Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Rigo tersenyum saat Velo keluar dari salon, dia benar-benar terlihat lebih segar dari sebelumnya. Untunglah, setidaknya pergi ke salon bisa sebentar membuat Velo lupa kalau dia memiliki banyak sekali sejarah menyakitkan di dalam lukanya. Mulai dari hari itu, Rigo akan benar-benar memperhatikan Velo, memberikan sebanyak mungkin perhatian untuknya. Bukan karena dia merasa kasihan, tapi karena dia ingin menyampaikan lewat tindakan kepada Velo jika dia mampu mengimbangi Velo, dan akan membuat Velo melihat betapa indahnya kehidupan jika berhasil melupakan segala dendam di hati.


" Sudah lama menunggu? " Tanya Velo berhenti sejenak karena Rigo menunggunya di kaur mobil.


" Tidak, aku belum lama sampai. " Rigo mendekati Velo, mengecup sebentar bibir Velo lalu membukakan pintu mobil untuknya.


Velo terdiam sebentar, dia benar-benar terkejut dengan perlakuan Rigo yang belakangan ini agak berlebihan menurutnya. Tentu saja untuk seorang Velo yang terbiasa dengan situasi sebelumya, agak aneh dan canggung jika terus merasakan perbedaan sikap Rigo yang seperti jatuh cinta padanya. Tidak ingin bertanya dulu karena Velo takut dia sendiri yang salah paham, Velo memutuskan untuk masuk ke dalan mobil saja.


Tak jauh dari mereka, Selena yang tadinya sedang berjalan untuk menuju rumahnya untuk pulang dari bekerja, dia tak sengaja melihat Rigo dan Velo yang begitu mesra. Sungguh sangat Menyakitkan, tapi dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang ini keuangan keluarganya benar-benar sedang buruk, di tambah gara-gara dia mendapat Velo di tempat pameran baju kemarin dia juga masih trauma. sampai sekarang media sosial milik Selena Mash di serbi para pembenci, jadi dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa sabar menerima saja.


Selena melanjutkan langkah kakinya, sebenarnya untuk menuju rumahnya, itu cukup jauh kalau di tempuh dengan berjalan kaki. Tapi ya mau bagaimana lagi? Mobilnya tidak ada bensin, mobil Ibunya juga sama.


Begitu sampai di rumah, Selena tadinya ingin langsung masuk ke kamar, lalu mandi dan istirahat, tapi Ayahnya tiba-tiba saja datang dengan wajah lelah dan murung membuat Selena mengeryit bingung begitu Ayahnya datang menghampirinya.


" Selena, boleh Ayah minta tolong tidak? "


Selena terdiam sebentar.


" Minta tolong apa? "


" Tolong jaga sebentar Ibumu ya? Ayah ingin pergi ke rumah teman Ayah dulu untuk pinjam uang. "


" Pinjam uang? "

__ADS_1


" Iya, untuk berobat Ibumu kan? "


" Bukanya tadi pagi sudah ada Dokter yang datang, Ayah? "


Ayah Fer menatap Selena penuh tanya, dan dia juga terlihat bingung.


" Selena, pagi tadi Ayah kan sudah memberitahu melalui pesan padamu karena kau tidak juga mengangkat telepon, Ibumu pingsan lagi setelah dia sadar beberapa saat. Lalu begitu dia bangun, dia terkena stroke, sepatu tubuhnya tidak bisa di gerakkan dengan baik. "


Selena membulatkan matanya dengan tatapan terkejut, dia segera berjalan cepat menuju di mana Ibunya berada untuk melihat bagaimana keadaan Ibunya. Begitu dia sampai ke dalam kamar Ibunya, Selena hanya bisa menatap Ibunya dengan tatapan sedih. Bagaimana tidak? Saat Selena masuk, Ibunya tengah duduk di tempat tidur, bibirnya miring ke samping atau menyon, tangannya juga terlihat kaku. Ibunya menangis, tapi tidak mengeluarkan suara yang jelas, dia seperti sedang berusaha bicara hanya saja suaranya begitu tidak jelas membuat Selena hanya bisa ikut menangis sedih.


" Ayah, kenapa bisa jadi begini? " Tanya Selena sembari terisak.


