
Begitu keluar dari rumah istri dan anaknya, Ayah Fer berjalan kaki untuk mencari toko perhiasan. Iya, dia sudah memiliki dugaan kalau nanti pada akhirnya dia akan tetap di salahkan makanya dia sudah menyembunyikan beberapa perhiasan milik istrinya untuk dia jual dan sebagai bekal selama tinggal di kampung halamannya. Rencana dia akan menaiki Bus ke sana subuh nanti, jadi dia harus memiliki uang terlebih dulu karena dia juga sudah lapar, di tambah dia juga sedang tidak enak badan.
Begitu menemukan toko perhiasan, Ayah Fer menjual gelang, kalung, dua cincin, juga gelang kaki milik istrinya. Lumayan banyak uangnya, cukuplah untuk dia bertahan hidup selama di desa kurang lebihnya satu tahun kalau dia menekan dirinya sebisa mungkin untuk berhemat. Begitu mendapatkan uang itu, dengan segera Ayah Fer menuju ke tempat di mana orang menjual makanan, tapi sebelum sampai di sana dia memasukkan sekitar lima lembar uang ke saku celananya khusus untuk ongkos, dan makan sampai ke desa nanti. Sedangkan yang yang ada di tasnya, dia akan gunakan yang itu untuk melanjutkan hidup di desa.
Dengan rakusnya Ayah Fer memakan semua makanan yang ia pesan, lalu setelah selesai dia istirahat sebentar. Di bawah pohon, di bangku panjang dia duduk di sana sembari menunggu Bus yang akan datang sekitar jam lima pagi nanti. Ini sudah pukul sepuluh malam, jadi dia hanya bisa bertahan di sana sampai Bus sampai dari pada dia membayar atau sewa hotel untuk beberapa jam saja.
" Dasar wanita menyebalkan, bisanya hanya marah saja, kebiasaan itu juga jadi menular ke putriku. Sekarang kau urus saja diri sendiri, toh kalau sembuh nanti kau juga hanya tahu memarahiku saja. " Ayah Fer membuang nafasnya, mengingat betapa marahnya Nyonya Fer saat melihat Ayah Fer megambil beberapa perhiasannya. Untungnya Nyonya Fer masih tidak bisa bicara, saat Selena pulang tadi dia pasti sedang berusaha untuk mengatakan kepada Selena bahwa dia mengambil perhiasan miliknya sampai menangis seperti itu.
Sudahlah, dia juga terpaksa melakukannya. Selama hidup bersama dengan Istri juga anaknya, Ayah Fer sama sekali tidak di bebaskan untuk mengelola uang. Semuanya di handle oleh Nyonya Fer, bahkan dia yang ingin memberikan uang kepada Ibunya di desa saja harus main kucing-kucingan.
Aya Fer membuang nafasnya, dia memeluk erat-erat tas yang dia gunakan untuk menyimpan uang. Tapi yang tidak dia sadari adalah, sedari tadi dia sudah di ikuti oleh dua orang pria tak di kenal. Kedua pria itu awalnya berjalan seperti biasa seolah tidak memiliki niat jahat, tapi begitu sampai berada di dekat Ayah Fer, mereka langsung dengan cepat merampas tas Ayah Fer lalu kabur secepat mungkin.
Tentu saja Ayah Fer terkejut, dia berteriak sembari berlari mengejar dua pria itu, tapi usianya yang sudah tidak muda lagi benar-benar tidak bisa mengejar dua pria muda itu.
" Tolong! Ada yang merampas tas ku! Tolong! " Beberapa orang juga ikut berlari untuk menolongnya, mengejar pria yang sudah merampas tas milik Haha Fer, tapi hasilnya nihil, mereka berdua tak terkejar sama sekali.
" Sial! Sialan! " Maki Ayah Fer menjambak rambutnya sendiri, memukuli angin dengan perasaan marah sampai dia menangis.
__ADS_1
" Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku kembali ke rumah, Aku harus bagiamana?! Ah, sialan! " Ayah Fer mengusap wajahnya dengan kasar, frustasi, dia benar-benar frustasi dan marah, sedih luar biasa. Tidak mungkin untuknya kembali karena cepat atau lambat Selena juga akan tahu apa yang dia lakukan, istrinya juga pasti tidak akan menerimanya kembali kan?
Ayah Fer meraung-raung seperti anak kecil, dia tidak kuasa menahan kesedihannya karena uang itu jelas tidak akan kembali lagi padanya.
Di sisi lain.
Nona, uangnya sudah berada di tangan kami, situasi juga aman untuk kami, juga untuk Nona sendiri.
Velo tersenyum miring. Bagus, semua benar-benar seperti tebakannya, pria seperti Ayah Fer adalah pria yang manipulatif, dia tidak akan membiarkan dirinya sendiri rugi, tidak segan dan canggung dalam berpura-pura hingga terlihat begitu natural kebahagiannya selama ini. Padahal, Ayah Fer seperti sedang membohongi dirinya sendiri, membohongi anak dan istrinya, dia juga membohongi seisi dunia dengan kebahagian semu yang di perlihatkan.
Baik.
Velo mengakhiri sambungan teleponnya. Dia menghela nafas karena semua yang dia lakukan sudah akan mencapai titik akhir. Sekarang hanya tinggal menunggu beberapa waktu lagi, semua akan segera berakhir, dan dia juga ingin hubungan tidak jelas antara dia dan orang sekitar di akhiri.
Velo menaikkan tatapannya ke langit, dia yang kini hanya menggunakan dress tidur yang berbahan satin seakan tak merasakan apapun saat angin menerpa kulit tubuhnya. Dia tersenyum, entah ini karena dia masih belum selesai atau bagaimana, tapi anehnya dia bahkan tidak bisa merasa bahagia setelah hampir delapan puluh persen rencananya berjalan lancar.
" Ibu, sebentar lagi semua akan berakhir. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. Haruskah aku melanjutkan hidup padahal selama ini aku merasa tidak hidup? Haruskah aku berpura-pura bahagia agar terbiasa dan dengan sendirinya akan merasa bahagia? Aku dilema, Ibu. Aku bingung saat ada orang lain yang mengatakan hidup itu berharga, tapi kenapa ya aku merasa akan lebih berharga lagi kalau tidak hidup? "
__ADS_1
Rigo terdiam, dia sudah cukup lama berada di belakang Velo, mendengarkan semua yang di katakan Velo dengan jelas. Padahal dia yakin Velo sudah tidur tadi, tapi kenapa juga masih sempat bangun dan duduk di balkon apartemen yang begitu banyak angin menerpa kulitnya? Rigo berjalan mendekat, dia memeluk Velo dadu belakang, mengecup tengkuk Velo dan mengerjakan pelukannya.
" Kenapa kau bangun? " Tanya Velo.
" Karena tidak ada kau. "
***
Selena mengeryit bingung minat ada tas di depan pintu rumahnya. Entah siapa yang meletakkan di sana, tapi sepertinya tas itu adalah tas milik Ayahnya. Selena menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan apakah ada orang atau tidak. Lalu dia meraih tas itu dan memperhatikan dengan jarak yang dekat.
" Kenapa Ayah meninggalkan tasnya di sini? Apa Ayah merasa canggung saat ingin kembali? " Selena menghela nafas, tapi setelah itu dia membuka tas itu karena penasaran, dan betapa terkejutnya Selena bahwa di dalam tas itu terdapat uang.
" Ayah, apa Ayah sengaja memberikan uang ini untuk berobat Ibu? " Gumam Selena.
" Tapi kenapa Ayah hanya menakan bel dan tidak masuk? "
Bersambung.
__ADS_1