
Rigo menarik paksa tangan Velo untuk mengikuti langkah kakinya, menuju ke lift, lalu berjalan lagi untuk menuju di mana mobil Rigo di parkiran. Semua itu Rigo lakukan dengan tujuan agar Velo ikut bersama dengannya, tujuannya adalah untuk mengunjungi Nyonya Fer dan melihat bagiamana keadaannya.
Velo, istrinya sendiri yang meminta Rigo untuk menemui Ibunya Selena. Rigo benar-benar paham benar maksud Velo karena dia sendiri juga sudah pernah mengatakannya. Velo pikir Rigo akan dengan mudahnya menerima dan pergi menemui Nyonya Fer, lalu mengobrol dengan Selena, dan pada akhirnya mereka jatuh cinta lagi? Hah! Velo benar-benar ingin menyingkirkan dirinya dengan cara begini?
Sakit, dan kecewa, sungguh begitu Rigo rasakan tapi dia juga tidak bisa marah apalagi menyalahkan Velo. Hati istrinya masih begitu beku, masih kebal dengan perasaan tulus jadi dia harus bisa lebih memahami dan menerima apapun yang akan di katakan Velo. Tapi yang tidak akan Rigo terima adalah, dia tidak suka jika istrinya sendiri menyodorkan dirinya kepada wanita lain setelah tujuannya akan selesai, atau bisa di bilang Rigo sudah tidak ada gunanya lagi untuknya.
" Sayang, kalau kau berjalan secepat ini bisa-bisa aku akan akan terbang. " Protes Velo dengan nafas terengah-engah.
Rigo menghentikan langkahnya, menatap Velo yang memang terlihat lelah hingga dahinya berkeringat. Rigo menghela nafas menyesali apa yang dia lakukan, dia benar-benar sangat kecewa juga marah dengan tujuan Velo yang ingin membuat dia juga Selena bersatu kembali. Dia ingin memprotes tindakan Velo dengan cara yang tidak secara langsung tapi malah justru membuat Velo tidak senang.
" Maaf, maafkan aku. "
Velo memaksakan senyumnya, bukan tidak mengerti kenapa Rigo menjadi seperti ini, tapi bisakah dia mengatakan kepada Rigo sekali lagi bahwa akan lebih baik jika di antara mereka tidak boleh ada cinta? Tidak! Ini sudah terlanjur, terlambat! Rigo, dia benar-benar sudah menyimpan perasaan itu untuknya entah sejak kapan.
" Jalan perlahan saja, toh kita juga akan sampai ke mobil kan? "
Rigo tersenyum meski menarik bibirnya membentuk lengkungan itu sangat sulit di saat suasana hatinya benar-benar sedang tidak baik.
Rigo membuang nafasnya, menggenggam tangan Velo dan perlahan membawanya kembali berjalan.
__ADS_1
Selama di perjalanan Velo maupun Rigo tak banyak mengatakan apapun. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Hari ini, Rigo benar-benar bekerja dengan mood yang buruk, dia bahkan beberapa kali harus mendengarkan ocehan Ayahnya karena beberapa pekerjaan yang dia kerjakan tidak beres dengan sempurna seperti biasanya. Rigo juga harus tertekan karena Ibunya terus mengirim pesan meminta Rigo menyampaikan kepada Velo untuk mereka bertemu, dan mengobrol. Sungguh hari yang sulit, dan semua itu bersumber dari kalimat Velo pagi tadi yang ingin memberikan ruang kepada Rigo dah Selena.
Begitu sampai di rumah Selena, Rigo hanya bis masuk ke dalam sana degan membuka gerbang sendiri. Entah kemana satpam rumah dan juga pembantu di rumah Selena, rumah juga sangat sepi seperti gak berpenghuni, tapi karena ada dua mobil di dalam sana, Rigo tahu berarti Selena dan Ibunya berada di dalam rumah.
