
" Dasar tidak berguna! Seharian pergi sama sekali tidak mendapatkan pekerjaan, kau cuma jalan-jalan melepas penat saja kan? Iya kan?! Kalau sulit melamar sebagai pegawai biasa di sebuah perusahaan, seharunya kau cari kerja di tempat lain! Jadi tukang bersih-bersih, satpam, atau apapun yang mau menerimamu! Dasar malas, tidak ada usaha! "
Ayah Fer hanya bisa diam mendengarkan ocehan istrinya yang begitu menyakitkan hati juga telinga. Padahal dia sudah berusaha, berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari pekerjaan, tapi memang di usianya sulit sekali mencari kerja jadi harus bagaimana lagi? Padahal dia lelah sekali, seharian tidak sempat makan, baru pulang ke rumah dan harus mendengarkan istrinya marah-marah.
" Dari pada pergi tidak ada gunanya, lebih baik besok kau bereskan saja butik. Pilih barang yang sudah lama tidak terjual, jual saja setengah harga. Butik pusat gunakan untuk diskon besar-besaran, pastikan semua barang habis agar kita bisa bernafas sebentar sembari mencari jalan keluar. "
" Sendirian? "
Nyonya Fer membuang nafas kasarnya, lalu melotot menatap Ayah Fer dengan mimik marah.
" Memang kau mau ajak siapa?! Sudah tahu semua pegawai bekerja di butik sialan itu, dan kau masih tidak paham?! "
Ayah Fer terdiam sebentar, mengambil nafas agar dia bisa sedikit lebih tenang. Butik ada enam, batang di sana juga bukan sedikit, mengumpulkan barang yang sudah lama tidak terjual dari satu butik saja akan memakan waktu cukup lama. Enam butik, membereskan butik pusat untuk pusat diskon, bahkan satu Minggu juga tidak akan cukup kalau dia kerjakan sendiri.
" Mari kita bayar satu orang saja untuk membantuku, setidaknya bisa selesai dalam lima hari kalau ada yang membantu. "
Nyonya Fer terperangah tidak percaya dengan apa yang di katakan suaminya.
" Lima hari?! Kau mau apa dengan lima hari, hah?! Tentu saja satu hati sudah harus selesai, lusa buka butik untuk mulai diskon! "
Ayah Fer menggeleng keheranan sembari memijat pelipisnya. Padahal istrinya tahu benar usianya sudah tidak muda, ketahanan serta tenaga yang ia miliki benar-benar jauh berbeda dari saat dia masih muda. Tidak bisakah dia di mengerti bahwa dia bukan robot?
" Aku tidak akan sanggup melakukannya, aku bukan robot sayang. "
Nyonya Fer menatap dengan kesal.
" Dari awal menikah cuma bisa menumpang hidup, tahunya hanya bantu menikmati uang tapi tidak tahu cara mendapatkan uang. Tahu malulah sedikit, Fer. "
__ADS_1
Ayah Fer mengepalkan kedua tangannya menahan marah.
" Sudah cukup bicaranya Dinda? Sudah cukup terus menghinaku? Mulutmu itu apa tidak lelah terus memaki ku? "
" Kalau kau tidak mau di maki, cari uang sana! Kalau pun tidak mampu lakukan perintahku supaya kau terlihat berguna! "
" Cukup, Dinda! Kau ini benar-benar tidak pernah menghargai ku sama sekali! "
" Menghargai pria sepertimu adalah hal bodoh! "
Selena menutup kedua telinganya sembari menangis tersedu-sedu. Ini adalah kali pertama dia mendengar orang tuanya bertengkar hebat seperti ini. Ayahnya yang biasanya hanya akan terus terdiam kini membantah dan membentak balik Ibunya jelas karena hatinya sudah sangat lelah. Kenapa sebenarnya semua jadi seperti ini?
Selena terdiam sebentar, dia masih mendengar perdebatan kedua orang tuanya yang terus membicarakan soal uang.
Uang?
Iya, sedari dulu hidup keluarganya memang tidak pernah sesusah ini. Kalaupun butik sepi, setidaknya tidak akan sampai seperti ini, dan tidak akan berlangsung lama juga.
