
Selena membuang nafas setelah keluar dari gedung sebuah perusahaan yang bergerak di bidang seni. Dia baru saja melamar kerja dan ternyata dia kesulitan dalam interview tadi. Semuanya benar-benar berjalan di luar kendalinya, bahkan Ibunya Rigo sama sekali tak membalas satu pun pesan yang dia kirimkan. Apakah benar pada akhirnya dia tidak bisa mendapatkan satupun yang dia inginkan? Padahal awalnya semua nampak sangat jelas, sekarang sudah sulit untuk di lihat lagi bagaimana dan apa yang akan terjadi dengan hidupnya benar-benar tidak bisa di tebak lagi.
Dia berjalan menuju kursi yang terdapat tak jauh dari sana, sebentar dia duduk dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Sungguh sangat sulit sekali menjalani hidup belakangan ini. Selena tahu kedepannya pasti akan sulit jika tidak memiliki cukup uang, jadi Selena memutuskan untuk mengambil langkah ekstrim.
" Tidak apa-apa, Selena. Semua akan baik-baik saja, kau hanya perlu melakukan apa yang ingin kau lakukan. " Gumam Selena lalu membuang nafas panjangnya. Ini adalah kali pertama dia mengalami perubahan hidup dan sangat menyakitkan, dia melihat orang tidak lagi fokus menatapnya, dia kehilangan Rigo yang biasanya kan mengejarnya dan melakukan apapun, dia kehilangan minat dari orang tua Rigo, dia kehilangan keharmonisan keluarga, dia kehilangan senyum bahagia yang biasanya selalu terlihat indah membentuk sebuah senyuman di wajahnya.
Entah ini ujian atau hukuman dari Tuhan, tapi apakah memang harus menderita ini? Selena menangis tanpa suara, dia membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Dia mengingat benar semua kesalahan yang selama ini dia lakukan tanpa dia sadari. Dia tidak memiliki teman, dia membatasi diri karena menganggap semua orang yang ingin dekat dan berteman akan menjadi hal yang merepotkan. Dia terlalu sombong dan yakin benar jika tidak akan merasakan kesepian sampai harus memiliki teman. Dia begitu menyukai tatapan iri dari gadis lain yang tertuju padanya, dia menyesali itu semua. Andai saja dia tidak begitu angkuh dan menganggap diri sebagai orang penting, berbaur dan memiliki banyak teman, pasti di saat begini dia akan memiliki sahabat yang siap mendengarkan keluh kesahnya bukan? dia akan memiliki teman seperti kebanyakan anak muda lain bukan?
Selena menyeka air matanya, sejenak mengalihkan pandangan dan dia tidak sengaja melihat ke arah dimana ada dua teman satu kelasnya. Sepertinya mereka baru saja pulang bekerja, dan Selena tersenyum menatap mereka berdua. Nampak sangat akrab, mereka berjalan sebagai bergandengan lengan. Tertawa bersama entah menceritakan apa, mereka sempat menatap ke arah Selena, tapi mereka tidak menyapa sama sekali karena yang mereka tahu adalah, Selena sangat menjaga jarak dengan teman sekolah jadi mereka tidak nyaman untuk menyapa Selena.
Selena tertunduk lesu, dia sungguh malu karena harus terlihat menyedihkan saat ada teman sekolahnya dulu.
***
Velo menenggak sebotol anggur beralkohol hingga ludes tak tersisa. Dia terus tertawa padahal niatnya adalah menangis. Terus bicara kesana kemari tidak jelas membuat Velo seperti orang gila dengan penampilan berantakannya. Rambutnya berantakan, lipstik yang ia gunakan juga berantakan, matanya sayu karena mabuk, dia benar-benar fokus dengan apa yang dia lakukan sampai ponselnya terus berdering tak sedetikpun Velo hiraukan.
