
Nyonya Elena mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Rigo. Tujuannya ya sudah jelas untuk meminta Rigo datang ke rumahnya membawa wanita yang katanya adalah selingkuhan anak brengseknya itu. Lebih baik begitu saja kan? Dia sudah cukup sakit kepala dengan urusan sendiri, di tambah masalah perselingkuhan anaknya, rasanya ingin mencekik orang tapi tidak ada yang mau di cekik. Ketimbang merepotkan diri untuk menemui Rigo yang keberadaanya saja entah berada di mana, maka duduk santai menikmati sakit kepalanya sebentar juga bukan hal lumayan di banding naik mobil keliling mencari Rigo.
Di apartemen.
Rigo yang kala itu sedang menikmati kegiatan panas siang harinya terpaksa sudah meraih ponselnya sembari menikmati pergerakan Velo di atas tubuhnya. Sejenak matanya membulat kaget karena yang menghubunginya adalah Ibunya. Sial! Pasti ada masalah kalau Ibunya sudah sampai menghubunginya.
" Tunggu, tunggu! Ibuku menelepon. Aku angkat dulu sebentar, jangan bergerak! "
Velo tersenyum tipis dan benar-benar menghentikan kegiatannya.
" Ada apa Bu? "
Kau dimana?
" Disini. "
Disini di mana?!
" Di apartemen. "
Apartemen siapa?
Rigo menghela nafas sebentar, kesal sekali rasanya! Padahal sedang enak-enaknya tapi Ibunya malah mengganggu dengan pertanyaan yang aneh.
" Ibu sedang kenapa sih? "
Kepalamu! Pulang cepat! Sekalian bawa wanita itu kalau kau tidak ingin membuat darahku semakin naik dan membuatmu tidak bisa tidur dengan nyenyak!
Rigo terdiam sebentar, wanita itu? Maksudnya Velo kah? Rigo menatap Velo sebentar, lalu kembali berbicara untuk mencari alasan.
" Aku sedang ada kegiatan bersama teman-temanku, aku juga tidak mengerti apa yang Ibu bicarakan jadi aku tutup dulu teleponnya. "
Rigo.............!
Rigo tersentak seraya menjauhkan ponselnya karena suara Ibunya benar-benar membuat telinga berdengung sakit.
" Ibu, hubungi aku setengah jam lagi, ada hal penting yang harus aku kerjakan. "
Tidak bisa!
" Oke, aku akan datang sendiri satu jam lagi! "
__ADS_1
Rigo, jangan pikir Ibu tidak bisa menemukanmu ya! Katakan kau di mana sebenarnya, lalu cepat datang kemari!
" Ibu, tolong mengertilah aku sedang berada di antara hidup dan mati! Aku ini bisa gila kalau- Ah.....! " Rigo membulatkan matanya kelepasan melenguh saat Velo tiba-tiba mengerakkan tubuhnya. Di seberang telepon juga sama terkejutnya hingga salah tingkah sendiri dan segera memutuskan sambungan teleponnya.
" Kenapa kau begini?! "
Velo terkekeh, benar-benar lucu sekali melihat cara Rigo berbicara dengan Ibunya. Hah..... Jujur saja dia iri, dia tidak tahan dengan hubungan baik antara Ibu dan anak yang selalu membuatnya teringat dengan Ibunya, jadi Velo menggerakkan pinggulnya berharap Rigo berhenti bicara dengan Ibunya.
" Kalau kau tidak suka ya sudah, aku pergi ke kamar mandi duluan. "
" Eh, tunggu! Aku kan tidak bilang tidak suka! " Rigo berdehem, menghindari tatapan Velo karena dia merasa canggung serta malu juga dengan ucapannya sendiri.
" Lanjutkan, kau bisa melanjutkan yang barusan. "
" Tapi dari cara bicaramu tadi sepertinya Ibumu sedang marah ya? Kau masih memiliki mood? "
" Mungkin Selena mengadu. Urusan mood tidak perlu di jawab dengan mulut kan? "
Velo tersenyum tipis, menghela nafas, lalu menundukkan tubuhnya untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Rigo, dan menuntaskan apa yang seharusnya mereka tuntaskan.
Di kediaman Nyonya Elena.
