
Setelah hari dimana Selena dan Ayahnya bicara, dia tidak lagi mengharapkan Ayahnya kembali ke kehidupannya juga Ibunya. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk Ayahnya, juga Ibunya. Karena setelah mereka berpisah, Ayahnya bisa menjadi dirinya sendiri, berusaha dengan jalannya sendiri, meskipun Ibunya masih tak berdaya karena stroke yang ia derita, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain merawatnya sendiri.
Mungkin memang sudah jalannya seperti ini, hubungan yang di bangun dengan menyakiti orang lain, hubungan yang di bangun dengan campur tangan pengkhianatan, tentu saja tidak berjalan dengan mudah. Selama ini Ibunya hanya tahu merendahkan suaminya, tidak mengahargai apapun usaha suaminya, juga tidak segan-segan memaki secara langsung di depan umum. Sudah berakhir, semua sudah harus seperti ini. Biarlah Ayahnya hidup dengan jalannya, sedangkan Ibunya juga harus menjalani hidup yang sudah di gariskan.
Selena menghela nafas, menyeka air matanya lalu bangkit dan berjalan menuju ruang dokter.
Beberapa saat kemudian.
" Dok, saya setuju untuk Ibu saya menjalani terapi, dan biarkan pula Ibu saya tinggal di tempat terapi sampai dia sembuh. "
***
Velo, dia kini memilih melakukan apa yang dia sukai. Awalnya dia benar-benar tidak menyukai kegiatan membuat kue, tapi lama kelamaan dia mulai menyukai itu, kegiatan bersama Ibu mertuanya juga cukup menyenangkan karena ternyata Ibu mertuanya juga menyukai banyak hal yang Velo sukai.
Mungkin ini terlalu bertolak belakang dengan Velo sebelumnya, tapi tidak bisa bohong juga kadang Velo sering merasa muak dan membenci kegiatan itu. Namun kalimat yang sering keluar dari mulut Rigo benar-benar membuatnya tak punya pilihan lain selain mencoba untuk menyukai yang tidak dia sukai.
" Sayang, bahagia tidak? Sayang kau nyaman tidak? Sayang, kau tidak keberatan kan? Sayang, sungguh tidak apa-apa kalau begini, begitu? Apa kau sungguh mau? Aku harus melakukan apa? Aku mendengarkanmu, jadi katakan saja apapun aku pasti akan ingat dengan baik. Kau mau melakukan apa? Mau aku bantu? Mau aku temani? " Banyak sekali yang keluar dari mulut Rigo hanya untuk memastikan dia bahagia, dia merasa baik-baik saja, dan yang paling membuat Velo merasa nyaman adalah, tidak sekalipun Rigo pernah mengatakan atau bertanya, apakah dia sudah jatuh cinta? Rigo hanya cukup tahu selama Velo tidak memberontak, maka artinya keinginan Velo bersama dengannya jelas masih ada.
" Bagaimana harimu hari ini? Ada yang membuatmu tidak nyaman tidak? " Tanya Rigo begitu dia sampai di apartemen.
Velo tersenyum lalu menggeleng. Pertanyaan itu benar-benar sudah seperti rutinitas untuknya, tapi syukurlah Velo yang sudah terbiasa jadi tidak merasa keberatan.
" Sepertinya kau semakin populer saja, hari ini ada dua gadis cantik yang coba mendekatimu, apa kau merasa bahagia? "
Rigo terdiam sebentar, berbalik menatap Velo yang kini juga menatapnya.
" Ayahku memberitahumu? "
Velo mengangguk.
Rigo membuang nafasnya, lalu tersenyum.
" Tapi kau tahu betapa setianya suamimu bukan? "
Velo mengangkat bahunya seolah acuh dengan pertanyaan itu membuat Rigo menyipitkan matanya menatap Velo dengan tatapan mengincar.
" Istriku benar-benar membuatku sedih, seharusnya kau memperlihatkan sedikit saja rasa cemburu, tapi karena kau acuh begini, labuh baik kita langsung masuk ke kamar, dan buat anak yang banyak. " Setelah selesai mengatakan itu, Rigo langsung saja membopong tubuh Velo untuk di bawa ke dalam kamar.
