
Begitu kembali ke apartemen, Velo duduk terdiam di balkon dengan tatapan kosong. Dia terus memikirkan semua hal yang sudah dia lakukan, dia mengingat satu persatu kejadian yang terjadi selama hidupnya. Air matanya, rasa sakit, kekecewaan, marah, perasaan seperti itu selalu dia rasakan di setiap hari-harinya.
Yang paling berat sekali adalah saat dimana dia harus bersekolah, tinggal seorang diri, mencari makan sendiri, semua serba sendiri padahal usianya saja baru tiga belas tahun. Semua uang yang dia bawa dari desa, uang yang di berikan Ibunya Renata sudah ia bayarkan untuk sekolah sampai dengan selesai. Untuk makan dia harus memulung, atau kerja menjadi pencuci piring jika ada penjual makanan yang kesalahan. Tidak ada tempat tinggal, Velo kadang tidur di pinggir jalan, di taman kota, pernah di kamar mandi sekolah yang pengap dan gelap. Pernah tengah malam tidur kehujanan, kepanasan, rasanya memang sudah berlalu begitu lama, tapi tetap saja masih sangat segar di ingatan.
Setiap detik, setiap menit, setiap dia merasakan sedih, kesakitan, yang dia ingat adalah wajah Ayahnya, wajah Nyonya Fer, dia membenci sepasang wajah itu hingga tanpa sadar sepasang wajah itu membuat Velo tak ma kalah saat dia sakit, tak mau kalah walaupun sudah dua hari tidak makan, tak mau kalah saya tubuhnya terdengar sinar matahari, tak juga merasakan dingin saat kehujanan. Siapakah yang tidak menderita jika harus merasakan seperti itu? Awalnya juga Velo mengasihani dirinya sendiri, tapi lama kelamaan dia berpikir bahwa, mengasihani diri sendiri, menangis kekurangan diri hanya akan membuat diri menjadi lemah. Velo bangkit, dia perlahan tumbuh menjadi gadis yang kuat, dia sama sekali tak memerlukan belas kasih orang lain, dia benar-benar kokoh dengan dua kaki jenjangnya itu.
Kabar terakhir yang dia dapatkan tentang Selena adalah, gadis itu sedang mengikuti sebuah kencan online. Yah, dia pasti berpikir dengan menikahi seorang pria bisa membuatnya sedikit lega karena biar sedikit dia bisa mendapatkan uang dari pria.
Nyonya Fer, dia masih seperti sebelumnya. Dia tak bisa melakukan apapun dengan leluasa karena tubuhnya yang terserang stroke. Ayah Fer, pria itu jelas dia tahu bagaimana kondisinya.
Sadar benar jika pada akhirnya Velo tidak bahagia, maka Velo memutuskan untuk berhenti. Dia tidak akan lagi mengusik hidup mereka semua, entah akan menderita atau bahagia, semua itu tentu saja ada di tangan mereka, sesuai dengan perjuangan mereka.
Untuk Zegon dan juga Rigo, Velo akan memutuskan hubungan dengan keduanya sebisa mungkin setelah semuanya mulai tenang. Dia tidak ingin melihat Zegon berseteru dengan keluarganya, dan akhirnya harus melihat Zegon celaka. Rigo, pria baik dan hangat itu seperti begitu tersiksa dengan perasaan yang tak terbalas untuknya. Velo berharap kedua pria itu hidup dengan baik, bahagia dengan jalan mereka sendiri. Sementara Velo, dia akan tetap menjalani hari-hari seperti air mengalir. Tidak apa-apa tidak di cintai atau mencintai. Tidak apa-apa harus hidup apa adanya, semua juga tidak akan dia perlukan pada akhirnya.
__ADS_1
" Sudah, semua sudah berakhir, Velove Agata. Semua sudah selesai, terimakasih karena sudah berjuang, terimakasih karena sudah kuat, terimakasih karena selalu memiliki hati sekeras baja. Sudah saatnya, jadi mari kita akhiri semuanya. "
Velo bangkit dari duduknya, sebentar menatap langit malam yang gelap, memejamkan mata dan menikmati udara malam yang sejuk, juga tenang. Dia tersenyum masih dengan mata tertutup, lalu perlahan membuka matanya.
" Ibu, bagaimana kabarmu? " Tanya Velo kepada langit malam, lalu kembali tersenyum.
***
Rigo terdiam di sudut ruangan memegangi ponselnya, dia menunggu panggilan atau pesan dari Velo. Ini sudah akan pagi, tapi Velo masih saja tak mengirimkan pesan atau menghubunginya.
Dia benar-benar tidak ingin seperti ini, dia masih ingin bersama dengan Velo tidak perduli bagaimana keadaannya. Asalkan bisa bersama dengan Velo, bahkan dia akan rela melakukan apapun. Tapi bagiamana dengan Velo? Bagaimana kalau dia yang tidak ingin untuk bersama dengan dirinya?
Rigo menggenggam erat ponselnya, lalu membuang ke sembarang arah. Dia benar-benar dilema, kesal, juga marah. Kenapa semua harus menjadi seperti ini? Kenapa dia harus mencintai wanita yang bahkan tidak ingin mengenal cinta? Kenapa dia tidak di berikan hati untuk bisa menentukan dnegan siapa dia akan jatuh cinta?
__ADS_1
Rigo bangkit dari duduknya, mengambil kunci mobilnya dan berjalan cepat keluar dari apartemen untuk menuju parkiran mobil. Begitu sampai di sana dia dengan segera mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen Velo.
Tidak berani masuk, dia hanya bisa memarkirkan mobilnya saja dan terdiam sembari berpikir. Apa yang akan dia katakan kalau dia bertemu dengan Velo nanti?
***
Selena segera terbangun dari tidurnya setelah suara alarm ponsel terdengar. Ini sudah waktunya dia membereskan rumah, lalu memandikan Ibunya barulah dia bisa pergi untuk membeli sarapan. Sebenarnya hari ini dia memiliki jadwal untuk pertemuan dengan pria yang dia kenal melalui aplikasi kencan, tapi setelah memikirkannya lagi, dia mengurungkan niatnya karena dia juga tidak akan sanggup kalau saja nanti ada orang yang mengetahuinya. Bukankah mereka akan mempermalukan dirinya?
Selena bergegas bangkit, hari ini dia harus menyelesaikan kegiatannya lebih cepat dari biasanya karena pukul sembilan nanti akan ada tamu, calon pembeli mobil. Iya, Selena yang sudah kehabisan uang tentu saja tidak ada pilihan lain selain mobil Ibunya, karena kalau mobilnya masih belum selesai cicilan. Selain untuk obat Ibunya, dia juga harus membayar cicilan Bank milik Ibunya, lalu cicilan mobilnya, biaya air, biaya listrik, juga yang lainnya. Sebenarnya buka tidak ingin bekerja, hanya tahu sendirilah kondisinya bagaimana.
" Bu, nanti orang yang akan membeli mobil Ibu datang. Ibu jangan merasa keberatan ya? Aku juga memberikan harga di bawah pasaran supaya cepat terjual. Uang yang kita punya sudah tinggal sedikit, jadi tolong jangan marah. "
Nyonya membuatkan matanya, dia bicara tidak jelas. Dia benar-benar tidak ingin Selena menjual mobilnya, dia ingin mengatakan kepada Selena bahwa dia masih memiliki simpanan berupa emas yang pernah di berikan Ibunya, tapi sayang sekali untuk bicara dia masih tidak bisa.
__ADS_1
Bersambung.