Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Kebahagiaan Akan Datang!


__ADS_3

" Kalian menghabiskan hari bersama dari kemarin, kalian ingin membuat desa ini dalam bahaya karena ulah mesum kalian, hah?! " Protes warga desa yang sudah banyak bergerombol di depan rumah Velo.


Velo menghela nafas, menatap mereka semua dengan tatapan dingin. Sementara Rigo, pria itu kesal bukan main, dia merasakan kesal yang sangat amat kepada warga desa yang berkerumun datang berteriak pagi hari padahal waktu itu dia baru akan memasukkan miliknya, bersatu dengan indah bersama Velo. Tapi sial, benar-benar warga desa tidak tahu aturan, berteriak sesuka hati, apakah tidak bisa menunggu sebentar saja setidaknya sampai selesai? Cih! Sampai sekarang dia masih harus menahan sesuatu di bawah sana dan benar-benar tersiksa sekali rasanya.


" Aku tidak ingin mejelaskan apapun, karena kalian tidak akan mendengarkan ku. Sama seperti dulu, kalian seenak hati menuduh Ibuku menggoda pria, padahal prianya sendiri yang kegatalan. Pergi sana! " Ucap Velo dengan ketus dan dingin tentunya.


" Dasar tidak sopan! Perilaku murahanmu itu kau gunakan saja di kota, kami warga desa tidak terbiasa! "


" Diam! " Kesal Rigo menatap sangat marah hingga wajahnya memerah. Dengan nafas memburu, Rigo memperhatikan baik-baik wajah para warga desa yang ada di sana dengan tatapan mengancam. Rigo berjalan sebentar dengan cepat mengambil ponselnya, lalu membuka galerinya mengabaikan warga desa yang saling berbisik satu sama lain entah apa yang mereka bicarakan.


" Apa ini sudah cukup menjadi bukti? " Rigo menunjukan photo pernikahan miliknya dan Velo. Satu warga desa memerhatikan photo itu, lalu menunjukannya kepada yang lainnya.


" Tetap saja itu salah kalian, kenapa tidak melapor kepada kepala desa? Kami datang kan juga karena ingin tahu. " Ujar satu warga desa mencoba untuk tetap menempatkan dirinya di posisi yang benar.


" Kalau kalian hanya ingin tahu, datanglah sebagai wakilnya, satu atau dua orang saja, bukan bergerombol seperti sudah yakin benar ingin menggerebek pasangan mesum. Lagi pula, kalian semua di sini sepertinya sudah terbiasa untuk menghakimi Velo. "


Warga desa terdiam, mereka sebenarnya datang karena hasutan dari sebelah rumah Velo, juga karena permintaan kepala desa yang tidak rela ada pria lain yang datang sampai menginap padahal dia saja tidak sekalipun punya kesempatan untuk masuk ke rumah Velo. Sudah sejak Velo pulang ke rumah, kepala desa mencoba untuk masuk ke sana, dia mengetuk pintu dengan sopan tapi Velo tak menggubris, mencoba untuk membuat kunci duplikat, tapi tidak bisa di gunakan karena mungkin pintu di bagian dalam juga di kunci dengan cara lain oleh Velo.


" Kalian lebih baik bubar saja, asal kalian tahu ya? Kalian benar-benar menganggu waktu kami yang sedang ingin berkembang biak. " Kesal Rigo menatap benci kepada semua warga desa, mau tidak mau pada akhirnya mereka bubar dari halaman rumah Velo sembari bergerundel apa entah Rigo tidak tahu.


Velo, sedari tadi dia melihat kepala desa dari kejauhan dengan tatapan dingin. Ternyata pria itu benar-benar masih belum ingin berubah menjadi sedikit lebih baik. Usia sudah tidak muda lagi, sudah punya cucu juga tapi masih merasa muda seolah pantas untuk apa yang dia lakukan.

__ADS_1


Sadar jika Velo terus memperhatikannya, akhirnya kepala desa yang sedari tadi bersembunyi dari kejauhan buru-buru beranjak meninggalkan tempatnya.