__ADS_1
" Rigo, kau belum mandi! "
" Kita bisa mandi bersama setelah ini! "
Klak! Pintu di tutup, kita tidak bisa lihat lagi, oke? Hehe......
- Lima tahun kemudian -
Selena tersenyum melihat kedatangan Ibunya di tempat dia mengajar anak-anak untuk menari balet. Ibunya sudah sembuh total sejak setahun lalu, dan kini sudah bisa beraktifitas dengan nyaman. Mereka sudah tidak tinggal di rumah besar sebelumnya karena rumah itu Selena jual untuk pengobatan Ibunya. Tidak apa-apa, Nyonya Fer sudah cukup paham, dia belajar banyak dari apa yang terjadi bahwa uang yang selama ini dia agungkan ternyata bukan jaminan untuknya bahagia.
Selena juga masih sibuk dengan kegiatannya, dia sama sekali tak memikirkan hal lain selain menjadi guru pelatih balet untuk anak-anak yang lucu, meski ada beberapa pria yang coba mendekat padanya, dia masih enggan memiliki hubungan apapun dengan pria.
Ayah Fer, pria itu masih sibuk dengan usahanya yang kini sudah memiliki dua gerobak jualan dan satu pegawai. Dia masih sederhana tak muluk-muluk karena tugasnya sebagai Ayah dari dua putri membuatnya sadar benar harus bagaimana. Uang untuk Velo sudah dia simpan di bank, sementara untuk Selena selalu dia kirim setiap bulannya. Hubungan antara Nyonya Fer dan dirinya benar-benar sudah tidak dia inginkan lagi meskipun dia tahu Nyonya Fer sudah sembuh. Biarlah seperti ini, pria brengsek seperti dia tidak pantas untuk di cintai, jadi inilah keputusan yang dia ambil.
***
" Bagaimana kalau mulai besok kita rutin jalan pagi bersama seperti ini? " Tanya Rigo kepada Velo yang kini berada di sampingnya, menggunakan pakaian joging karena memang itu yang sedang mereka lakukan.
Velo tersenyum lalu menghela nafas.
Velo dan Rigo kini menatap ke arah gadis kecil yang berada di gendongan Rigo. Dia tengah tersenyum menatap Rigo membuat Rigo benar-benar sulit teralihkan dari wajah cantiknya. Namanya adalah Jelena, bulan depan usianya akan genap dua tahun. Jelena adalah anak Rigo dan Velo tentunya. Setelah drama panjang dalam kehidupan, akhirnya Rigo membuat Velo yakin bahwa jika dia akan memiliki anak, maka anaknya akan baik-baik saja bersama Rigo, karena Rigo bukanlah Ayah Fer.
" Jelena, dia adalah putriku, tentu saja aku tahu apa yang dia katakan di dalam hati. "
Velo tersenyum sembari menggeleng keheranan. Tidak usah heran, Rigo memang selalu sok tahu tentang putrinya, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa Jelena benar-benar nyaman dan selalu tersenyum, tertawa saat bersama Ayahnya. Sedangkan dia yang adalah Ibunya, dia justru jarang sekali kebagian waktu bersama putrinya. Tentu saja karena kedua mertuanya, benar-benar sangat menyayangi Jelena, selalu berada di dekat Jelena, dan melarang keras adanya pengasuh untuknya. Meski begitu, Velo sama sekali tidak seperti kebanyakan ibu di luaran sana yang agak sibuk sampai tidak ada waktu mengurus anak.
Ayo, lahirkan saja anak lagi kalau kau terlalu sepi!
Seperti itulah yang sering di katakan oleh kedua mertuanya Velo. Yah, pada akhirnya semua berjalan di luar dugaannya, suami, kehidupan rumah tangga, bahagia, anak, keluarga, dia memiliki teman seperti Juni, Nyonya Laurent, juga Juno, dia memiliki segalanya sekarang. Memang benar, pertengkaran di antara Rigo dan Velo juga selalu ada, tapi mereka berdua benar-benar bisa mengatasi semua itu dengan baik.