Benar, lagi-lagi karena wanita itu. Kalau saja dia tidak membuka butik di dekat Butik Ibunya, pasti lah butik Ibunya masih berjalan lancar seperti biasanya, Rigo juga pasti akan tetap bersamanya kan?
" Dasar wanita jahat! Padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun padamu, padahal aku sudah bersikap sabar dan berharap kau akan berhenti dengan sendirinya saat kau menyadari akan kesalahanmu. Kau tidak bisa diam lagi, aku harus menyingkirkanmu. " Gumam Selena yang masih menutup kedua telinganya karena tidak ingin mendengar pertengkaran kedua orang tuanya terus.
***
" Kau benar-benar akan membuka satu butik lagi? " Tanya Rigo karena tak sengaja mendengar Velo berbicara dengan seseorang untuk membicarakan tentang rencana butik barunya. Gila sih, padahal baru satu bulan dan Velo sudah akan memiliki tujuh butik?
Velo tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
" Kau berniat mengelola butik itu selamanya? "
Velo terdiam sebentar, lalu memaksakan senyumnya.
" Tidak ada yang tahu bagiamana masa depan, tapi jika aku menjawab di situasi sekarang, maka aku akan menjawab tidak. Aku berencana pergi jauh setelah semuanya selesai. Butik itu akan tetap berjalan, tapi bukan aku yang akan mengelola, melainkan orang yang berjasa dalam hidupku. "
Rigo terdiam menyembunyikan perasaannya dengan menatap ke arah lain. Pergi jauh? Kemana? Lalu bolehkah dia ikut serta?
" Kenapa bertanya begitu? Kau tidak memiliki niat untuk membujukku memberikan butik itu kepada calon mertuamu kan? " Tanya Velo dengan maksud meledek saja.
Rigo membuang nafasnya. Untuk apa dia melakukan itu? Tentu saja ada hal lain yang dia pikirkan sendiri, tapi kalau dia mengatakan apa yang sebenarnya dia pikirkan, Velo pasti tidak akan nyaman dan menerima apa yang akan dia katakan nantinya.
" Kau ingin pergi, apakah ingin menemui mantan priamu dan membangun keluarga bahagia kalian berdua? "
Velo terkekeh geli mendengarnya. Membangun sebuah keluarga? Hah....
" Suamiku tersayang, kehidupan menikah, membangun keluarga bahagia, memiliki anak, membesarkan anak bersama, sama sekali tidak ada di otakku. " Velo berjalan mendekati Rigo, lalu memeluk Rigo dari belakang.
Rigo, pria itu benar-benar hanya bisa larut dengan perasaan yang sulit untuk dia jelaskan. Velo, dia benar-benar lebih rumit di banding yang dia pikirkan. Kehidupan yang banyak di impikan oleh wanita pada umumnya, nyatanya malah sama sekali tak pernah Velo inginkan, bahkan memikirkannya saja dia tidak pernah.
" Apa kau tidak menyukai anak-anak? "
Velo melepaskan pelukannya. Berjalan untuk mendekati pembatas balkon apartemennya, dan membuang nafasnya di sana.
" Anak-anak? Sejauh ini aku tidak pernah memikirkan tentang anak-anak. Kalau di tanya menyukai anak-anak atau tidak, maka aku akan menjawab, tidak suka anak-anak. Anak-anak hanyalah makhluk kecil yang lemah, polos dan mudah di bodohi, tidak bisa menyuarakan isi hatinya karena menurut orang dewasa anak-anak tidak memiliki kelayakan untuk benar. Aku benar-benar heran dengan pasangan menikah yang terburu-buru ingin memiliki anak. Namun saat anak lahir, mereka tidak tahu bagiamana menjaga anak, bertengkar yang jadi sasaran anak, sibuk menunjukan bahwa orang tua benar dan anak salah, bahkan ada banyak kasus orang tua yang membunuh anak. Anak hanyalah makhluk malang, jadi aku tidak punya alasan untuk menyukainya. "
Rigo menatap Velo yang berucap tanpa menunjukan ekspresi sedih sama sekali.
__ADS_1
Velo, kenapa aku merasa kau seperti orang yang memiliki trauma parah? Sebenarnya seperti apa masa lalumu?
Bersambung.