Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Tiga Tamparan Untuk Satu Rencana


__ADS_3

Selena, gadis itu memukau dengan kesan anggun, cantik, manis, juga lembut. Dia tersenyum, tatapan matanya yang seperti tatapan mata peri membuat banyak pasang mata menatap dirinya dengan kagum. Tahu, dia juga sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu, jelas dia merasa bangga akan dirinya. Iya, setidaknya jika tidak mampu menjadi balerina terkenal, setidaknya dia bisa menjadi model dan menyihir jutaan mata untuk merasa kagum padanya. Boleh saja dia bukan model profesional, tapi caranya berjalan, tersenyum, menatap, mengatur mimik wajahnya cukup membuat orang lain merasa kagum.


" Bagus, sayang! Kau harus menjadi seperti itu agar bisa menghasilkan uang, juga semakin di kenal. " Gumam Nyonya Fer tersenyum bahagia, dia sempat mendengar selentingan bahwa orang yang paling menonjol di acara ini akan mendapatkan kesempatan menjadi model pakaian yang akan di selenggarakan di luar negeri.


Selena tersenyum semakin lebar membuat wajah imutnya memancar dan meluluhkan pasang mata semakin kagum dan gemas dengan wajah Selena. Tapi, begitu sesosok gadis dengan kalian serba merah, tubuh tinggi berisi, rambut tergerai indah, senyum seksi dengan tatapan mata dingin tapi begitu terkesan anggun. Dia berjalan berlawanan arah dengan Selena membuat Selena kehilangan senyum sesaat. Velo, dia benar-benar memiliki aura yang tidak bisa di bandingkan dengannya. Seksi, kuat, tangguh, wajah yang tegas, senyuman yang anggun tapi dingin, sorot matanya yang dalam, cara dia mengerakkan baju saat berjalan, semuanya benar-benar memiliki karakter berbanding terbalik dengan Selan. Ibarat Selena adalah malaikat, maka Velo adalah gadis iblis yang cantik.


Semua orang kini memfokuskan tatapan mata mereka kepada Velo dengan tatapan kagum, mereka bahkan berdebar hanya dengan lirikan mata yang di berikan Velo.


" Perempuan brengsek ini, dia benar-benar ingin membuat putriku kalah! Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Aku harus apa? " Nyonya Fer berniat ingin meneriaki Velo dengan sebutan gadis rendahan, tapi dia tidak jadi melakukanya meski sudah membuka mulutnya. Bagaimanapun dia juga takut kalau nanti efeknya adalah orang justru akan menganggapnya sengaja melakukan itu karena dia adalah Ibunya Selena.


Tuan Fer yang ada di sana hanya bisa terdiam, menatap putri pertamanya dengan tatapan menyesal. Dia ingat benar saya Ibunya Velo mengatakan dia sedang hamil, awalnya dia ingin pergi ke kota demi bisa mendapatkan biaya untuk melahirkan. Tapi begitu mendapatkan pekerjaan sebagai sopir di rumah orang tua Nyonya Fer, dia benar-benar tidak bisa menahan godaan saat Nyonya Fer mengatakan jika dia jatuh cinta dengannya. Ayah Fer yang kala itu tak ingin melewatkan kesempatan karena Nyonya Fer adalah anak orang kaya, di tambah cantik juga, Ayah Fer akhirnya memutuskan untuk melupakan istrinya yang sedang hamil, di permudah pula dengan pernikahan mereka yang tidak tercatat di catatan negara jadi dia bisa meninggalkan Ibunya Velo kapanpun dia mau.


Ayah Fer mengepalkan tangannya, menyesal, sungguh dia benar-benar menyesal sekali. Saat Velo lahir pun dia enggan untuk melihatnya karena dia dan Nyonya Fer sedang hangat-hangatnya, pengantin baru.


Entah dari mana asal penyesalan itu, mungkin karena akhir-akhir ini Nyonya Fer terus menunjukan sikap tidak baik dan terus menekannya hingga mengingatkan dia tentang Ibunya Velo yang begitu baik, bahkan bisa di bilang menganggapnya sebagai dewa. Mungkin juga, dia menyesal dengan Velo karena Velo kini telah sukses dan dia ingin menjadi bagian serta merasakan apa yang di dapatkan putri pertamanya itu.


Semua orang bertepuk tangan setelah Velo selesai dengan pertunjukan.