" Bukankah ini seperti mimpi? " Ujar Rigo menatap Velo dan tersenyum dengan tatapan matanya yang begitu hangat dan menjelaskan betapa bahagianya dia.
" Benar, kenapa ini seperti mimpi? Kenapa aku bersedia bersama pria tengik sepertimu? Kenapa aku harus melahirkan anakmu? Kenapa kau harus membuat wajah anak yang ku lahirkan mirip sekali denganmu? " Velo menatap sinis dengan senyum tipis yang membuat Rigo menggigit bibir bawahnya seolah dia ingin menyerbu bibir Velo.
" Sayang, aku jadi benar-benar ingin menciummu! " Ucap Rigo sedikit berbisik.
" Aku juga, bagaimana kalau kita berciuman di sini? " Ujar Velo membuat Jelena langsung bereaksi.
__ADS_1
" No! No! No! " Ucap Jelena yang tidak ingin ciuman di antara Ayah dan Ibunya terjadi, maklum saja, dia menganggap Ayahnya adalah miliknya seorang, jadi hanya boleh menciumnya saja.
Velo menghela nafas, sementara Rigo tertawa kecil karena dia merasa bahagia dengan perkembangan putrinya yang sangat bagus.
" Masih kecil begini berani sekali ingin menjadi sainganku? Cih! Kalau sainganku seperti ini, yah aku tentu saja kalah. " Velo tersenyum menyentuh hidung Jelena dengan ujung jari telunjuknya.
Rigo tersenyum bahagia. Akhirnya, dia merasakan kebahagian di hati Velo, di hatinya juga. Tidak perlu bertanya apakah dia di cintai atau tidak oleh Velo, ini sudah lebih dari cukup, dia mencintai Velo, dan Velo bahagia bersamanya.
Velo dan Rigo melanjutkan kegiatan mereka, tapi baru beberapa langkah mereka melihat sosok yang sangat familiar yaitu, Zegon dan juga seorang anak kecil yang usianya mungkin sekitar enam tahun. Wajah mereka sangat mirip, jadi jelaslah kalau anak itu adalah anaknya bersama dengan Greta.
Rigo yang melihat itu hanya diam dan menahan dirinya dari perasaan tidak tenang. Apakah pertemuan tidak sengaja ini akan merubah kehidupannya?
Begitu mereka berdua berpapasan, Velo menoleh begitu juga dengan Zegon. Mereka saling menatap dan tersenyum satu sama lain, kecuali Rigo yang sengaja membiarkan hal itu terjadi.
Aku bahagia melihatmu bahagia. Ujar Rigo.
Kau terlihat sebagai Ayah yang baik, aku senang melihatnya. Velo.
Sampai jumpa di kehidupan berikutnya, di kehidupan ini, biarkan saja seperti ini, sampai bertemu lagi, tunggu aku! Aku menunggumu! ( Velo dan Zegon )
Velo kembali menatap ke depan, begitu juga dengan Zegon yang langsung meraih tangan anaknya dan tersenyum padanya.
Velo tersenyum, meraih tangan Rigo dan menggenggamnya membuat Rigo tersenyum karena ternyata ini tidak akan mengubah apapun.
Sedalam dan sesakit apapun lukamu, tidak ada yang lebih baik dari pada merelakan, dan fokuslah dengan masa depan. Berbahagialah, lupakan dendam karena hati yang memiliki dendam dan kebencian tidak akan bisa melihat keindahan meski keindahan itu begitu bersinar terang.
TAMAT
Halo kesayangan?
Terimakasih banyak untuk dukungannya, terimakasih banyak sudah bersabar menunggu cerita yang jauh dari kata bagus ini up setiap harinya, hingga tamat!
Mampir ke karya baruku ya, ( Mariagge Struggle )
Oh iya, besok akan ada bonus chapter, boleh kasih komen yang setuju ya?
Sampai jumpa, dan othor tunggu di novel baru othor ya kesayangan......... ❤️❤️
__ADS_1