Hari ini adalah hari dimana Ibunya meninggal. Malam dimana dia berlari dalam hujan menuju tempat di mana Ayahnya berada setelah mendengar kabar kalau Ayahnya tengah kembali ke desa untuk mengunjungi Ibunya. Tapi begitu menemui Ayahnya dengan harapan sebesar gunung dia bahkan hanya mendapatkan kekecewaan. Sedikit uang yang dia minta sampai mengemis tak dia dapatkan padahal uang itu ingin dia gunakan untuk membeli obat Ibunya. Velo berlari kembali ke rumah dengan air hujan yang menemaninya. Petir terus terdengar menggelegar, kilat di langit yang biasanya membuat anak kecil ketakutan bahkan tidak bisa membuat Velo merasa ngeri. Begitu sampai di rumah Velo hanya bisa semakin kecewa, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan semua orang, juga menyalahkan Ibunya yang tertidur dengan tenang, tak bergerak, tak menyahut saat di panggil, Ibunya sudah tidak bernyawa meski tubuhnya masih terasa hangat saat Velo memeluknya.
__ADS_1
Sudah seperti tradisi, Velo akan menggila di hati itu, hari dimana semua penderitaan menjadi berkali-kali lipat dia rasakan.
Ibu.....
Sosok bak malaikat, tapi juga seperti iblis menurutnya. Memberikan banyak cinta dan memberikan banyak janji untuk terus menemaninya, tapi nyatanya Ibu nya juga menjadi senjata paling menyakitkan, sosok yang paling jahat menurutnya. Bagaimana tidak? Setelah semua cinta di berikan kepada Velo, memberikan banyak janji dan pada akhirnya membuat Velo memiliki harapan besar, Ibunya meninggalkannya seorang diri, membuatnya menangis sedih, kesakitan setiap waktu karena merindukan Ibunya.
Seperti tercekik memori menyakitkan, tidak bisa bernafas, dadanya panas dan sakit, jantungnya berdegup sangat kencang hingga tiap detaknya seperti hunusan belati. Kepalanya di penuhi semua tentang Ibunya, senyumnya, cara dia menasehati, menggelengkan kepala saat Velo berbuat salah, mencium pipi, kening, dan hidung, mengusap air matanya, memijat kakinya saat Velo tidak tidur nyenyak karena kelelahan berjalan kaki untuk menjual minuman di jalanan. Mengobati lukanya saat Velo terjatuh atau terkena sesuatu hingga terluka, pelukan hangat Ibunya, aroma tubuh Ibunya, rambut panjangnya yang biasanya akan mengenai wajahnya saat mereka tidur bersama.
" Ah........! " Velo menampar wajahnya sendiri karena semua kenangan itu benar-benar sangat menyakitkan untuknya. Tidak juga hilang karena teringat ucapan Ibunya,
" Wanita jahat! Hahahaha......... "
Velo memukuli kepalanya karena kalimat itu benar-benar menggema di kepalanya. Andaikan saja bisa ada operasi untuk menghilangkan ingatan, Velo benar-benar ingin melakukannya, membuat hidup barunya dengan ambisi baru.
" Enyahlah! " Kesal Velo karena dia seperti mendengar suara Ibunya memanggil namanya terus menerus, mengatakan jika dia selalu bersama Velo, menemaninya. Velo tentu saja kesal, marah, dan juga sedih karena ingat satu fakta valid bahwa Ibunya sudah tidak ada, menemani di mana? Di hati seperti yang di katakan oleh drama? Tidak, bukan menemani seperti itu yang di inginkan Velo.
Greb!
__ADS_1
Velo terdiam saat sebuah pelukan ia rasakan. Velo mengangkat kepalanya untuk menatap pria itu, dan dia adalah Zegon. Tentu saja Velo sangat terkejut karena dia bisa masuk kesana, apartemen itu tidak bisa di masuki oleh sembarang orang.
" Jangan terkejut begitu, kau tahu aku bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan bukan? "
Velo tak mengatakan apapun meski dia masih ingin bertanya bagaimana bisa membuka kode pintunya?
" Aku khawatir sejak pagi tadi, kau pasti akan begini di tanggal ini kan? "
Velo masih terdiam.
" Pejamkan matamu, di dekatmu hanya ada aku sekarang. Memori yang menyakitkan hanyalah masa lalu, dan kau tahu itu tidak akan pernah bisa kau ulang lagi bukan? "
Disisi lain.
Rigo tengah menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ingin segera menemui Velo. Dia mendapatkan telepon dari Nyonya Laurent yang tidak bisa menghubungi Velo, Nyonya Laurent memberitahu Rigo bahwa hari ini adalah hari yang paling menyakitkan untuk Velo jadi dia meminta Rigo untuk menemaninya.
Bersambung.
__ADS_1