Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Bola Kertas Berharga


__ADS_3

Rigo mendatangi banyak kenalannya yang memiliki koneksi cukup luas, tujuannya hanya satu yaitu, mencari keberadaan Velo. Tentu saja sulit untuknya menemukan Velo, kenapa? Karena sebelumnya Zegon seperti sangat melindungi Velo sehingga informasi apapun tidak ada yang bisa di dapatkan oleh Rigo. Bukan tidak mencoba sebelumnya, Rigo mendatangi Faro, memintanya untuk meminta tolong sahabatnya yang bekerja sebagai polisi untuk mencari tahu tentang Velo. Nihil, semua informasi yang ada hanyalah ketika Velo nersama dengan Zegon, sebelumnya sama sekali tidak terdeteksi. Bukankah Zegon begitu hebat? Rasanya ingin merasa salut dan kagum, tapi sialnya Rigo kan membenci Zegon, jadi simpan saja perasaan kagum itu di dalam otaknya.


Sudah seharian ini dia tersu mencari keberadaan Velo kesana kemari, dan sialnya Nyonya Laurent yang sangat dia harapkan ternyata sedang ke luar negeri mengunjungi putrinya yang tinggal di sana untuk menempuh pendidikan. Rigo sudah mencari tahu tentang Juno, tapi pria itu seolah menutup mulutnya rapat-rapat karena dia tidak mau melanggar janjinya kepada Velo. Tetapi satu hal yang Rigo tahu, Juno sendiri tidak tahu keberadaan Velo. Mengenai masa lalu Velo, Juno juga banyak tahu, tapi yang lainnya dia tidak tahu, tidak berani tahu karena Velo adalah orang yang paling tidak menyukai orang yang mencoba mengorek sesuatu darinya.


" Minum nih! Kau sudah seperti mayat hidup. " Ujar Faro menyerahkan sekaleng minuman soda berharap Rigo meminumnya dan bisa membuat sedikit hati Rigo lebih tenang.


Rigo menerima minuman kaleng itu, menghela nafas tapi tak merasakan keinginan untuk meminum minuman kaleng dingin di tangannya.


" Aku tidak menyangka loh kalau pada akhirnya kau akan jatuh cinta dengan perempuan itu. Aku pikir Selena adalah gadis paling hebat karena sudah bisa membuat si brengsek Rigo membenahi diri, ternyata ada yang jauh lebih hebat lagi. Dia bukan hanya bisa membuatmu jatuh cinta, tapi cinta mati sampai wajahmu seperti mayat saat dia meninggalkanmu. " Ujar Faro sebentar santai duduk di dalam mobil dengan jendela kaca yang terbuka lebar. Dia menikmati angin malam yah cukup dingin saat itu, tentu saja itu karena Faro tidak punya pilihan selain menemani Rigo mencari keberadaan istrinya. Rigo datang padanya, menangis seperti anak kecil yang mau di potong burungnya. Tidak ragu-ragu sesegukan meminta tolong dengan mimik yang melas membuat Faro tak berdaya juga tak bisa menolak.


" Aku pikir aku juga tidak akan mungkin bisa mencintai wanita lain selain Selena, anehnya dia membuatku begitu mudah melupakan Selena, lalu begitu kesulitan melupakan dia. Sejujurnya aku kesal sekali karena dia meninggalkanku seperti ini, tapi aku juga lega karena ternyata dia pergi bukan untuk bersama pria lain. "


Faro membuang nafasnya. Sungguh dia benar-benar lelah seharian ini harus pergi kesana kemari bersama Rigo untuk mencari tahu tentang keberadaan Velo.


" Rigo, kenapa kau tidak tanya dengan pria itu? " Tanya Faro.


" Dia, mana mungkin mau memberitahu ku? Dia juga sangat mencintai Velo, aku jelas bisa melihatnya meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di antara mereka sampai semua berakhir seperti ini. "


" Lebih baik kau coba saja dulu, meskipun dia mencintai Velo, kalau dari ceritamu aku rasa dia bukan pria yang egois. Terbukti selama ini dia bahkan membiarkan Velo melakukan apapun bukan? Dia sudah jelas sangat mencintai Velo karena hanya orang yang sangat mencintai lah yang akan rela melakukan apapun yang di inginkan wanitanya, dan rela menahan sakit asalkan wanitanya bahagia. "


Plak!


