
Rigo mengusap wajahnya dengan kasar karena ternyata keadaan apartemen Velo masih sama seperti terakhir dia datang. Rigo sudah mencari petunjuk dengan membongkar semua isi kamar untuk mencari tahu kemana kira-kira Velo pergi tapi tak ada satupun petunjuk yang bisa membuatnya tahu di mana keberadaan Velo.
Rasanya benar-benar ingin menangis sejadi-jadinya, tapi sadar juga bahwa menangis hanya akan membuang waktu untuk saat ini. Rigo kembali berjalan cepat meninggalkan apartemen, lalu tujuannya sekarang adalah Nyonya Laurent. Yah, dia lumayan tahu banyak hal tentang Velo, siapa tahu dia juga tahu di mana Velo berada sekarang. Tidak terpikirkan untuk menghubungi lebih dulu, tapi dia benar-benar ingin bertemu langsung dan menanyakan langsung.
Satu jam lebih Rigo menempuh perjalanan, akhirnya dia sampai di galery milik Nyonya Laurent, dan ternyata Rigo kembali mendapatkan kekecewaan karena ternyata Galery juga sudah tutup. Rigo sebentar menyenderkan tubuhnya di badan mobil sembari berpikir, dia ingat Nyonya Laurent pernah menghubunginya jadi dia mencoba untuk menghubungi Nyonya Laurent. Sampai panggilan ke delapan Rigo tidak mendapatkan jawaban entah kesibukan apa yang sedang di lakukan Nyonya Laurent, atau mungkin dia sengaja karena tahu apa yang akan di tanyakan Rigo dan dia tidak berniat memberitahunya.
Rigo menghela nafas, mencoba untuk menghubungi Velo dan seperti yang dia duga, nomor Velo tidak aktif sudah berlangsung satu bulan ini.
" Ve, kemana aku harus mencarimu? Sahabat yang lain aku tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. " Rigo membuang nafas kasarnya, menatap langit yang gelap, dan itu membuatnya dia teringat dengan Velo. Iya, Velo sangat menyukai langit malam seperti ini kan? Apakah Velo juga sedang menatap langit malam di tempat yang belum dia ketahui sampai sekarang? Kira-kira apa yang dia pikirkan sembari menatap langit malam?
Jika bukan Zegon, bukan juga dirinya, siapa yang ada di benak seorang Velo? Apakah sedikit saja dia memang tidak pernah mencintai pria? Apakah kenyamanan, ketulusan, uang, perhatian, semua itu tidak cukup menggetarkan hatinya? Hati adalah hati, tidak bisa di samakan dengan batu, baja atau apapun. Sekebalnya hati manusia, dia tetap akan merasa sakit saat ada yang menyakitinya, juga pasti akan merasakan bahagia juga bukan?
__ADS_1
Velo........
Rigo mengingat dengan jelas seperti apa senyum indah Velo saat berdama dengannya, cara bicara yang tidak biasa, sebentar menatap dingin, lalu menggoda, marah, arogan, licik, penuh akal juga intrik. Tapi wajah itu benar-benar sangat membuatnya rindu.
" Velove, kali ini biarpun kau bersembunyi di neraka paling dalam pun, aku tidak akan segan-segan mendatangimu. Aku tidak akan melepaskanmu, akan ku paksa kau tetap bersama denganku entah kau cinta atau tidak. " Gumam Rigo, lalu membenahi posisinya dan bangkit untuk segera masuk ke dalam mobil.
Disisi lain.
Senyumnya kala itu, senyum Ibunya sembari menahan tangis karena dia merasa sedih tak bisa memberikan kue ulang tahun seperti kebanyakan Ibu pada umunya di luar sana. Dia merasa gagal memang karena membawa hidup anaknya ikut susah, dia tahu cintanya kepada laki-laki brengsek yang tidak lain adalah Ayahnya Velo telah menyengsarakan anaknya. Dia tahu dia bodoh, dia tahu dia seharunya tidak begitu mencintai seorang pria yang dulu sebelum menikahinya adalah pria yang sangat baik dan terasa begitu mencintainya, pergi ke kota dengan tujuan agar dia dan calon anaknya nanti hidup bahagia, juga memiliki uang untuk persalinan yang utama. Tapi siapa sangka, niat awal itu berubah total saat suaminya melihat betapa indahnya kehidupan memiliki banyak uang.
Velo sebenarnya sangat membenci Ibunya saat Ibunya tetap mencoba memperbaiki citra Ayahnya di hadapan Velo dengan menceritakan semua kebaikan Ayahnya, alias Ayah Fer. Velo seperti tak memiliki alasan untuk membencinya, Velo memiliki perasaan cinta dan sayang kepada Ayahnya. Dia bahkan merindukan Ayah yang sama sekali tak pernah merindukannya, dia terus menunggu dan berharap Ayahnya akan datang sehingga dia bisa menunjukan kepada semua orang bahwa dia memiliki ayah, agar semua orang terutama teman dan tetangga yang selama itu mengatainya anak haram menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
Nyatanya, Ayahnya bahkan enggan menoleh saat melihatnya. Kalau dipikirkan lagi, bukankah kesalahan ini tidak hanya karena Ayahnya saja? Melainkan juga Ibunya sebagai tersangka utama. Dia adalah orang yang telah menanamkan perasaan cinta, sayang, dia membuat Velo mengangumi Ayahnya, dia membuat Velo memiliki harapan besar untuk mengharapkan cinta kasihnya terbalaskan. Dia menginginkan pelukan Ayahnya, dia menginginkan perlindungan Ayahnya. Setiap hari Velo hanya tahu berharap dan berdoa agar Ayahnya selalu sehat dan bahagia sehingga bisa cepat menemuinya.
" Dasar, kenapa semua orang nampak brengsek di mataku sekarang? "
Velo mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalan atas apa yang dia pikirkan. Dia mulai mencoba menggunakan kata seandainya saat memikirkan semua itu. Seandainya saja Ibunya menceritakan semua hal yang terjadi, biarkan dia memiliki pilihan untuk menyayangi atau membenci Ayahnya, luka yang dia miliki pasti tidak akan sebesar ini bukan? Ternyata benar, kalau di pikirkan Ibunya adalah orang yang paling bersalah atas semua yang terjadi. Kenapa sekarang anak harus di paksa untuk mencintai Ayahnya yang jelas mencintai Ayahnya akan membuat hatinya terluka? Seandainya Ibunya juga memberitahu keburukan Ayahnya, Seandainya, seandainya!
" Ah.......! "
Velo melemparkan vas bunga yang berada tak jauh darinya. Dia benar-benar marah sekali hingga tidak tahu harus mengatakan apa. Sudah satu bulan di desa dan dia masih belum mendatangi makam Ibunya. Sengaja? Iya! Velo sengaja belum datang kesana, bukan karena dia tidak ingin. Tapi dia tidak siap dengan perasaan marah, kecewa, membenci, sakit, perasaan itu semua sangat menyiksa di tambah kenangan masa lalu yang begitu segar di ingatannya terus berdatangan saling menyerbu berebut masuk ke otaknya untuk di ingat kembali oleh Velo.
" Sialan! Apa mati bisa menghilangkan perasaan seperti ini? "
__ADS_1
Bersambung.