Velo, dia terdiam menatap rumah itu karena rumah itu benar-benar membuatnya mengingat apa yang seharunya tidak dia ingat. Cat tembok rumah itu sudah berbeda warna, beberapa juga sudah di dekorasi termasuk halaman rumah dan garasi yang semakin lebar. Tapi, apa yang terjadi sebelas tahun itu membuatnya merasakan kembali betapa menyakitkan dan betapa bencinya dia kepada rumah yang dia lihat ini.
Rigo terdiam memperhatikan wajah Velo yang tidak baik, segera dia merangkul Velo, mengecup kepalanya.
" Tidak apa-apa, kita kan berdua sekarang. "
Sebenarnya Rigo sendiri tidak tahu apa yang di pikirkan Velo, karena cerita dari Nyonya Laurent adalah cerita yang berasal dari sudut pandang dirinya. Velo tidak mejelaskan secara detail apa saja kesakitan yang dia alami di masa lalu sehingga Rigo hanya bisa menebak lewat mimik Velo yang terjadi saat tiba-tiba karena ekspresi Velo yang tiba-tiba biasanya akan lebih nyata seperti apa yang sedang dia pikirkan.
Rigo mengetuk pintu, lalu menekan bel supaya lebih cepat untuk di bukakan pintu. Benar saja, tak lama setelah itu pintu terbuka, dan Selena sendiri yang membuka pintunya.
Selena membulatkan matanya, dia terkejut bukan main melihat Rigo dan Velo di rumahnya. Tidak, tidak, tidak! Bukan itu, tapi penampilannya sekarang benar-benar sangat tidak pantas untuk menemui pria. Selena, dia menggunakan daster Ibunya karena baju yang dia gunakan tadi terkena air kencing Ibunya dan agar cepat selesai dia ganti menggunakan baju Ibunya, rambutnya yang dia ikat, di gunung ke atas dengan berantakan, lalu wajahnya yang polos tanpa make up, dia yang tidak mandi dari pagi mana mungkin siap menerima kedatangan Rigo? Di tambah dia harus melihat cara Velo tersenyum saat melihatnya, dia pasti sedang menertawakan penampilannya bukan?
Benar, Velo memang menertawakan Selena. Sebelas tahun lalu, hari ini adalah hari ulang tahun Selena, dia datang ke rumah itu dengan baju yang seperti gelandangan, belum mandi, penampilan berantakan dan bau. Dunia seperti sedang membuat Velo merasa bahagia karena keadaannya kini berbaik. Dia bisa dengan bangga menggunakan pakaian mahal, penampilan yang elegan, sedangkan Selena sama persis seperti dirinya waktu itu.
__ADS_1
" Maaf mengganggu waktumu, Selena. Aku dengar Ibumu sedang sakit jadi aku datang untuk melihat keadaannya. " Ucap Rigo yang tida ingin berlama-lama karena dia juga melihat sendiri betapa Selena tidak nyaman karena Rigo melihat penampilan Selena hari ini.
Selena hanya mengangguk menahan tangis sebisa mungkin. Dia berjalan menuju kamar Ibunya, lalu mempersilahkan masuk dan tak berani melihat Rigo ataupun Velo. Begitu mereka berdua sudah berada di dalam kamar Ibunya, Selena dengan segera berjalan cepat menuju kamarnya untuk mandi, dan berganti baju.
" Bagaimana kabar anda Bibi? " Tanya Rigo, dengan tatapan hangat dia berjalan mendekati Nyonya Fer yang sepertinya terlihat sangat emosi begitu melihat Velo berada di dana. Velo tersenyum dengan tatapan penuh maksud membuat Nyonya Fer semakin kesulitan mengendalikan diri.
" Uhk! Ha, ba, "
Velo terkekeh mendengar Nyonya Fer yang ingin bicara tapi tidak jelas.
" Ve..... "
Velo segera menutup bibirnya karena Rigo memintanya untuk jangan seperti itu melalui tatapan matanya.
" Bibi, aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi, tolong berusahalah untuk cepat sembuh, semangat ya Bibi? "
Aduh, mulutku gatal sekali, aku ingin mengatakan banyak hal untuk mengutuknya, membuat kedua bola matanya yang suka membelalak itu lari keluar.
Bersambung.
__ADS_1