
" Berhentilah terus menghela nafas, hembusan naafasmu benar-benar menganggu tahu tidak? " Kesal Ayahnya Rigo karena sedari tadi yang di lakukan Rigo hanyalah menghela nafas dengan wajah malas. Yah, bagaimana tidak malas? Sekarang dia tengah berada di pesat yang di adakan oleh keluarga Greff. Rigo benar-benar kesal, tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri karena dia tidak tahu harus bagaimana bereaksi nanti kalau saja dia bertemu Velo.
" Aku ke toilet dulu. " Ujar Rigo.
" Iya, tapi jangan lama-lama. "
" Hem. "
Begitu sampai di kamar mandi, Rugi terdiam di depan wastafel setelah mencuci tangannya. Sungguh dia benar-benar tidak nyaman berada di tempat itu, rasanya ingin pulang tapi juga penasaran bagaimana kabar Velo sekarang.
Suara pintu toilet terdengar, dan seorang pria yang tak asing sama sekali keluar dari dalam sana dengan wajah dingin dan datar seolah keberadaan Rigo tak terlihat olehnya.
" Wah, sial sekali karena harus melihatmu. " Ujar Rugi saat pria yang dia maksud, Zegon berjalan mendekati wastafel sebelah Rigo dan mencuci tangannya.
" Hei, kau tidak sedang berpura-pura tidak melihatku kan, Tuan Greff? "
Zegon membuang nafasnya, dia beralih menatap Rigo dengan tatapan yang begitu dingin.
" Jangan bersikap kurang ajar di hadapanku, ingatlah baik-baik kalau perusahan keluargamu sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan keluargaku. Kalaupun ingin kurang ajar, ada tempat dan ada waktunya tersendiri. " Ujar Zegon.
Rigo tersenyum ketir, kalau boleh jujur sebenarnya dia sama sekali tidak perduli karena perasaan marahnya begitu sulit untuk dia tangani. Membayangkan kalau sebulan ini Velo bersama dengan Zegon, berpelukan, saling memeluk dan mencium, melakukan hubungan suami istri, melakukan aktivitas lainnya bersama, bukankah semua itu sangat menyebalkan untuknya?
" Jangan membawa kerja sama perusahaan keluarga kita, kau bukan orang yang seperti itu kan? Toh kau sudah mendapatkan Velo. Bagaimana rasanya? Kau seperti memenangkan piala? Apa itu membuatmu bahagia? "
__ADS_1
Zegon mengeryit karena dia agak sedikit bingung dengan ucapan Rigo. Tapi demi memastikan akhirnya dia mengatakan satu kalimat agar memperjelas benar atau tidaknya apa yang sedang dia pikirkan.
" Pantas saja wanitaku tidak memilihmu, ternyata kau pria yang sok jagoan. "
Rigo mengepalkan tangan menahan kesal.
" Kau bahkan sampai datang kemari, apakah sangat merindukan wanitaku sampai ingin mati? "
Rigo membuang nafas kasarnya, menatap Zegon dengan tatapan mengancam.
" Kenapa aku harus begitu tersiksa hanya karena wanita? Walaupun aku tidak sekaya kau, tapi hanya dengan wajahku saja aku sudah cukup untuk mendapatkan seberapa pun banyaknya wanita yang aku inginkan. "
Zegon tersenyum sembari menggeleng keheranan.
Love, kau dimana? Pria tengil, brengsek ini ternyata dia sangat mencintai mu. Kenapa kau memilih untuk menghilang? Jika memang kau harus bersama pria itu, maka akan aku izinkan hanya untuk di kehidupan ini, karena di kehidupan kita selanjutnya, kau hanyalah milikku seorang.
Rigo membersihkan bahunya, bahu di mana Zegon menyentuhnya tadi.
" Hanya karena kau bisa mendapatkan Velo makanya kau bisa bicara dengan angkuh dan sombong seperti itu? Demi Tuhan, aku menyumpahimu tidak akan hidup lama bersama Velo. Di kehidupan kali ini, kalau aku tidak bahagia kalian juga tidak boleh bahagia! " Rigo membuang nafas, mengendurkan dasi, lalu mencoba untuk menegakan dirinya sebentar sebelum kembali ke acara milik keluarga Greff.
