
Tuan Horison menatap Rigo dengan tatapan dingin, tajam, menandakan kalau dia benar-benar marah dengan Rigo. Yah, pastilah dia marah karena wanita yang di bawa Rigo pulang ke rumah adalah wanita tidak benar. Terbukti dengan cara dia menjawab pertanyaan istrinya, Nyonya Elena. Raut wajahnya yang angkuh, tatapan matanya yang tidak kenal takut, pakaiannya yang terbuka, hanya orang paling bodoh, orang tidak punya otak, dan orang mabuk sampai sekarat yang akan menyukai wanita semacam itu. Ujar Ayahnya Rigo menggerutu di dalam hati, sebenarnya yang lebih membuatnya menggerutu kesal adalah, istrinya pasti akan sangat sakit kepala dan nanti dia lagi yang akan terkena imbasnya.
Nyonya Elena terdiam tanpa ekspresi, sementara Velo terus tersenyum seolah ucapannya barusan tak dia sesali sama sekali.
" Kau murahan. " Ujar Ibunya Rigo masih tanpa ekspresi.
Rigo menelan salivanya sendiri karena merasa bingung bagaimana menangani situasi yang kacau gara-gara mulut Velo yang suka sekali asal bicara. Berbeda dengan Rigo, Velo justru tersenyum semakin lebar membuat Rigo dan juga Tuan Horrison membatin heran, bingung.
" Terimakasih, Bibi. Aku senang sekali akhirnya bisa mendapat pujian yang tidak biasa itu. " Velo kembali tersenyum.
" Hanya orang bodoh yang akan memuji dengan kalimat seperti itu. " Masih tanpa ekspresi wajah Nyonya Elena.
" Oh, salah ya? Kalau itu adalah kalimat hinaan, maka aku juga sudah terbiasa mendengarnya jadi tidak membuatku merasa rendah dan murah. "
Nyonya Elena menghela nafas, sebentar dia mengarahkannya ke arah lain sebelum kembali menatap Velo yang tidak terlihat segan dan canggung seperti Selena.
" Seorang wanita seharunya tahu benar bagiamana rasanya dikhianati, kekasihnya di rebut oleh wanita lain, kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menyakiti sesama wanita padahal kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik tanpa harus merebut pria milik wanita lain. "
Velo menggerakkan satu kakinya, meletakkan di atas satu kakinya. Dengan posisi tubuh Santi Velo kembali tersenyum, menatap Nyonya Elena dengan tatapan seolah mengatakan untuk membencinya lebih banyak lagi, melebihi yang dia pikirkan.
" Aku paling suka melihat wanita lain sedih, menghancurkan hubungan yang romantis agar menjadi tragis. Masalah mencari pria yang lebih baik, aku hanya bisa menunggu waktunya aku bosan dengan Rigo, iyakan sayang? "
Rigo sedari tadi terdiam tak berani berkata-kata karena semua yang di katakan Velo benar-benar seperti membawanya naik rollercoaster sampai jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai bermunculan membasahi kulitnya.
" Bagaimana rasanya menjadi wanita yang tidak tahu malu? Aku penasaran sekali, bagaimana ya orang bisa terbentuk menjadi karakter sepertimu? "
Velo tersenyum lagi-lagi. Pertanyaan Nyonya Elena benar-benar sangat menusuk, tapi juga seperti ingin mencari tahu melalui jawaban dari Velo. Tentu saja Velo tidak perlu menceritakan apapun, tidak perlu membuat orang lain merasa melas, karena yang harus di lakukan Velo adalah merendahkan dirinya sendiri, membuat orang membencinya, membuat orang enggan dekat dengannya.
" Senang, aku senang dan bahagia sekali. Hanya karena alasan itu tidak ada yang lain, Ibu mertua. "
Nyonya Elena tak menunjukan ekspresi apapun.
" Kapan aku menerimamu sebagai menantu? "
" Yah, kalau Bibi tidak mau ya tidak apa-apa. "
" Kenapa kau menyukai putra brengsek ku? "
Velo terkekeh, dan dengan santai dia menatap kembali Nyonya Elena.
" Aku dan dia sama brengseknya, jadi kami serasi kan? "
Tuan Horison memegangi dadanya, sementara Rigo hanya bisa diam dan memikirkan bagaimana caranya dia akan mejelaskan kepada Ibunya nanti? Ayahnya, pria itu juga terus menatapnya dengan tajam seolah menyalahkan dirinya, seperti ingin meremas jantungnya sampai berhenti berdetak.
