuk membantu proses pencernaan makanan atau bisa sebagai penetral lambung yang asam," jelas Rumi lalu Jefri pun menghembuskan nafas kasar.


"Hati yang aku maksudkan adalah sebagai kata kiasan dimana aku menginginkan cinta yang tulus dalam dirimu untuku, seperti itu! " jelas Jefri, dan membuat Dila serta Budi yang menyembulkan kepalanya di ujung rak samping kasir melongo.


"Apa menurutmu mba Rumi kali ini akan menerimanya? " tanya Dila pada Budi.


"Mana ku tau, aku baru liat dia! " jawab Budi.


"Pak sebaiknya Anda terus terang saja mau apa kemari, saya lagi kerja dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan! " Rumi bicara dengan malas, hingga pintu toko itu kembali kebuka.


"Nenek! " Helan berseru dengan beberapa permen loli di tangannya, begitu juga dengan Roni yang tengah menggengam ponselnya sambil melihat Jefri.


"Kakek, kenapa ada di sini? " tanya Roni.


Jefri dan Rumi pun saling pandang lalu menelan air liurnya masing-masing sedangkan Dila dan Budi segera ke belakang lalu tertawa terpingkal menanggapi Jefri dan Rumi yang di sebut kakek dan nenek oleh Helen juga Roni.


"Kakek dan nenek! Aku rasa Mba Rumi kali ini tidak akan menolak, karena telah menemukan pasangan yang imbang! " Budi menepuk perutnya.


"Kau benar, Mba Rumi pasti kali ini menerima laki-laki itu. Tapi bisa ya mereka sudah punya cucu tapi belum pada menikah! " ujar Dila.


"Bukan cucu asli, tapi cucu dari samping! " sahut Budi.


"Ada-ada saja kau ini! "

__ADS_1


Kembali di depan meja kasir, Rumi menatap tajam Helen seperti tengah mengancam dan menghujat dalam hati. Sedangkan Jefri hanya tersenyum malas menanggapi pertanyaan Roni.


"Kenapa kau menolaku, setidaknya kita dipanggil kakek dan nenek kalau kita udah bersama tidak akan semenyakitkan itu," Jefri menatap Rumi.


"Terima nasib saja, jomblo abadi! " sahut Rumi acuh.


"No! Kita akan menikah, aku hanya ingin bersamamu menikmati masa tua bersamamu! " ucap Jefri membuat Helen dan Roni saling menatap.


"Itu kakek mu? Aku rasa dia belum punya banyak keriputan dan lagi dia terlihat lebay," bisik Helen pada Roni.


"Nenek mu juga sama belum banyak kriputan! Dia juga terlalu cuek, " sahut Roni membalas bisikan Helen, dan semua itu terdengar oleh Rumi dan Jefri yang kali ini tengah menatap keduanya.


"Mereka sudah tua tapi sayang belum menikah!" Helen cekikikan.


"Itu urusan mereka, tidak perlu kau memikirkannya mau tidak menikah sampai mati juga itu urusan mereka. Kita hanya perlu menjalankan misi kita sekarang! " sahut Roni yang membuat sang kakek dan nenek yang mendengarkannya menjadi geram.


"Helen! " teriak Rumi.


"Ia nek! " jawab polos Helen.


"Kami mau makan kesini, nek aku lapar! " Helen mengembungkan pipinya.


"Helen! " ucap Rumi, bagaimana pun memang benar kalau dia adalah nenek Helen walau bukan cucu kandungkan! Rumi menghembuskan nafas panjang meredakan emosinya.


"Mau makan apa? " tanya Rumi.


"Mie ayam! " jawab Helen.


"Kek aku juga lapar, kali-kali bertemu jajanin Roni ya pengen bakso! " Roni menarik jas Jefri.


"Ah kau berani ya! " Jefri menatap tajam Roni.


"Tidak baik memarahi cucumu sendiri, kau akan di anggap sama sepertinya belum dewasa kalau masih menggunakan emosimu. Terima saja keadaan kakek Jefri! " ledek Rumi.

__ADS_1


"Baiklah kakek akan mentraktirmu bakso, dan kita akan makan bersama nenek ini dan cucunya juga kan. Kita cari tukang bakso dan mie ayam nya sekarang! " Jefri tersenyum dipaksakan, mengingat dia tidak akan kasar jika dihadapkan dengan sang pujaan hati.


"Kau tau aku sangat ikhlas di sebut kakek dan neneknya itu kau, walau sebutan itu untuk yang lebih tua tapi kesannya seperti suami dan istri benar kan, Amin! " jefri mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.


Mereka pun telah sampai ditempat bakso dan mie ayam, tapi Jefri terlihat tidak tenang dia selalu menoleh kakanan dan kekiri hal itu disadari oleh Rumi.


"Sedari tadi juga ada yang mengikuti kita! " ucap Rumi tiba-tiba dan Jefri pun menoleh.


"Kita harus lebih menjaga ketat kedua anak ini! " sahut Roni.


"Kali ini bersikaplah layaknya kakek dan nenek, agar tidak ada yang curiga! " ucap santai Rumi.


"Emang ia kan!" sahut Jefri.


Rumi memakaikan masker pada Helen, dan hal itu membuat Jefri mengerutkan dahinya.


"Memang benar mereka sodara kan! " Jefri menyeringai, dan hal itu membuat Rumi terkejut.


"Kau! " Rumi menujuk muka Jefri dengan garfu.


"Tidak apa-apa, aku sedari awal sudah tau hanya saja aku tidak tau rencana apa yang kalian perbuat asal kalian tau kalau aku dan Algi hanya dijadikan kambing hitam oleh seseorang! " jelas Jefri.


"Arah kiri tepat jarum jam delapan, itu adalah suruhan seseorang yang membenciku, kau tau kan orang itu yang semalam? " Tanya Jefri dan kini Rumi semakin waspada pada orang di depannya, karena sebaik dan segombal apa pun Jefri dia tetap target mereka awalnya.


"Jangan libatkan kami dalam masalah mu lagi! " Rumi berdiri dan menarik lengan Helen.


"Jika kau bersikap seperti itu maka akan lebih merugikan kau sendiri, apa kau lupa dengan ucapanmu tadi jadilah kakek dan nenek sesungguhnya, mereka hanya mengintai ku dan mengkin Roni dan kau hanya akan dipertanyakan dan dicari tentang kehidupanmu. Sebaiknya kau menutup kembali identitas keluargamu sebelum mereka menemukannya! " terang Jefri sedangkan Helen kembali duduk karena pesanan mie ayamnya sudah jadi dan tersaji di meja, begitu juga Roni yang kini melahap bakso nya.


Helen hanya acuh menanggapi pembicaraan Rumi dan Jefri sedangkan Roni, dia sedikit penasaran dan menguping walau dia tidak paham tapi dia tau kalau mereka tengah di intai seseorang.


"Apa sikap baikmu senjata untuk menerkam kami? " tanya Rumi pelan, tapi Jefri masih bisa mendengarnya.


"Haruskah aku memohon dan sujud di kakimu agar kau percaya kalau aku tau yang sebenarnya, dan kalian sebenarnya salah paham pada kami! " Jefri menatap sendu Rumi.

__ADS_1


Jangan lupa like komen favorit dan vote ya


baca juga novel autor yang berjudul Guru Dunia Akhirat


__ADS_2