
Setelah kembali ke apartemen, Velo memutuskan untuk mengemasi seluruh pakaiannya. Semua uang, juga aset yang dia dapatkan dari Zegon sudah dia siapkan dati jauh-jauh hari untuk membangun sebuah yayasan bagi anak terlantar. Memang Velo lakukan secara diam-diam, dan yayasan itu dia bangun atas nama Zegon. Tahu, Zegon bukan pria perhitungan yang akan mengingat apa yang sudah dia berikan apalagi memintanya kembali, tapi Velo yang merasa jika yang itu, segala kemewahan itu seharunya bukan miliknya, maka Velo mutuskan untuk menyumbangkan sebagian besar ke beberapa panti asuhan, dan juga para anak penderita penyakit serius.
Butik yang dia buka, tentu saja akan tetap berjalan seperti biasanya. Bagaimanapun nasib para pegawai juga bergantung dari sana, tapi untuk meneruskannya, Velo akan meminta sahabatnya dari desa untuk mengurus, yaitu Renata. Cita-cita Renata adalah menjadi seorang desainer, tapi karena Ibunya sakit keras saat dia akan kuliah, Renata memutuskan untuk membatalkan niatnya dan mengubur dalam-dalam cita-citanya itu.
Selama hidup di kota, menjadi wanita yang di cintai Zegon dengan begitu banyak uang, tentu saja dia banyak membantu Renata dan juga Ibunya yang sudah bangkrut sekitar enam tahun lalu. Meski menolak batuan dari Velo, nyatanya mereka juga tidak ada pilihan lain pada akhirnya. Seakan tak ingin berhenti membalas Budi, Velo akan kembali memberikan kebahagiaan bagi Renata dan Ibunya. Mereka bisa datang ke kota besar, menjaga butik miliknya, bahkan bisa mengelola sesuka hati mereka, layaknya butik itu adalah butik mereka.
Setelah selesai berkemas, Velo menatap photo pernikahannya bersama Rigo. Dia tersenyum tipis, meraih photo itu dan mengusap gambar Rigo di sana. Entah apa yang sedang di lakukan pria itu, tapi besar sekali harapan Velo agar Rigo benar-benar dapat menemukan kebahagiaannya sendiri.
" Tidak apa-apa kalau kau akan marah padaku seumur hidupmu, tapi tolong jangan lupa untuk tetap bahagia. Jangan lupakan bahwa sebesar apapun cintamu terhadap orang lain, kau harus tetap mencintai dirimu lebih dari pada itu. "
Velo meletakkan photo pernikahannya di dalam boks yang sudah dia siapkan, lalu menatap jemarinya dimana ada cincin yang di pasangkan Rigo hari itu. Cincin berlian yang begitu indah, memiliki desain yang mahal, bagaimana mungkin dia asal membelinya? Velo tersenyum tipis, melepaskan cincin itu dari jarinya, menatapnya lagi sebentar, lalu mengecup cincin itu dengan lembut.
" Terimakasih untuk semuanya, Rigo. Aku melepaskan cincin ini, aku melepaskan kebersamaan kita, aku melepaskan kepahitan hidupmu karenaku. Kembali berjalan di arah yang benar, sementara aku akan berjalan ke arah kemana kakiku ingin melangkah. Tidak ada hidup yang berakhir hanya karena kau tidak bisa menerima cinta dari yang kau cintai. Semua akan membaik asalkan kau mencobanya, dan aku yakin kau bisa melakukan semua itu. " Velo meletakkan cincin miliknya di atas photo pernikahannya, lalu menutup dengan penutup boks.
Velo bangkit, meraih kopernya dan menyeretnya untuk dia bawa keluar dari apartemen. Dia berjalan menelusuri lorong apartemen dengan senyum pahit, perasaan sedih yang tidak bisa dia jelaskan.
