Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Bersama Denganmu


__ADS_3

Velo terdiam memandangi pusara Ibunya, ini adalah kali pertama untuknya mendatangi makam Ibunya setelah sebelas tahun meninggalkan desa. Tentu saja makam Ibunya tetap terawat karena secara khusus Velo membayar orang untuk merapihkannya. Sebenarnya untuk sampai di dana bukanlah hal mudah, bukan hal yang bisa dia lakukan kebanyakan seorang anak pada umumnya.


Ibu........


Tangan hangat itu sudah tidak bisa memeluknya, mata teduh itu tak bisa lagi menatapnya, senyumnya yang indah itu tak bisa lagi dia lihat. Saat tidur dulu dia selalu memeluk tubuh Ibunya, mendengarkan suara detak jantung yang begitu menenangkan hatinya. Walaupun pada akhirnya, dia hanya bisa sebentar memeluk tubuh Ibunya yang dingin tak bisa melakukan apapun, tak memiliki nyawa lagi.


Velo menggigit bibir bawahnya, dia menahan sesuatu yang seperti menumpuk di dadanya.


" Sakit! Sakit! Sakit! Sakit!, Sakit sekali! " Ucap Velo tanpa sadar menitihkan air mata sembari memukuli dadanya. Dia tidak menatap nama Ibunya yang tertulis di sana, ingat benar Ibunya masih begitu muda kala itu, dia masih sangat cantik hingga membuat para tetangga, tak terkecuali kepala desa menyukai Ibunya.


Menyadari adanya air yang jatuh ke pipinya, Velo mengeryit sebentar, menyeka air mata itu dan menatapnya.


" Memang mendung, tapi belum hujan kan? " Gumam Velo tapi dia menyadari lagi ada air yang kembali jatuh dari matanya. Hangat, dan jelas sekali itu bukan air hujan.


Velo terdiam, dia menangis?


Velo tertawa dengan mimik tak percaya. Sialan! Bahkan air mata itu bisa jatuh begitu saja? Padahal selama ini dia tida tahu caranya menangis walaupun ingin mencobanya beberapa kali dengan harapan setelah menangis hatinya akan merasa lega.


" Ibu, apa Ibu yang melakukan ini? Apa Ibu ingin aku menangisi Ibu? Untuk apa? Supaya aku terlihat mencintai Ibu? Heh! Mimpi saja! Aku, tidak mencintai Ibu, aku membenci Ibu yang bodoh sepertimu. Aku tidak suka kau menjadi Ibuku, karena kau, aku, aku, aku, "


Velo tak bisa lagi berkata-kata, Velo terus memukuli dadanya yang sakit. Dia berteriak, menangis tersedu-sedu, dan di saat itu pula hujan sangat deras mengguyur bumi.


" Hah......... " Velo menangis semakin kuat.

__ADS_1


" Kenapa?! Kenapa semua kemalangan harus aku alami? Kenapa yang aku cintai meninggalkanku, dan membuang ku? Aku manusia, sama seperti kalian! Aku lelah, aku sangat lelah untuk membenci, aku membenci kalian yang bisa tertawa terbahak-bahak padahal aku sedang menangis tanpa suara! Apakah tidak bisa kalian mengerti?! Aku membenci diriku sendiri karena kalian! Ah......! "


Velo masih terus menangis, akhirnya, setelah sebelas tahun dia tidak bisa menangis, dia bisa menangis lagi, melampiaskan perasaan sedih yang tertahan selama ini. Kebencian, kemarahan, kekecewaan, semua itu akhirnya bisa diungkapkan melalui tangisan gang begitu pecah, bersamaan dengan hujan deras yang membasahi tubuhnya.


" Aku, aku, sekarang aku ingin mati! Aku ingin berada di tempat yang gelap, tidak ada manusia, tidak ada Ibu, tidak ada Ayah, tidak ada semua! Bila bisa mengulang waktu sebelum kelahiran, aku benar-benar ingin menjadi sebuah batu. Tidak perlu merasakan sedih, tidak perlu merasakan sakit, tidak perlu merasakan apapun! Kenapa?! Kenapa Ibu harus membuatku lahir?! Kenapa tidak biarkan aku menjadi batu aja, hah?! "


Velo membiarkan tangisnya pecah di tengah hujan besar, bahkan perut juga terdengar menggelegar.


