
Rigo mengepalkan kedua tangannya, mengeraskan rahang menahan tubuhnya yang ingin berlari ke arah Velo. Tidak, dia tidak bisa menahan itu sehingga dengan cepat Rigo melangkahkan kaki, dan langsung meraih tengkuk Velo, menciumnya, mendorong pintu yang sudah sedikit terbuka, dan menutupnya, mendorong dengan kaki agar terkunci secara otomatis dengan sempurna. Rigo sama sekali tak melepaskan ciuman itu membuat Velo benar-benar bingung tapi dia tidak ingin bertanya, dia memilih untuk membiarkan saja Rigo mendapatkan apa yang dia di inginkan olehnya karena setelah itu pasti Rigo akan menyadari sendiri, menyesal dengan apa yang dia lakukan lalu pergi begitu saja. Seperti itu bukan para pria pada umunya.
Rigo melepaskan jaketnya masih tanpa melepas ciumannya, lalu menyusul baju yang dia gunakan setelahnya baru dia membuka resleting dress milik Velo menjatuhkannya ke lantai, membawa Velo untuk masuk ke dalam kamar.
Sebentar Rigo menatap wajah Velo yang kini berada di bawah kungkungannya. Sialan! Wajah itu benar-benar membuatnya sulit mengendalikan diri, kenapa? Selena juga sudah menyodorkan dirinya tapi dia tidak bisa menyentuh seolah ada batasan tidak jelas yang selalu mencegahnya. Entah akan jadi seperti apa hubungannya dengan Velo nanti, entah kacau atau rumit, yang jelas Rigo hanya ingin melakukan apa yang ingin dia lakukan, mencoba mencari tahu kenapa, dan apa alasannya dia bisa sampai begitu sulit menghilangkan Velo padahal ada Selena yang segalanya lebih baik di banding Velo.
" Apa kau sedang mengingat pembicaraan kita kema- " Ucapan Velo tak bisa lagi dia lanjutkan karena Rigo membungkamnya dengan sebuah ciuman yang begitu menggebu-gebu bahkan Velo sampai tidak bisa mengontrol diri dan terbawa suasana yang di salurkan oleh Rigo padanya.
Tidak seperti biasanya, kali ini Rigo benar-benar tidak membiarkan Velo bergerak sama sekali. Kedua tangannya, bibirnya, semua bergerak dnegan begitu kompak menjamah seluruh tubuh Velo.
Ini tidak seperti dia sedang marah, jadi dia kenapa?
Velo terdiam membatin penuh tanya dengan semua yang di lakukan Rigo dengan tubuhnya. Aneh, ini benar-benar aneh karena Rigo bahkan tidak perlu di picu dia seperti sudah menahan itu selama berbulan-bulan.
Suara lenguhan saling menyahut dengan begitu merdu menandakan mereka sedang begitu menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Perasaan yang Rigo rasakan sudah seperti tanah kering yang di guyur hujan, rasa haus seolah telah terobati. Wanita yang kini menyipitkan matanya dengan wajah memerah, mengerang, melenguh, mencengkram punggungnya, tengkuknya, wanita yang begitu hebat menggoda, wanita yang kadang menatap dingin, tersenyum manis dengan sorot mata yang begitu dalam, ternyata wanita itulah yang bisa membuat perasaan Rigo begitu mudah terbawa arus menuju ke arahnya.
Ve, di saat begini menurutku kau paling cantik, manis dan seksi. Aku ingin mengatakan itu, tapi bibirku seperti terkunci.
Entah setan apa yang masuk ke dalam tubuh Rigo, tapi malam itu dia benar-benar tidak membiarkan Velo tidur dengan nyenyak. Dia seperti baru menyadari akan sesuatu yang dia inginkan sehingga sulit untuknya menahan diri.
Pagi harinya.
Velo perlahan membuka matanya, dia mengeryit karena merasai pinggangnya yang terasa begitu pegal. Gila, Rigo benar-benar seperti hewan hutan yang jago berburu dan tidak membiarkan mangsanya terlewatkan. Belum lagi semalaman dia terus di rengkuh erat oleh Rigo membuat sebelah tubuhnya agak pegal.