__ADS_1
Pada akhirnya, dia tidak memiliki apapun, dia tidak mendapatkan apapun, dia tidak bahagia, dan orang lain juga tidak bahagia. Kehidupan, sudah banyak sekali penderitaan di dalam hidup ini yang telah di lewati oleh seorang Velove Agata. Jatuh, bangun, terluka, sembuh, terluka lagi, sembuh, seperti itu terus menerus setiap waktu. Kali ini Velo mendapatkan satu pelajaran hidup yang begitu mengesankan untuknya. Hidup adalah dua hal yaitu, bahagia dan sedih. Tidak bisa memilih salah satunya, karena bahagia dan sedih akan datang bergantian atau bahkan bersamaan. Sejauh ini bukan Velo tidak merasakan kebahagian, hanya saja dia yang tidak memiliki kepekaan sehingga di saat dia seharunya merasa bahagia, dia hanya merasakan hampa.
Dulu dia memiliki Zegon yang sangat mencintainya, tapi obsesi untuk membalas dendam membuatnya tak bisa menikmati masa indah itu.
Rigo, pria itu memberikan yang sama seperti Zegon. Tapi lagi-lagi dia tida mampu merasakan apapun karena hatinya yang tertutupi oleh kebencian.
Hingga kini semuanya masih sama, Velo masih tak bisa merasakan apapun. Tapi, akal sehat Velo sudah mulai bisa dia gunakan untuk sedikit memahami perasaan orang lain.
Begitu sampai di luar gedung apartemennya, Velo berbalik menatap gedung itu, lalu tersenyum.
Di sudut lain.
Rigo terus terdiam, mengabaikan banyaknya panggilan masuk dari Ayah, Ibu, juga Faro si sahabatnya. Dia kembali tidak masuk bekerja hari ini sehingga semua orang menjadi khawatir. Kalau sehari itu masih bisa di mengerti oleh Ayahnya, tapi Rigo sudah tiga hati tidak bekerja, juga mengabaikan panggilan telepon darinya, dari Ibunya juga. Sampai akhirnya orang tua Rigo meminta Faro untuk menghubungi, tapi juga tidak mendapatkan jawaban.
Akhirnya orang tua Rigo berpencar untuk mencari Rigo, Ayahnya pergi ke apartemennya Rigo, Ibunya Rigo mencoba untuk mencari Rigo di apartemen milik Velo.
__ADS_1
Ayahnya Rigo langsung membuka pintu apartemen Rigo karena dia memiliki card yang bisa mengakses pintu apartemen Rigo.
" Kenapa gelap sekali? " Gumam Ayahnya Rigo lalu menyalakan lampu, dan begitu lampu menyala, dia benar-benar di buat terkejut dengan melihat Rigo duduk di sudut ruangan dengan penampilan yang kacau. Hampir saja dia berteriak histeris, dia pikir putranya meninggal karena wajahnya pucat, tapi saat mata Rigo bergerak menatap ke arahnya, Ayah Rigo benar-benar bisa bernafas lega.
" Kenapa kau ini? Kau mabuk? " Ayahnya Rigo dengan segera membantu Rigo untuk bangkit, lalu membawanya untuk duduk di sofa. Dia membuang nafas kasarnya karena kesal melihat putranya mabuk sampai pucat seperti mayat.
" Kenapa kau ini? Kau sakit, atau apa? "
Rigo terdiam, tapi Ayahnya terus menatapnya sehingga mulutnya tak bisa menahan apa yang sedang dia rasakan.
" Dia tidak mencintaiku, dia tidak menginginkan apapun lagi dariku, dia juga tidak ingin bersama lagi denganku. Itu salahku yang sudah memakinya, aku mengatakan hal yang menyakitkan makanya dia tidak menghubungiku untuk datang menemuinya, sekarang bagiamana? Aku tidak ingin berpisah dengannya, tapi aku juga takut kalau menemuinya dan melihat apa yang tidak ingin aku lihat. "
Ayahnya Rigo menghela nafas, sekarang dia mengerti apa yang terjadi dengan Putranya. Perasaan mencintai yang berlebihan, perasaan berharap yang besar, membuat putranya tak bisa menerima penolakan.
" Kau adalah laki-laki, Rigo. Kalau memang dia tidak mencintaimu, yang harus kau lakukan adalah membuatnya jauh cinta. Kalau tidak juga, maka paksa dia untuk mencintaimu, singkirkan dengan gagah penghalangmu, jangan meringik seperti banci di sini. "
__ADS_1
Bersambung.