
Satu bulan sudah terlewati, Ayah Fer benar-benar begitu rela menghabiskan seluruh waktunya untuk memunguti barang bekas agar dia bisa mendapatkan uang, bisa mengisi perutnya dengan makanan yang layak. Dia sudah mengetahui apa yang di derita tubuhnya yaitu, GERD. Penyakit ini juga sangat bahaya dan bukan tidak mungkin saat kambuh nanti akan membuatnya kehilangan nyawa. Rasanya benar-benar aneh, karena semenjak dia memeriksakan diri dan tahu apa sakitnya, dia justru terus berpikir, bahkan bisa di bilang banyak berpikir tidak ada habisnya hingga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kapan dia akan mati? Kalau mati dengan keadaan menyedihkan seperti sekarang bukankah wajar jika dia merasa tidak rela? Dia ingin hidup dengan nyaman selama ini, dia tidak pernah memikirkan apapun juga lupa kalau manusia pada akhirnya akan berakhir dengan kematian.
Dia memang jarang sakit setelah minum obat dengan rutin, dan memakan makanan seperti yang di anjurkan dokter padanya. Tapi, beberapa hari ini GERD nya sedang kambuh, jangankan untuk berjalan mencari barang bekas, untuk duduk saja dia sudah sangat kesulitan.
Sudah tidak ada uang lagi, dia benar-benar kehabisan uang karena sisa uangnya kemarin dia belikan obat dan makanan untuk dia makan. Tapi sayangnya tidak membaik, dan dia benar-benar hampir putus asa karena rasanya nyeri dan sangat sakit di bagian ulu hatinya.
" Ya ampun, kenapa sakitnya malah jauh lebih parah dari sebelum berobat? " Gimana Ayah Fer sembari menekan dengan lembut bagian perut di mana ulu hatinya yang terasa sakit. Ini sudah akan malam, tapi dia benar-benar belum makan nasi, hanya selembar roti tanpa selai dan hampir kadaluarsa yang dia makan, dan sepertinya dia hanya bisa berharap sakitnya mereda dengan sendirinya.
Ayah Fer tersentak, bukankah kalau orang sedang menderita, sakit, biasanya akan berdoa memohon kepada Tuhan untuk di sembuhkan? Ayah Fer mengangkat wajahnya menatap langit yang mulai gelap, memejamkan mata dan memohon kepada Tuhan di dalam hati untuk menyembuhkan sakitnya. Setelah itu selesai, Ayah Fer menghela nafas kecewa, rupanya sakitnya masih ada, justru semakin sakit saja rasanya.
" Sialan, aku haus juga. " Gumam Ayah Fer memegangi lehernya, merasakan benar dengan jelas kerongkongannya yang begitu keting sampai bibirnya juga kering dan pecah-pecah. Ayah Fer terdiam sebentar, dia ingin sekali bangkit dan berjalan, tapi dia benar-benar tidak mampu melakukanya.
__ADS_1
Tidak lama turunlah air hujan, Ayah Fer benar-benar sangat bahagia karena bisa minum gratis saat itu. Dia membuka mulutnya lebar-lebar membiarkan air hujan masuk ke dalam mulutnya. Dia cukup bahagia karena biarpun tidak deras setidaknya kerongkongannya lumayan basah. Sial! Padahal baru saja dia merasa senang, tapi tiba-tiba saja hujan berhenti sementara dia masih belum merasakan dahaganya hilang. Tapi dengan dia meminum sedikit air rupanya sakit di ulu hatinya berkurang, jadi dia mencoba meminum banyak air.
Sayang, tidak ada air di sana. Kalau ingin mendapatkan air gratis seharusnya dia berjalan dulu sampai ke taman kota karena di sana ada keran air yang tidak pernah habis airnya.
Ayah Fer ingin bangkit, tapi meskipun sakitnya sudah berkurang, dia tetap masih tidak bisa berjalan. Dia kembali duduk, menahan sakit yang begitu terasa dengan wajah meringis menahannya. Perasaan dia sebisa mungkin berjuang dengan baik, tapi kenapa selalu ada halangan di dalam hidupnya? Kenapa dia malah menjadi lebih sakit setelah berobat? Ayah Fer berjanji di dalam hati jika sembuh nanti, dia tidak akan menemui Dokter lagi karena Dokter hanya akan membuatnya lebih sakit.
Ingin tahu kenapa? Begini ceritanya.
Saat Ayah Fer pergi menemui Dokter, tentu saja Ayah Fer sudah mendaftarkan namanya terlebih dulu, dan Velo dengan cepat mendahului untuk bicara kepada Dokter sebelum Ayah Fer mendapatkan pemeriksaan.
" Dokter, saya tahu permintaan ini terlalu kejam. Tapi jika Ayah saya merasa putus asa, dia tidak akan memilih hobinya itu, di pasti akan kembali ke rumah karena dia sadar tidak bisa merawat diri sendiri bukan? Tolong Dokter, tolong katakan saja padanya semua hal buruk, katakan saja penyakitnya parah. "
__ADS_1
Tadinya Dokter nampak ragu untuk membantu Velo, tapi begitu melihat wajah sedih kalau Velo Dokter itu merasa tersentuh dan merasa begitu senang melihat seorang anak yang begitu menyayangi Ayahnya. Dokter itu mengangguk setuju setelah beberapa saat Velo terus mendesak dan memohon.
Apa tujuannya? Tujuannya adalah, menyerang Ayah Fer secara psikologis. Kalau Ayah Fer di takut-takuti soal penyakit dan kematian, orang seperti dia tentu saja akan panik, tidak rela karena merasa hidupnya sangat berarti. Jika otak terus merasa ketakutan akan kondisi tubuhnya, mengangguk dirinya sakit parah, maka apa yang dia pikirkan itu akan menjadi seperti perintah dari otak ke seluruh tubuh. Padahal tadinya biasa saja, jadi cukup parah akibatnya.
Kembali ke situasi Ayah Fer.
Setelah lelah tidak ada yang bisa dia lakukan dalam keadaan sakit sementara perasaan haus makin menjadi setelah dia merasa agak baikan ketika meminum air beberapa saat lalu. Ayah Fer menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia tak sengaja melihat air got yang keruh. Sebentar dia berpikir, tidak mungkin kan dia minum air got? Tapi kalau tidak minum apakah dia akan merasakan sakit lebih lama dari pada itu?
Perlahan Ayah Fer bangkit, di bersimpuh menatap air got yang kotor itu. Dia menangis pilu karena sebenarnya dia tidak rela, tapi dia tidak tahan dengan rasa sakit di ulu hatinya. Dia mengerakkan kedua tangannya, merapatkan smeua jemarinya agar bisa menabung air di sana. Ayah Fer memejamkan matanya, lalu perlahan meminum air got itu.
Bau, tidak enak! Tapi Ayah Fer tetap minum karena dia benar-benar ingin sakitnya mereda agar besok bisa bekerja lagi dan bisa membeli makan.
__ADS_1
" Huek! Huek! " Ayah Fer benar-benar ingin memuntahkan air yang sudah masuk ke tubuhnya, tapi air yang sudah tertelan sempurna itu hanya menyisahkan bau yang tidak sedap saja sampai baunya bisa di ingat dengan jelas di kepala Ayah Fer.
Bersambung.