Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Menggenggam Rasa Penasaran


__ADS_3

Rigo terdiam menatap langit-langit kamar dengan segala pemikirannya. Sejujurnya dia agak menyesal karena pergi begitu saja dari apartemen Velo tanpa menambahkan banyak hal yang ingin dia tanyakan. Mulanya dia ingin bertanya bagiamana bisa terjadi pertengkaran saat di restauran, toilet tepatnya. Tapi dia sudah terbawa emosi sehingga memilih pergi dari pada dia nanti tambah kesal dan berakhir dengan memukul Velo.


Rigo membuang nafasnya, lalu bangkit dari tempat tidur sembari memegangi kepalanya yang sakit. Dia meraih ponselnya, lalu mengirimkan pesan kepada Ayahnya bahwa dia meminta izin hari itu dengan alasan sakit.


" Aku benar-benar marah sekali, tapi anehnya aku tidak bisa menunjukkannya padamu seberapa marahnya aku. Velo, kalau saja waktu itu aku tetap menolak untuk menikahimu, apakah semua akan memiliki jalan cerita yang jauh berbeda? " Gumam Rigo, sebentar dia diam memikirkan apa yang dia ucapkan barusan. Entah ini hanya sebuah kebetulan atau bukan, ataukah karena dia sudah mulai terbiasa dengan Velo atau tidak, sepertinya hati Rigo bisa dia rasakan sendiri jika mengalami perubahan.


" Tidak, aku tidak bisa seperti ini. Perasaan seperti ini pasti hanya sesaat saja, yah! Besok semuanya akan membaik, jadi jangan terus memikirkannya, Rigo. " Ujar Rigo lalu bangkit dari posisinya, menuju keluar kamar duduk di ruang tengah sembari memesan makanan melalui aplikasi yang tersedia di ponselnya.


Di sisi lain.


Velo sudah rapih dengan penampilannya yang akan pergi ke butik, dia juga terlihat baik-saja, tapi entah bagaimana dengan hatinya.


Velo tersenyum miring, dia meraih tasnya lalu keluar dari apartemen untuk menuju butik. Tidak ada yang berubah dari Velo, dia tetap bekerja dengan baik, membantu pegawai butiknya melayani pembeli, menyapa dengan ramah, dan berkat promosi dari pegawai, juga beberapa kenalan Nyonya Laurent, sahabatnya Velo, juga Juno yang turut membantu mempromosikan butik Velo, akhirnya butik Velo benar-benar tak pernah sepi pengunjung.


Bagaimana bisa bertemu dengan Nyonya Laurent si pemilik Galery, Juno si desainer hebat, semua itu berkat sahabatnya Velo yang bernama, Helena. Wanita itu menjadi sahabat baik Velo semenjak Velo menjalin hubungan dengan Zegon, dan Helena adalah mantan sekretaris Zegon. Dari sanalah Helena mengenalkan Nyonya Laurent, juga Juno, waktu yang mereka habiskan beberapa tahun terakhir itu membuat Velo sedikit nyaman dan mau menceritakan sebagian masa lalunya yang kurang mengenakkan dan membuat mereka menjadi lebih akrab.


Helena kini tinggal di luar negeri bersama suaminya, tapi biarpun jarak mereka jauh, mereka masih sering mengirimkan kabar satu sama lain dan saling menyapa.


" Nona Ve, entah ini perasaanku saja atau bukan, tapi aku melihat butik seberang kita sepertinya sangat membenci butik kita. Pagi tadi saat aku buka butik, dia terus melihat ke arahku, tapi begitu aku melihatnya balik dia dengan jelas menajamkan mata, lalu meludah seolah sedang memakiku. " Ucap salah satu pegawai Velo dengan mimik yang terlihat tertekan dengan perlakukan Nyonya Fer.


Velo menghela nafas, tersenyum seolah dia tidak akan membiarkan semua itu berlangsung lama.


" Tenanglah, dia hanya sedang menunjukkan kepadamu bahwa dia mulai kalah darimu. Dia membenci kita, butik kita, tentu saja adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah, orang yang seharusnya mencari solusi agar bisa melawan dan bersaing dengan benar justru hanya menghabiskan waktu dengan diam dan menikmati rasa pusing karena merasa kalah. "


Pegawai Velo mengangguk paham.


" Nanti kalau Nyonya itu, atau pegawainya membuat masalah bagaimana, Nona Ve? "


Velo kembali tersenyum.