__ADS_1
Velo, aku benar-benar salut dengan mulutmu! Tolong cekik aku sampai mati setelah ini di banding mati di tangan Ayahku sendiri!
Ujar Rigo di dalam hati menahan perasaan yang sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata saja.
Nyonya Elena melipat kedua lengannya, dia menajamkan matanya dengan mimik dingin untuk membuat Velo tertekan dan gelisah, tapi ternyata Velo justru tersenyum dengan matanya yang tak lepas sehingga mata mereka tetapi bertemu seolah tengah perang dingin.
" Baiklah, jawab saja pertanyaan ku selanjutnya dengan singkat. "
" Baik. "
" Sejak kapan hubungan kalian di mulai? "
" Satu bulan ini. " Jawab Velo.
" Kapan rencananya kalian akan mengakhiri hubungan kalian? "
" Tunggu kami sama-sama bosan. " Velo tersenyum setelahnya.
" Betapa banyak uang yang kau dapatkan dari putraku? "
" Hanya sebuah mobil, sisanya aku hanya mendapatkan cairan miliknya saja. "
Tuan Horison semakin gelisah sampai kepalanya sakit, Rigo yang sedari tadi ingin tenang juga harus memegangi dadanya menahan jantungnya yang begitu berdebar kencang.
" Apa hobimu? "
" Menghabiskan uang. "
" Kegiatanmu sehari-hari? "
" Makan, minum, tidur, pergi bekerja, pulang begitu seterusnya. "
" Sejauh apa hubungan kalian? "
" Sudah jauh, lebih jauh dari pada yang Bibi pikirkan. "
" Wanita macam apa ini, Rigo?! Bawa pergi sana! Kau mau Ayahmu menghitung detik menuju kematian?! " Kesal Tuan Horison yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Rigo tersentak, segera dia menjauh dari Ayahnya hingga tubuhnya membentur tubuh Velo.
" Begini, Ayah, Ibu, sebenarnya aku dan Velo sudah menikah, hanya saja pernikahan kami beli di daftarkan ke negara. " Terpaksa sudah Rigo mengatakan itu karena untuk menghindari kemarahan Ayah dan Ibunya.
Tuan Horison dan Nyonya Elena menatap Velo dan Rigo bergantian dengan mata bertanya-tanya.
__ADS_1
" Pulanglah! "
" Apa? " Rigo menatap Ibunya bingung karena reaksi Ibunya benar-benar tidak seperti yang dia pikirkan.
" Pulang sana! "
" I iya! " Rigo bangkit dengan segera, tapi karena Velo masih duduk dengan santai dia segera meraih lengan Velo untuk membuatnya berdiri.
" Kami pulang dulu, Ayah, Ibu. "
" Sampai jumpa lagi, Ayah dan Ibu mertua. Besok kalau kita bertemu lagi, aku akan menggunakan pakaian yang lebih baik. "
Rigo segera membawa Velo keluar dari sana, tentu saja karena dia tidak ingin orang tuanya semakin di buat emosi oleh mulut Velo.
Tuan Horison segera mendekati istrinya, menyentuh lengan istrinya perlahan dengan mimik ngeri.
" Sayang, Rigo kan yang berselingkuh, yang salah adalah dia karena memiliki wanita tidak berotak seperti itu. Nanti aku akan menasehati dia supaya meninggalkan wanita aneh itu, kau jangan memikirkannya ya? Sayang, aku tahu kau sedang kesal sekarang, jadi aku- "
" Aku suka. "
Tuan Horison mengeryit menatap istrinya yang kini tersenyum.
" A apa? Suka apa? "
" Wanita itu, aku suka dia. "
" Hah? "
***
" Kenapa kau bicara seperti itu? "
" Memang kenapa? "
Rigo terdiam, matanya terus menatap kedua bola mata Velo yang benar-benar tidak tahu apa arti dari tatapan itu.
" Kau tahu apa maksudku. "
Velo menghela nafas, lalu tersenyum.
" Aku sudah biasa di hina, di rendahkan, di tatap dengan sinis, di benci, aku benar-benar terbiasa jadi yang aku tahu hanyalah bagaimana caranya membuat orang lain semakin membenciku, aku tidak tahu bagiamana membuat orang lain menyukaiku karena aku merasa itu tidak perlu untukku. "
Bersambung.
__ADS_1