Velo perlahan menyingkirkan lengan Rigo, lalu kakinya juga. Barulah setelah itu dia bisa bangkit perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu sampai di kamar mandi, Velo hanya bisa menghela nafas melihat tubuhnya yang begitu banyak bekas merah yang di tinggalkan Rigo.
__ADS_1
" Dia benar-benar gila! " Gumam Velo saat melihat tanda merah itu bahkan banyak tertinggal di paha, juga pangkal pahanya, ah! Tidak tahu di bagian itu dia tidak mau melihat karena takut akan keheranan sendiri.
Di bawah guyuran air shower, Velo berdiri membasuh tubuhnya menggunakan spons mandi untuk bantu menggosoknya sampai bersih. Hingga tanpa dia sadari Rigo juga masuk ke dalam sana sudah tanpa pakaian di tubuhnya, berdiri tepat di belakang Velo, memajukan langkahnya sampai membentur tubuh Velo.
" Rigo? Kenapa tidak tunggu aku selesai? " Protes Velo. Yah, tidak usah ada yang di tutupi toh Rigo juga sudah biasa melihat tubuhnya, di tambah Velo juga bukan perempuan yang begitu memikirkan apa yang namanya harga diri kalau tujuannya adalah untuk balas dendam.
" Kenapa aku harus menunggu kalau mandi bersama akan lebih baik? Gosok tubuhku, setelah itu aku akan menggosok tubuhmu sampai bersih. " Rigo tersenyum tipis.
Velo menghela nafas, tidak tahu apa yang di pikirkan Rigo, dia juga tidak ingin tahu. Velo melakukan apa yang di minta Rigo, lalu Rigo juga melakukan apa yang dia katakan. Hanya saja, ada satu tambahan kegiatan ekstra di sana.
Di meja makan.
Velo menatap Rigo yang juga menatapnya. Kali ini Velo tidak bisa berpura-pura lagi untuk tersenyum karena dia sangat lelah.
" Tidak kenapa-kenapa. "
Velo menghela nafasnya.
" Kau, tidak sedang tiba-tiba jatuh cinta padaku ku? "
Rigo terdiam.
" Atau, kau menyukai kehebatan ku di atas tempat tidur? " Velo tersenyum karena dia ingin terlihat murahan di mata Rigo.
" Kau tidak sepandai itu sampai membuatku begitu menyukai aksi ranjangmu. "
__ADS_1
" Kau tertarik padaku? Apa kau baru sadar aku cantik? Atau karena aku seksi? Atau, karena tubuhku yang bagus? "
Rigo tersenyum miring.
" Dada kecilmu itu kau anggap bagus? "
Velo terdiam menatap Rigo mencari tahu apa yang sebenernya tengah di pikirkan oleh Rigo. Tapi, untuk kali ini Velo benar-benar tidak mampu membaca apapun, apa yang di pikirkan Rigo dia sama sekali tidak tahu.
" Rigo, kau tahu benar kalau tidak boleh merasa tertarik padaku kan? Aku juga sudah mengingatkan untuk jangan jatuh cinta, kau tidak lupa kan? "
Rigo mengeraskan rahangnya menahan diri agar tidak mengatakan apa yang ingin dia katakan saat itu.
" Untuk apa aku jatuh cinta padamu? Kau sudah memanfaatkanku sesuka hatimu, kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama? Kau menggunakanku untuk tujuanmu sendiri, dan aku akan menggunakanmu sesuka hatiku. "
Velo menghembuskan nafas lega. Memang akan lebih bagus seperti itu, tidak ada yang boleh jatuh cinta, dan apa yang di katakan Rigo benar-benar membuatnya tenang.
Velo tersenyum menatap Rigo.
" Baiklah, kau bisa melakukan apa yang ingin kau lakukan. Hanya saja, jangan menghalangiku, jangan mencegahku, jangan menusukku dari belakang. Aku hanya membutuhkan beberapa waktu, hanya sebentar lagi, aku janji tidak akan muncul di hadapanmu lagi setelah semuanya selesai. "
Rigo mengepalkan tangannya. Tidak akan muncul di hadapannya lagi? Sebentar lagi selesai? Kenapa kalimat itu membuatnya tidak tenang dan merasa tidak rela?
" Kau tidak bisa pergi begitu saja sebelum aku merasa bosan. " Ujar Rigo dengan tatapan dingin.
Bersambung.
__ADS_1