Rigo memukul pelan pipi Faro kesal.

__ADS_1


" Ingat, sahabatmu adalah aku, bukan pria itu! Jangan menyanjungnya, itu terdengar menyebalkan! " Kesal Rigo.


" Ah, iya iya! Aku kan hanya bicara saja, tapi saran ku untuk menemuinya dan bertanya padanya lebih baik kau coba dulu ya? Dia tahu banyak tentang Velo, aku yakin dia pasti tahu juga dimana Velo berada sekarang. "


Rigo terdiam, kalau dipikir lagi, sebenarnya bisa di bilang dia tidak tahu apapun tentang Velo, dibandingkan pria bernama Zegon itu, tentu saja dia tidak ada apa-apanya dalam banyak segi. Tapi, dia tidak menyerah, apapun halangannya, apapun resikonya, menemukan Velo adalah hal yang harus dia lakukan.


" Baiklah. "


Besok paginya.


Dengan segenap keberanian, Rigo akhirnya datang ke perusahaan keluarga Greff untuk menemui Zegon. Setelah melewati beberapa tahap peraturan perusahaan, akhirnya Rigo di persilahkan masuk ke ruangan Zegon.


Rigo terdiam sebentar begitu dia melihat Zegon duduk di kursi kerjanya dengan tatapan tak biasa, bibirnya tersenyum miring entah apa yang sedang dia pikirkan.


Rigo menghela nafasnya, ternya pria di hadapannya ini bukanlah pria yang bisa dia remehkan begitu saja. Sepertinya dia tahu banyak hal seolah hampir semua yang dia butuhkan ada di genggamannya.


" Untuk kali ini, tolong bantu aku. " Ucap Rigo dengan tatapan memohon, dia bahkan sampai sedikit menunduk yang tidak pernah dia lakukan hanya untuk seorang wanita.


Zegon memundurkan punggungnya, menyandar di sandaran kursi dengan nyaman sembari terus menatap wajah Rigo yang terlihat memohon dan putus asa. Sebenarnya dia senang sekali melihat wajah seperti itu dari Rigo, tapi sayangnya juga terlihat membosankan.


" Bantu apa? Kalau kau butuh bantuan lebih baik banyak berdoa dan memohon kepada Tuhan, bukan begitu? " Zegon mengakhiri ucapannya dengan senyum miring yang begitu jelas.


" Aku benar-benar serius, tolong bantu aku menemukan Velo. " Pinta Zegon semakin rendah suaranya hingga membuat Zegon terdiam sebentar. Benar, pria di hadapannya juga mencintai wanitanya.

__ADS_1


" Aku bukan Tuhan yang tahu di mana keberadaan Love kalau dia tidak memberitahu padaku. "


Rigo masih belum ingin menyerah, dia membuang nafasnya pelan. Kali ini saja, dia benar-benar tidak perlu memperdulikan dirinya, harga dirinya, asalkan bisa tahu dimana Velo bukankah itu hal yang jauh lebih untung?


" Tolong, beritahu aku tentang asal Velo, dari daerah mana dia berasal. Aku ingin mencari dia dari tempat asalnya, atau bisa beritahu aku tepat yang biasa di kunjungi Velo di saat suasana tertentu. "


Zegon menghela nafas. Sialan! Dia tidak rela sekali, tapi setidaknya kalau dengan pria brengsek bernama Rigo itu Velo pasti akan aman bukan?


" Kemana Velo dan dimana dia, tentu saja berada di manapun tempat yang dia mau. Tapi setahuku, dia tidak melakukan aktivitas penerbangan. "


Rigo menjadi bersemangat.


" Bagaimana dengan tempat asalnya? "


Zegon membuang pandangannya sebentar.


Asal? Tentu saja berasal dari rahim Ibunya, bodoh!


Zegon mengeluarkan kertas kosong, menuliskan sebuah alamat di sana, lalu membuatnya menjadi bentuk bola dan melemparkan kepada Rigo.


" Jangan tanya apapun lagi, kalau tidak aku akan memukulmu sampai mati. "


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2