
" Mentang-mentang sudah kaya, di undang untuk makan malam saja tidak mau datang. Orang seperti itu memang bagusnya hidup di hutan rimba, menyapa tetangga saja tidak pernah. Pergi ke kota bertahun-tahun tidak pulang, boro-boro pulang berbagi dengan tetangga supaya tetangga juga tahu rasanya kerja kerasnya. " Ujar tetangga Velo bergerundel bersama para Ibu yang lainnya.
Velo hanya menghela nafas, orang-orang seperti mereka, orang yang lebih mengutamakan mulut di banding otak, bukankah sama saja seperti anjing? Hanya bisa menggonggong saja bisanya.
" Pakiannya terbuka seperti itu apa tidak dingin ya? Udara di desa kan dingin sekali, aku saja tidak berani memakai baju seperti itu. "
" Sepertinya dia sedang ingin menggoda pemuda di desa, mungkin di kota tidak ada yang mau dengan dia. "
" Risih sekali ya melihat pakaiannya, seperti perempuan tidak benar saja. "
Velo benar-benar malas mendengar ocehan para Ibu-ibu itu lagi, dia yang sedang menyiram bunga di halaman rumahnya dengan segera berbalik dan mengatakan selang ke para Ibu-ibu itu membuat mereka berteriak kaget dan bubar dari formasinya.
" Apa-apaan kau ini?! " Protes para Ibu-ibu tetangga di sana.
" Kalian yang apa-apaan? Terus menggunjing ini dan itu, kalau kalian memang ingin bergosip, setidaknya jangan membiarkan aku mendengarnya. Juga, jangan sok kenal, apalagi ingin di sapa dengan ramah olehku! Kalian, wajah kalian masih aku ingat dengan jelas. Menghina Ibuku, menuduh Ibuku menggoda suami kalian, memaki Ibuku, melarang keras anak-anak kalian bermain denganku, berpura-pura tuli saat aku dan Ibuku meminta tolong, berpura-pura buta saat aku dan Ibuku kesulitan. Dari kalian semua, siapa yang tidak pernah menyakiti kami? "
Semua Ibu-ibu terdiam, mereka pikir Velo masih akan seperti dulu yang hanya tahu untuk diam dan tidak membantah saat ada orang yang membicarakannya.
" Hanya tahu bermulut besar, menilai orang dengan sok tahu hanya pakaian ku saja. Kalian tentu mana berani menggunakan pakaian seperti ku? Badan kalian apa pantas menggunakannya? Lain kali jangan lagi bicara yah tidak-tidak, atau kalian aku tahu bagaimana rasanya bermusuhan denganku. "
Para Ibu-ibu tetangga dengan segera bubar dari sana, tapi tetap saja mereka masih bergerundel di dalam hati tak terima dengan perlakukan Velo.
" Anu, Velo. Maafkan Ibu ku ya? Maklum saja, Ibuku memang berlebihan saat berbicara kan? Nanti aku akan menasehati Ibuku agar tidak sembarangan lagi. "
__ADS_1
Velo memutar bola matanya karena dia merasa jengah dengan pria tetangganya yang tiba-tiba muncul di dekatnya.
" Baik, nasehati Ibumu sana, sekalian kau juga nasehati dirimu sendiri. Aku, tidak suka ada orang yang sok dekat denganku, dan mengajak bicara seolah kita adalah teman dekat. " Ucap Velo lalu bersiap untuk masuk ke dalam rumah.
" Tunggu! " Cegah pria itu, tapi dia tak berani menahan lengan Velo seperti sebelumnya karena dia masih ingat dengan jelas tatapan dingin dan kesal Velo saat dia melakukan itu.
" Kita boleh berteman kan, Velo? "
Velo berbalik, dan dia tersenyum miring dengan tatapan dingin.
" Berteman dengan orang bermuka dua sepertimu adalah, hal yang paling menjijikan untukku. " Setelah mengatakan itu Velo langsung masuk ke dalam rumah tanpa mau menoleh sekalipun kepada pria tetangga yang bernama Gerry.
Gerry sebenarnya tidak ada niat pada awalnya untuk mendekati Velo, tapi begitu minat Velo sekarang yang sangat cantik, tubuhnya bagus, dia memiliki perasaan suka padanya. Dia ingin perlahan dekat dan berteman karena dulu dia juga satu sekolahan dengan Velo. Tapi saat Gerry mendatangi rumah Velo untuk mengundangnya makan malam kemarin, dia bisa melihat dengan jelas bahwa seisi rumah Velo adalah perabotan mahal. Lalu ia memperhatikan baju yang di gunakan Velo, ternyata juga baju yang bermerek. Timbullah keinginan untuk mendekati Velo, setidaknya dia bisa menumpang hidup dengan Velo karena belum lama ini dia di berhentikan secara sepihak oleh tepatnya bekerja.
Malam harinya.
Velo membuang nafas karena ternyata stok air di rumahnya habis. Mau tidak mau dia hanya bisa keluar rumah dan mencari toko kecil yang biasanya menjual minuman kemasan. Tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya juga, Velo langsung mengambil apa saja yang dia butuhkan. Dia juga mengabaikan tatapan yang tidak enak dari orang yang berada di warung, alias tetangganya juga. Ada beberapa anak muda yang bisa di sebut nongkrong, mereka menatap Velo dengan tatapan mata menjijikan tapi tak membuat Velo takut.
" Berapa totalnya? " Tanya Velo, penjual itu tersentak karena sedari tadi dia terus memperhatikan Velo hingga tidak sadar jika Velo sudah selesai untuk berbelanja.
" Ha? Ah, iya! " Penjaga toko kecil itu menghitung jumlahnya, lalu dengan cepat Velo membayarnya.
" Velo, mau aku antar sampai kerumah tidak? " Tanya seorang pria yang juga sedang berada di sana. Tentu saja Velo bisa tahu maksud pria itu hanya dengan melihat sorot matanya.
__ADS_1
" Tidak perlu. "
" Ayolah, ini di desa, jalanan agak gelap, kau tidak takut ada hantu? "
" Aku tidak perlu takut hantu karena aku membencinya, tapi di bandingkan membenci hantu, aku lebih membencimu. "
Pria itu tertawa seolah Velo justru terlihat menggemaskan dan menggoda.
" Udara di desa dingin, kau butuh sesuatu untuk menghangatkan tidak? "
Velo menghentikan langkahnya, membuang nafasnya dengan kasar.
" Jangan membuatku marah, saat kita kecil aku sudah membiarkan mu, kalian semua yang ada di sana menindas ku sesuka hati. Sekarang kau sudah sebesar ini, tapi otakmu masih seperti anak kecil yang ingin menindasku? Ah, kau tidak tahu ya kalau arwah Ibuku sering gentayangan? Dia akan mendatangi orang-orang yang brengsek sepertimu, mencekik sampai mati, lalu membawanya untuk di jadikan guling di kuburannya. Kalau kau sial, maka kau adalah korban ke lima ratus. "
Pria itu terdiam dengan tatapan terkejut, menelan salivanya dengan mimik ngeri, kau kembali bergabung bersama dengan teman-temannya.
Velo membuang nafasnya.
" Dasar anak bodoh! Sila! Ternyata istirahat di desa bukanlah pilihan yang tepat. " Gumam Velo lalu menjalankan kakinya menuju di mana rumahnya berada.
" Sepertinya aku harus memikirkan kemana aku setelah ini. " Gimana Velo.
Bersambung.
__ADS_1