" Aku rindu, Ibu. Aku merindukan Ibu, aku ingin Ibu, aku ingin bisa melihat Ibu. " Ucap Velo lirih setelah merasa puas berteriak sedari tadi Meksi tangisnya masih ada.


" Maaf, aku terlalu menyalahkan Ibu, aku membenci Ibu padahal Ibu juga tidak ingin aku jadi begini kan? Tapi, aku sangat lelah Bu, aku lelah sekali hidup. Kenapa juga Tuhan memberikan aku umur yang panjang? Tolong jemput aku, Ibu. Aku tidak ingin lagi berada di tempat yang memuakkan ini. "


Velo mengangkat wajahnya untuk melihat siapa apa yang ada di atasnya sehingga dia tidak lagi terkena air hujan. Payung? Velo menoleh kebelakang, dan terdiam begitu saja saat melihat seorang pria yang sangat dia kenali.


" Rigo? "


Velo bangkit dengan tatapan marah.


" Kenapa kau di sini? "


" Menjemputmu. " Jawab Rigo.


" Aku tidak akan kembali padamu, pergilah. Aku tidak ingin membuang waktu hanya untuk pria bodoh sepertimu. "

__ADS_1


Rigo menghela nafasnya.


" Tapi aku tetap ingin disini, bersama denganmu! "


Velo memukul dada Rigo terus menerus dengan kesalnya.


" Dasar pria bodoh! Kau tidak tahu maksud ucapanku ya?! Atau kau mulai tidak memahami bahasa manusia?! Kalau aku bilang pergi, artinya pergilah secepat mungkin! Aku tidak menginginkanmu, aku tidak menyukaimu apalagi mencintaimu! Aku muak, aku benar-benar muak! Pergilah sana! "


Grep!


Rigo membuang payungnya, memeluk Velo erat-erat.


Velo, dia kini memukuli punggung Rigo karena dia benar-benar ingin Rigo pergi dari sana. Dia tidak ingin lagi menyakiti pria itu, dia tidak ingin menjadi duri dalam kehidupan pria itu. Dia juga lelah, dia lelah menjalani hidup yang hanya ada kesedihan saja. Dia ingin pergi, pergi ke tempat di mana Ibunya berada. Tapi, pelukan Rigo benar-benar membuatnya merasakan sesuatu seolah dia merasa memiliki teman untuk hidup. Dia berhenti memukuli Rigo, perlahan menangis lirih, karena tidak tahan lagi akhirnya dia kembali menangis sejadi-jadinya.


Rigo, sebenarnya dia sudah ada di dekat Velo cukup lama, setidaknya dia mendengar hampir semua yang di katakan Velo. Dia melihat benar punggung Velo yang bergetar, suaranya yang gemetar saat menahan tangis, suaranya yang terdengar begitu marah kepada Ibunya, juga nada bicara merengek merindukan Ibunya. Sekarang dia tahu benar seberapa besar penderitaan yang Velo alami, dia tidak perlu tahu lagi detail kejadiannya, intinya dia tahu kalau yang harus dia lakukan adalah menemani wanita yang kuat tapi juga rapuh itu.


" Aku lelah..... "


" Aku tahu, makanya kau perlu istirahat, bukan mengakhirinya. Aku akan menemanimu, kau bisa menceritakan semuanya padaku. Walaupun aku tidak banyak membantu, tapi percayalah aku akan melakukan apa yang aku bisa. "


Rigo semakin mengeratkan pelukannya karena tubuh Velo benar-benar lemas sekali seperti ingin jatuh. Setelah beberapa saat, Rigo membopong Velo, lalu menatap nisan Ibu mertuanya itu.


Ibu mertua, terimakasih karena telah melahirkan Velo. Apa yang dia katakan tadi seolah membenci anda, maka artinya adalah kebalikannya. Dia sangat mencintai anda, dia merindukan anda setiap waktu. Sekali lagi, terimakasih, dan tolong restui kami agar kami bisa bersama sampai maut memisahkan.

__ADS_1


Rigo membawa Velo yang kini terlihat begitu lelah, matanya yang terlalu banyak menangis sampai bengkak dan sembab. Tapi, dia juga merasa lega karena Velo bisa menangis.


Bersambung.


__ADS_2