Setelah Rigo merasa cukup tenang, dia kembali ke acara, dan ternyata acaranya juga sudah di mulai. Entah apa yang di bicarakan keluh Tuan besar dari keluarga Greff itu, Rigo sama sekali tak mendengarkan karena sedari tadi matanya sibuk mencari di mana keberadaan Velo yang belum muncul, begitu juga dengan Zegon. Rigo membatin di dalam hati, apakah karena pembicaraan antara dia dan Zegon tadi sehingga Zegon merasa khawatir dan tidak membiarkan Velo muncul?
Semua bertepuk tangan meriah menyambut anak sekaligus menantu yang sedang hamil untuk di perkenalkan kepada semua tamu undangan. Tadinya Rigo sama sekali tidak perduli, tapi karena terganggu dengan tepuk tangan yang semakin meriah, akhirnya mau tidak mau dia ikut melihat ke arah di mana semua mata tamu undangan terarah.
__ADS_1
Deg!
Rigo terkejut bukan main melihat Zegon dengan seorang wanita yang perutnya agak membuncit berjalan mendekati Tuan besar Greff. Zegon nampak tak berekspresi, tali wanita disebelahnya tersenyum lebar dengan bahagia, tangannya memeluk lengan Zegon seolah mereka adalah pasangan suami istri.
" Rigo, Ayah tidak salah lihat kan? " Tanya Ayahnya Rigo.
Rigo masih terdiam, dia takut salah sangka, dia takut ini salah paham makanya diam dan minat dengan seksama, mendengarkan dengan baik apa yang sebenarnya terjadi.
" Ini adalah putra keduaku, dan ini adalah menantuku, istri dari Zegon Greff. Ini adalah alasan kenapa aku mengadakan pesta penyambutan penambahan Anggita keluarga baru kami. "
Semua orang kembali bertepuk tangan dengan begitu bahagia. Tapi, wajah Zegon benar-benar tidak terlihat bahagia. Dia seperti tak merasakan apapun, dia tidak perduli akan kebahagiaan sebesar apa memiliki anak, toh anak itu bukan anaknya bersama dengan Velo kan? Kalau saja Velo tidak memintanya untuk ini, dia benar-benar tidak kan mau berdiri di sana mendengarkan ucapan orang tuanya, mulut Greta yang terus bertanya dan terus menerus memberitahu bahwa bayinya sedang bergerak, rasanya dia seperti ingin menenggelamkan diri saja.
Rigo bangkit, dia masih terlihat begitu kaget karena dia tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat juga dia dengar. Jika itu adalah istrinya Zegon, lalu kemana Velo? Jelas waktu itu Zegon sudah bercerai dengan istrinya, lalu kenapa semua bisa menjadi seperti ini? Tidak, Tidak! Jadi selama ini dia telah salah paham terhadap Velo.
Zegon bisa melihat Rigo menatap ke arahnya dengan tatapan terkejut. Meskipun di dalam hatinya tidak rela, tapi Zegon berharap Rigo dapat bersama Velo dan berusaha untuk membahagiakannya dan berada di sampingnya agar Velo tak terus merasakan sepi di dalam hidupnya.
Ingat, hanya di kehidupan ini kau bisa memiliki wanitaku.
Rigo dengan segera meninggalkan acara itu, dia mengabaikan Ayahnya yang terus memanggil, dia mengabaikan orang yang tidak sengaja dia tabrak, dia mengabaikan suara semua orang dan terus fokus dengan apa yang dia pikirkan.
Velo, kenapa kau tidak mengatakan apapun? Kenapa kau membuatku salah paham? Kenapa kau tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi supaya aku tidak menyalahkan mu.
" Maaf, maafkan aku, Ve. " Ucap Rigo yang kini sudah sampai ke mobilnya, dan segera dia melajukan langkah kakinya menuju apartemen Velo berharap dia akan menemukan Velo di sana.
__ADS_1
Bersambung.