" Selena, lebih baik, kau pulang saja dulu. Nanti kalau Rigo memberi kabar baru Bibi akan mengabarimu. "
Memang benar apa yang di katakan Ibunya, sepertinya dia juga hanya bisa kembali ke rumah dengan harapan yang tidak akan mendapatkan kenyataan yang dia inginkan. Padahal angannya sudah begitu tinggi, di kamar di tempat yang mewah hingga membuat para kaum hawa lainnya merasa iri, menikah dengan meriah sehingga para wanita tidak berhenti merasa kagum padanya, menjadi balerina terkenal, istri dari pewaris perusahaan besar, Suami yang tampan, hidup yang nyaman dan berkecukupan. Sebenarnya bagaimana bisa semua begitu cepat berubah?
Selena menghentikan langkah kakinya.
Velo......
Iya, semenjak gadis itu muncul di dalam kehidupan Rigo semua menjadi berubah. Orang tuanya menjadi kesulitan, dia menjadi kesulitan, Rigo di ambil, calon mertuanya yang terlihat tidak begitu perduli, kehidupan macam apa ini? Selena jelas tidak menginginkan kehidupan kacau seperti ini.
Di dalam rumah.
" Horrison! "
" I iya, sayang? "
Nyonya Elena menutup matanya perlahan mengatur nafasnya yang menderu karena dia sudah cukup lama menahan emosi yang membuatnya sakit kepala di tambah mengubungi anaknya, tapi ternyata anaknya sedang berbuat mesum dengan wanita. Begitu sudah membaik, dia langsung membuka matanya, menatap suaminya dengan tajam dan marah sama seperti yang di takutkan Ayahnya Rigo itu.
" Semua ini gara-gara kau! Kalau saja kau tidak memiliki sifat brengsek, mana mungkin putra kita akan jadi seperti ini?! "
__ADS_1
Rigo! Kau yang enak aku juga yang kena sasarannya kan?! Dasar anak tidak tahu berbakti! Begitu bertemu denganmu nanti, aku benar-benar akan menendang telur mu sampai pecah!
***
" Bagaimana menurutmu? " Tanya Rigo setelah memberitahu tentang pesan yang di kirimkan Ibunya Rigo untuk membawa Velo ke rumah orang tuanya.
Velo menghela nafas. Sebenarnya orang tua Rigo tidak ada dalam daftar rencananya, tapi bagaimanapun Selena sudah menyeret mereka, di tambah mereka adalah orang tua Rigo, maka Velo hanya bisa menghadapinya dengan berani.
" Ya sudah, tinggal temui saja mereka. " Ujar Velo dengan santai.
" Maksudku, bagiamana kita akan menjelaskan hubungan kita? Story love di antara kita tidak ada kan? Bagaimana kalau kita membuat story sendiri? Misalnya kita bertemu di sebuah taman hiburan, lalu berkenalan, BLA BLA...... "
Velo terkekeh.
" Kenapa kau tertawa? Kita harus memiliki rencana yang matang! Orang tuaku bukan orang yang mudah untuk di bujuk. Ayahku, sangat dingin dan tegas. Ibuku sangat mudah marah dan memberikan hukuman juga seenaknya saja memotong gaji saat aku tidak patuh. "
Velo menghela nafas.
" Rencana? Aku sudah punya rencana. "
" Apa? Rencana bagaimana? "
" Rencana ku ya tentu saja tidak ada rencana. Gunakan saja mulut dan otak secara spontan untuk menjawab dan bertindak. Karena sesuatu yang sudah di tata dengan rapi biasanya akan hancur karena otak terlalu fokus mengingat. "
Rigo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Terserah kau saja. " Ujar Rigo yang sudah tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Dua jam kemudian.
Tuan Horison dan Nyonya Elena duduk terdiam memandangi Velo dan Rigo yang duduk bersebelahan dengan tatapan dingin. Tuan Horison yang menyimpan kekesalan karena harus menerima kemarahan istrinya padahal bukan dia yang berbuat, sementara Nyonya Elena yang sedang sibuk dengan segala pemikirannya.
" Katakan, bagaimana bisa kalian menjalin hubungan? "
" Kami bertemu di acara ulang tahun teman ka- "
" Kami berdua bertemu di tempat tidur setelah sama-sama mabuk dan melakukan hubungan suami istri tanpa kami sadari. "
Tuan Horison membulatkan matanya menatap Velo karena begitu terkejut dengan jawaban yang mengejutkan, begitu juga dengan Rigo.
Velo, bunuh saja aku sekalian!
__ADS_1
Bersambung.