Ayah Fer menghela nafas, bagaimana? Mana bisa dia tahu alasannya? Sudah di beritahu kalau tidak boleh banyak pikiran, tapi istrinya terus memarahinya, memaki sesuka hati, tidak segan-segan juga dalam bertindak kasar. Ini mana mungkin bisa di sebut kalau dia yang salah?


Ayah Fer mengusap wajahnya dengan kasar.


" Selena, Ibumu sempat bangun dan meminta Ayah bekerja, tapi Ayah kan tidak bisa bekerja jadi dia marah, lalu pingsan. Ditambah dia tahu kalau kau bekerja jadi kasir mini market, dia jadi semakin emosional. Setelah terus marah-marah akhirnya dia pingsan lagi, dan ketika sadar dia sudah begini. "


Selena terisak, menatap Ayah Fer dengan tatapan marah.


" Ayah, seharusnya Ayah tahu bagaimana sifat Ibu kan? Kenapa Ayah tidak pergi cari pekerjaan saja supaya Ibu tidak sakit?! Ini berarti Ibu jadi terkena Stroke karena Aya! "


Ayah Fer menatap Selena dengan tatapan kesal. Sungguh dia sangat tidak menyukai tuduhan putri kandungnya itu. Padahal dia sudah banyak mengalah untuk putri dan juga istrinya, tapi dalam keadaan sulit seperti ini bukan hanya istrinya saja yang terus menyalahkannya, sekarang di tambah Selena juga.

__ADS_1


" Selena, kau bahkan juga menyalahkan Ayah? "


" Iya! Kalau saja Ayah mendapatkan pekerjaan, mana mungkin Ibu akan jadi seperti ini?! " Selena semakin terisak ya karuan. Semarah apapun dia terhadap Ibunya, tentu saja dia tidak bisa dan tidak tega kalau harus melihat Ibunya sakit seperti ini. Padahal kemarin Ibunya masih sangat sehat, Ibunya bisa beraktifitas dengan normal, dan sekarang Ibunya seperti orang idiot yang menyedihkan gara-gara ayahnya yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.


Ayah Fer menghela nafas menahan rasa marahnya.


" Selena, kau tahu di rumah ini tidak ada orang kan? Kalau saja Ibumu bangun dan membutuhkan sesuatu, siapa yang akan melakukanya? Kau kenapa jadi seperti ibumu? Di matamu Ayah yang salah, tidak pernah berkaca pada diri sendiri. "


Selena terdiam, benar juga apa yang di katakan Ayahnya barusan. Padahal Selena tahu benar dan melihat sendiri kalau pembantu rumahnya pergi pagi tadi.


" Tetap saja, kalau Ibu minta Ayah pergi mencari kerja seharusnya Ayah cepat dapatkan pekerjaan. "


Sudah, Ayah Fer benar-benar tidak tahan lagi. Sudah cukup dia mengalah selama ini. Dia tidak ingin berdebat dengan putrinya sendiri. Sekarang dia benar-benar sadar kalau dai asal hingga akhir dia sama sekali tak pernah di hargai oleh istri dan anaknya. Tidak masalah, sekarang dia benar-benar tidak akan menahan diri lagi.


" Baiklah, di matamu dan di mata Ibumu Ayah adalah orang paling bersalah. Baik, sepertinya adanya aku di rumah ini sama sekali tak memberikan kelengkapan untuk kalian, aku tidak berguna sama sekali, itu yang ingin kau juga Ibumu katakan bukan? Ayah akan pergi, toh tidak ada gunanya lagi Ayah berada di sini. "


Ayah Fer mengambil tas miliknya, kalau beberapa barang miliknya.


Selena tak mengatakan apapun, dia cukup percaya diri bahwa Ayahnya hanya menggertak dan tidak akan benar-benar pergi sungguhan. Ayahnya tidak memiliki uang, tidak memiliki keluarga di kota, jadi kemana orang yang tidak memiliki apapun untuk pergi?


" Jaga Ibumu baik-baik, semoga tidak adanya Ayah kehidupan kalian membaik. " Ucap Ayah Fer lalu berjalan keluar meninggalkan rumah yang selama ini dia tempati dengan nyaman.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2