" Kau sengaja?! " Tanya Selena dengan tatapan marah, di ruang ganti kini hanya ada Velo dan juga Selena, jadi Selena berbicara sesuka hatinya.


Velo tersenyum, meletakkan pakaian yang baru dia gunakan untuk pertunjukan tadi, lalu tersenyum menatap Selena.


" Sengaja? Sengaja apa? Bicaralah yang jelas, hatimu yang sejernih malaikat tidak bisa di artikan dengan benar oleh iblis sepertiku. " Velo mengakhiri kalimatnya dengan senyum miring membuat Selena tidak habis pikir, bagaimana bisa seseorang bisa begitu tidak berperasaan terhadap sesama wanita seperti Velo.

__ADS_1


" Kau merebut calon tunangan ku, kau membuat bisnis keluargaku hancur, kau juga ingin merebut panggung dariku? "


Velo terkekeh tak bisa berkata-kata dengan kebodohan Selena. Pertama, saingan akan ada kapanpun dan di manapun. Jangan hanya bangga melihat tatapan iri yang di tunjukan orang lain, lalu membuat diri seolah begitu hebat. Ingat, terlalu sering membuat iri pada akhirnya akan membuat orang lain membenci, dan Selena, memiliki pembenci yang juga banyak. Kedua, jika merasa ada yang lebih hebat dari kita, maka merendah, dekati orang yang lebih hebat, ambil ilmunya, dan olah sehingga bisa jadi lebih hebat. Ah, tapi sayangnya Velo tidak ingin mengatakan itu secara langsung, dia tidak ingin memotivasi Selena yang seharusnya sudah tahu apa yang harus di lakukan saat iri merasa kurang mampu.


" Apa yang kau tertawakan?! "


Velo menghentikan tawanya, menatap Selena dengan mimik menghina.


" Ternyata kau begitu pengecut, tapi aku menyukai sifat pengecut darimu. "


" Apa maksudmu?! "


" Pengecut, akan senang tiasa menyalahkan orang lain atas ketidakmampuan diri. "


" Dasar wanita jal*ng! " Kesal Selena.


" Tidak usah mengatakan itu, cicak juga pasti sudah bisa melihatnya dengan jelas. Lalu bagiamana denganmu, Hem? Wajah peri tapi hati- "


Plak!


Selena menampar wajah Velo. Velo tersenyum tipis, dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan tamparan kedua kalinya.


" Wanita murahan yang menjelma sebagai wanita anggun berkelas, wanita yang bersembunyi di balik wajah polos dan naif. Wajah yang begitu mirip anjing saat memaki, persis seperti wajah Ibumu. "

__ADS_1


Plak!


" Jangan berani-beraninya menyebut ibuku! Wanita murahan sepertimu seharusnya lenyap saja dari muka bumi ini! "


Velo terkekeh, dia tidak menyerah meski pipinya sudah begitu merah karena dua tamparan yang pasti sangat penas dan perih.


" Kau marah saat aku menyebut ibumu, ternyata kau tahu ya bagiamana kesalnya saat mulut kotor orang lain memaki seorang Ibu yang sudah melahirkan putrinya? " Velo tersenyum tipis menatap Selena, namun matanya begitu tajam mengingatkan Selena dengan Velo yang waktu itu mencekiknya sangat kuat. Selena mengepalkan tangannya, iya dia ingat waktu itu juga dia memaki Ibunya Velo.


" Sudah ingat ya gadis baik? Bagaimana rasanya? Ah, selama ini aku penasaran sekali, bagaimana rasanya di lahirkan oleh anjing? "


Selena tidak bisa menahan diri lagi, hingga akhirnya dia menampar Velo lagi, membuat sisi bibir Velo mengeluarkan darah.


" Ya ampun! " Pekik satu model yang baru saja masuk untuk berganti baju.


Selena tersentak, menatap tangannya yang kini gemetar takut juga menyesal dengan apa yang dia lakukan.


" A aku, aku, aku, aku tadi hanya, aku- " Selena dengan bingung ingin menjelaskan kalau semua hanya salah paham, tapi model itu segera berjalan mendekati Velo dan melihat wajah Velo.


" Sisi bibirmu berdarah! " Model itu menatap Selena dengan tatapan marah.


" Aku akan mengadukan ke big bos! " Ucap model itu dengan tatapan mengancam saat menatap Selena.


Velo tersenyum, matanya kini melirik agak ke atas di mana ada kamera pengawas yang sudah pasti merekam kejadian tadi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2