" Ada apa? " Tanya Rigo saat menyadari tatapan Velo tidak biasa ketika menatap seorang pria yang agak tua berjalan dengan cepat itu.


" Pria tua tidak tahu malu itu, sedari dulu benar-benar minta di cekik sampai mati. "


" Ya ampun! Memang kenapa? Ve, tidak baik membenci orang sampai seperti itu, apalagi dia sepertinya juga kakek kan? "


Velo membuang nafasnya.


" Dulu, dia selalu mencoba untuk melecehkan Ibuku. Lalu setelah Ibuku meninggal, dia juga mencoba melecehkanku berkali-kali. "


Rigo terkejut dengan kesalnya.


Velo menahan Rigo dengan menarik baju belakangnya.


" Tidak usah jagoan, dia adalah pria manipulatif yang hebat, apapun yang akan kau katakan dan kau lakukan, dia akan selalu benar. "


Rigo membuang nafas kasarnya. Tidak, dia tidak bisa menerima begitu saja.


" Sudahlah, desa ini sepertinya memang tidak cocok untuk ku. "

__ADS_1


Rigo mengangguk dengan cepat.


" Tentu saja! "


Tapi aku tidak bisa membuatkan pria seperti itu tidak mendapatkan pelajaran agar bisa mengontrol dirinya, terutama isi di balik resletingnya. Iya, aku sih memang begitu juga, tapi untung saja aku belum tua, juga sudah tobat.


Setelah hari itu Velo tidak ingin membuang banyak waktu lagi. Dia segera mengemas seluruh pakaiannya, dan masalah rumah, Velo akan membiarkan janda tiga anak tinggal di sana, menunggu rumah, dan merawat rumahnya juga. Meksi begitu, Velo juga memberikan ponsel agar bisa terus berhubungan lewat telepon, dia juga akan memberikan biaya makan untuk mereka setiap bulannya.


" Sudah selesai? Kalau belum, biarkan aku bantu berkemas. " Ujar Rigo seraya berjalan mendekati Velo yang kini duduk di pinggiran tempat tidur.


" Sudah selesai, aku tidak membawa banyak barang waktu itu. "


Rigo memaksakan senyumnya. Sebenarnya dia masih sangat kesal karena gagal melakukan itu dengan Velo, tapi ya mau bagaimana lagi? Sepertinya berada di desa benar-benar bukan hoki nya jadi, dia akan benar-benar gencatan senjata begitu sampai di apartemen nanti.


***


Selena tersenyum bahagia setelah dia mendapatkan kabar bahwa dia di terima sebagai pelatih balet anak-anak. Lusa dia sudah bisa bekerja, jadi Selena benar-benar merasa bahagia.


Kehidupan ini memberikan banyak sekali kejaran untuknya. Dia yang sejak kecil terbiasa melakukan segalanya dengan mudah, mendapatkan apapun hanya dengan menggerakkan jari telunjuknya, di sanjung orang, dan di puja banyak orang. Akhirnya ada masanya juga dia begitu menderita karena terlalu menganggap semua mudah, bahkan urusan cinta juga dia anggap mudah.


Sekarang semuanya akan membaik setelah dia bekerja sangat keras untuk mendapatkan pekerjaan, tentunya pekerjaan ini di dapatkan oleh Selena setelah satu Minggu yang lalu dia mendatangi makam Maria. Selena sebenarnya cukup tersiksa dengan perasaan bersalahnya selama ini karena menjadi pemicu untuk Maria mengakhiri hidupnya. Dia meminta maaf sembari menangis karena dia benar-benar menyesali benar apa yang dia lakukan saat itu. Dia pikir manusia lain tidak akan selemah itu, tapi dia salah perhitungan dan ternyata ucapan menakutkan yang keluar dari mulutnya justru terjadi.

__ADS_1


Selena sengaja mengatakan hal jahat untuk menyadarkan Maria bahwa pria yang tengah dia kejar adalah pria brengsek yang sejak audisi memang sering mencoba untuk mendekatinya, dia ingin Maria lebih menghargai diri sendiri, tapi dia salah menggunakan kalimat yang pada akhirnya berakhir tragis untuk Maria.


Bersambung.


__ADS_2