Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Lelah Dengan Situasi


__ADS_3

" Ibu, berapa kali aku bilang kalau ingin buang kotoran, tolong berikan aku kode! Sampai kapan Ibu akan membuang kotoran sembarangan seperti ini! Aku lelah, kotoran Ibu sangat bau! Ibu, aku sudah lelah, jadi tolong sembuhlah! Uang pemberian Ayah juga sudah akan habis karena obat Ibu sangat mahal. Aku bahkan harus makan roti tanpa selai setiap hari agar bisa makan dengan baik, tapi ternyata Ibu malah jadi semakin parah seperti ini. " Selena menjatuhkan dirinya dan duduk di lantai sembari menangis tersedu-sedu. Dia benar-benar lelah sekali harus seperti itu setiap harinya, dia harus ke pasar untuk membeli makanan karena jika memesan online harga makannya sangat mahal. Dia sudah mengalah dengan memakan roti saja tanpa selai, tapi pekerjaan menjaga Ibunya benar-benar menguras tenaga sehingga sebungkus roti tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat pada tubuhnya.


Nyonya Fer terdiam sembari menitihkan air mata, sungguh dia tidak sengaja karena dia juga kesulitan untuk menahan diri agar tidak membuang kotorannya sembarangan. Dia juga kasihan, tidak tega dengan putrinya yang begitu kesulitan untuk merawatnya. Pagi Selena akan membeli sarapan untuknya, setelah itu harus menyeka tubuh Ibunya sampai bersih, lalu memijat tangan dan kaki, belum kalau dia ingin buang air kecil dan buang air besar sangat membutuhkan Selena sampai Selena tidak bisa beristirahat sebentar saja.


Dia juga baru tahu kalau ternyata perhiasan miliknya yang di curi oleh suaminya di gunakan untuk membiayai hidupnya. Dia menyesal sekali karena sudah membuat Ayah Fer tidak tahan dan memilih pergi. Dia benar-benar menyesal karena terus menghina dan merendahkan suaminya sendiri selama ini. Kalau saja dia bisa sembuh dengan cepat, yang akan dia lakukan adalah mencari suaminya dan meminta dia untuk kembali hidup bersama, dia juga janji akan memperlakukan Ayah Fer lebih baik dari sebelumnya.


Setelah cukup puas menangis, Selena bangkit dari posisinya. Berjalan untuk mengambil sebuah masker penutup agar tak bisa mengendus bau kotoran Ibunya. Sungguh sebenarnya dia lelah sekali, karena bukan hanya harus membersihkan kotoran Ibunya, tapi juga harus membersihkan tempat tidur. Mau tida mau dia hanya bisa menjalani kehidupan yang menyedihkan ini karena mau bagaimanapun dia juga menyayangi Ibunya, di tambah sekarang dia benar-benar merindukan Ayahnya, membutuhkan Ayahnya juga. Selena juga sama menyesalnya dengan Nyonya Fer. Dia pikir Ayahnya akan kembali bersama mereka karena yang dia tahu Ayahnya tidak memiliki siapapun di kota. Tapi dia salah, tekanan yang di berikan olehnya dan juga Ibunya sudah benar-benar membuat Ayah Fer sangat muak, dan hal ini di sadari benar oleh Selena sekarang.

__ADS_1


Ayah Fer, dia sendiri sekarang memilih untuk menjadi pemulung. Memang awalnya dia merasa pekerjaan ini sangat memalukan, tapi setelah nekad dan lapar dia rasakan, pada akhirnya dia melakukan pekerjaan itu demi perutnya yang sakit menahan lapar. Hari pertama dia mendapatkan uang di basah lima puluh dan itu lumayan cukup untuk makan sehari, besoknya dia bekerja lebih giat, berjalan seharian hingga mendapatkan hampir seratus. Sejak itu dia menjadi lebih semangat karena saat menerima upahnya sendiri, ada perasaan puas uang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Dia menghemat sebisa mungkin karena dia merasa tubuhnya memerlukan obat.


" Lagi-lagi harus makan nasi dan sayuran saja. " Ayah Fer menghela nafas, dia menekan bagian tubuh di mana ulu hatinya berada, sudah sejak istrinya sakit waktu itu dia merasakan sakit di bagian itu, tapi karena beberapa masalah termasuk istrinya yang sakit, dia jadi tidak memiliki sedikit saja uang untuk bisa memeriksakan sakitnya. Tidak ada pilihan lain juga, dia hanya bisa menunggu uangnya terkumpul dan bisa membeli obat nanti.


Meskipun sudah sangat bosan makan hanya dengan nasi yang di beli bersama dengan sayur, dia hanya bisa memakan makanan itu hingga habis berharap perutnya tidak akan merasakan sakit lagi. Dia pikir perutnya sakit karena jarang makan sebelumnya, tapi semenjak dia menjadi pemulung sebisa mungkin dia makan dua atau tiga kali sehari dengan cara memberi dua bungkus nasi dan sayur akan dia minta terpisah sehingga bisa dia gunakan untuk nanti lagi. Tapi hasilnya tetap sama, ulu hatinya masih sangat sakit terlebih saat dia menarik nafasnya.


Pagi harinya, Ayah Fer bergegas bangun untuk mencari botol plastik bekas dan juga barang bekas lainnya yang bisa dia setorkan kepada bosnya. Dia berjalan cukup bersemangat hingga bisa membuat rasa sakitnya tak begitu dia rasakan, sudah dapat setengah karung, dan hari juga sudah mulai siang. Ayah Fer mulai berjalan pelan sembari menekan ulu hatinya yang terasa begitu sakit. Mungkinkah karena dia belum sarapan? uang tabungannya memang ada di kantung celananya, tapi dia sendiri masih ingin mencari botol bekas dan dia setorkan baru dia akan membeli makan. Tapi sialnya, untuk berjalan satu meter saja dia begitu kesulitan karena rasa sakit di ulu hati benar-benar membuat seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah mobil mewah melintas dan berhenti di sampingnya yang tengah berjalan di pinggiran jalan. Kaca mobil berwarna hitam itu sedikit terbuka dan beberapa lembar uang keluar dari sana. Yah, tentu saja orang yang ada di dalam sana sengaja memberikan uang itu. Ayah Fer menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba melihat siapa orang yang berada di dalam mobil tapi tak bisa dilihat karena kaca mobil itu sangat gelap.


Ayah Fer menunjuk dirinya sendiri untuk bertanya apakah uang itu untuknya atau bukan, dan orang yang berada di dalam mobil mengetuk kaca dua kali sebagai jawaban bahwa benar uang itu adalah untuknya. Dengan perasaan senang dia menerima uang itu, membungkuk untuk mengucapkan terimakasih dan menatap mobil mewah itu pergi dengan perasaan yang begitu berterimakasih.


" Dasar bodoh, untuk apa berterimakasih sampai seperti itu? Aku justru ingin menyiksamu, kau terlihat sakit, tidak akan menyenangkan kalau kau mati cepat. Gunakan uang itu untuk berobat, biarkan aku tahu kau sakit apa, supaya aku bisa pelan-pelan membantumu agar kau bisa merasakan bagaimana sakitnya saat bagian dari tubuhmu tidak baik. " Rupanya orang di dalam mobil itu adalah Velo, dia tak sengaja lewat sana dan melihat Ayah Fer berjalan kaki dengan ekspresi menahan sakit.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2