__ADS_1


" Simple saja, dia menatap tajam, kau hanya perlu menatap tajam, dia memukul maka kau juga bisa memukulnya, jika dia meludahi mu, maka lakukan juga seperti itu. Orang yang bersikap berani hanya karena emosi, biasanya akan merasakan efek yang besar. Jangan lupa, butik kita terpasang kamera pengawas di semua sisi. Kau ingin bagiamana menghadapinya tentu saja itu adalah keputusan mu. "


Pegawai itu mengangguk paham.


Benar, dia di berikan dua pilihan oleh Velo. Pertama dia bisa membalas apa yang d lakukan oleh Nyonya Fer, atau siapapun nantinya, atau dia akan memilih meredam emosi dan menyerang balik dengan kamera mengawasi sebagai saksinya.


" Aku paham, Nona Ve. "


Velo tersenyum lalu mengangguk. Dunia ini memang kejam, terkadang dunia menempatkan seseorang di sekeliling manusia brengsek, tapi dunia juga memberikan pilihan. Ingin tetap bertahan dengan lingkungan brengsek, atau coba melawannya dan menjadi kuat karena proses melawan itu. Iya, untuk Velo jika saja akhir cerita hidupnya tidak bahagia, maka Velo akan menggunakan semua kekuatannya untuk menikmati proses akhir cerita dengan bahagia, melakukan apa yang ingin dia lakukan, lalu mati dengan menyedihkan tapi tak memiliki hal yang di sesalkan.


Di seberang butik.


" Dasar bodoh! Seharusnya kau bisa merayu pembeli! Hanya karena uang sedikit yang kurang kenapa bisa gagal?! " Kesal Nyonya Fer sembari menunjuk satu pegawainya. Sebenarnya masalah itu cukup simpel, si pembeli ingin membukakan nominal belakang yang bisa di bilang tidak seberapa. Tapi karena pegawai itu tahu bagaimana Nyonya Fer dalam mengolah keuangan, dia begitu detail dan kalau ada yang kurang, maka dia akan meminta pegawainya bertanggung jawab penuh untuk menggantinya.


" Maaf, Nyonya. Tadi pagi anda kan sudah mengurangi harga dan kalau barusan di kurang lagi, kami berdua tidak ada uang untuk menggantinya. "


" Dasar kurang ajar? Ambil tasmu, dan pergilah saja sana! Aku tidak membutuhkan pegawai yang bodoh sepertimu! "


Pegawai wanita itu menangis pilu.


" Ka kalau begitu, saya minta upah saya ya Nyonya? Empat hari lagi kan hari upah di bayarkan. "


Nyonya Fer mengeryit kesal, upah? Padahal butik sedang sepi sekali seperti ini beraninya masih sempat membahas tentang upah.


" Tidak ada upah! Kalau kerjamu bagus pasti sudah aku berikan upahmu, tapi karena kau bodoh dan tidak produktif jadi untuk apa aku memberikan upah padahal jelas aku yang rugi! "


Pegawai itu jelas terkejut, padahal dulu butik sangat ramai saat dia bekerja, hanya karena ada butik di seberang sana saja butik menjadi sepi dan dia adalah orang yang di salahkan?


" Pergi sana! Ambil tasmu, jangan datang lagi kesini! "

__ADS_1


Pegawai itu hanya bisa menangis sedih tanpa bisa melawan. Padahal Ibunya sedang sakit dan dia butuh uang untuk membeli obat, tapi dia justru harus pulang dengan kabar sedih di pecat dari pekerjaan, bahkan gajinya yang sudah dia tunggu satu bulan ini tidak di bayarkan.


Velo mengeryit melihat pegawai butik Nyonya Fer keluar sembari menangis. Segera dia berjalan keluar, lalu memanggil pegawai butik itu.


" Hei, kau! " Panggil Velo.


Pegawai itu menyeka air matanya, berbalik dan menatap Velo.


" Ada apa, Nona? "


" Kenapa kau menangis? "


Pegawai itu terdiam sebentar.


" Aku di pecat. "


Velo tersenyum.


" Mau bekerja denganku? "


Pegawai itu menatap dengan tatapan tidak percaya.


" Anu, apakah saya boleh minta gaji di muka? Saya tahu saya tidak boleh seperti ini. Tapi sudah dua Minggu ini Ibu saya tidak sehat, upah yang saya tunggu dari butik tidak di bayar karena butik sepi. "


Ibu?


" Tentu saja, kenapa tidak? " Ucap Velo.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2