Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Situasi Macam Apa?!


__ADS_3

Setelah cukup lama terdiam dengan segala pemikirannya, Velo meninggalkan butik dan menuju sebuah tempat di mana dia bisa menangkan diri sebentar. Sebuah taman kota, begitu banyak bunga, pepohonan bahkan juga ada beberapa macam phon buah yang kini mulai berbuah di dana. Tidak ramai pengunjung yang datang, jadi Velo bisa duduk tenang dan menikmati pemandangan indah meski itu tak seindah buatan alam.


Velo memejamkan mata, niatnya adalah untuk tenang dan melupakan semua yang mengganggu otaknya. Tapi sayang, dia malah terus teringat kejadian sepuluh tahun lalu itu.


Setelah di usir oleh Ayahnya, Velo berniat kembali untuk bicara dengan Nyonya Fer untuk memperingatkan Nyonya Fer agar berhati-hati dengan Ayahnya. Dia tidak ingin Nyonya Fer di sakiti seperti Ibunya dan membuat hidup putrinya menderita. Tapi sayangnya, baru saja melihat Velo kembali ke pintu gerbang, Nyonya Fer dengan segera berjalan menghampirinya, membawanya menjauh dengan mencengkram lengannya sangat kuat.


Bruk!


Nyonya Fer menghempaskan tubuh Velo ke tanah, punggungnya yang membentur pembatas rumah atau pagar beton itu hanya bisa meringis, menatap penuh tanya, apa salahnya?


" Jangan kira aku tidak tahu siapa kau! Jangan mendekati keluargaku lagi, kau seharunya tetap hidup di desa, mati saja bila perlu agar menjadi berkah untuk kami! Jangan harap kau ingin menyaingi putriku yang jelas tidak bisa di bandingkan dengan! Kau yang dekil, bau, jelek, bahkan tampangmu yang seperti gelandangan ini tidak pantas untuk menjadi keset rumahku! Pergi sana! "


Velo menahan tangisnya dan perlahan bangkit sembari menatap kedua bola mata Nyonya Fer. Matanya yang kala itu begitu polos, menitihkan air mata, bibirnya yang mulai ingin terbuka membuat Nyonya Fer semakin terlihat kesal.


" Bibi, Ibuku selama ini menderita karena- "


" Tutup mulutmu! " Nyonya Fer kembali mendorong tubuh Velo dengan kuat karena dia tidak siap dengan apa yang akan di katakan Velo. Tapi sayangnya gerakan refleks itu membuat Velo terjauh untuk kesekian kalinya, parahnya kepalanya membentur batu beton cukup kuat hingga mengeluarkan darah.


Velo menyentuh air yang terasa hangat mengalir di kepalanya, lalu dengan tangan dan tubuh gemetar dia menyakitkan dengan kedua bola matanya sendiri jika air hangat itu ternyata adalah darah.


Nyonya Fer terlihat ketakutan saat itu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada kamera pengawas yang menyorot. Dia mengeluarkan uang koin dari dompet yang dia pegang, melemparkan ke wajah Velo membuat Velo tambah kesakitan tentunya.


" Pergi sana! Jangan datang lagi, atau kalau tidak, aku tidak akan segan-segan membuatmu menderita! "


Velo menahan lengan Nyonya Fer membuat lengannya tertinggal noda darah di sana.


" Kau gila ya?! " Nyonya Fer menepis tangan Velo dengan kasar.


" Bibi, tolong berikan aku obat, aku tidak ingin mati. Ibuku bilang aku harus hidup panjang, aku takut dengan darah yang banyak ini, tolong, Bibi. "


" Jangan panggil aku Bibi! Obati saja lukamu sendiri! Siapa yang suruh tubuhmu sangat letoy! "


" Bibi, aku kan anak tiri Bibi, jadi sekali ini saja tolong obati lukaku, aku takut dengan darah banyak ini. " Rengek Velove karena memang dia sangat takut dengan darahnya yang begitu banyak keluar dari kepalanya. Luka di lututnya masih bisa dia tahan, tapi darah yang begitu banyak membuat Velo takut mati dan membuat Ibunya kecewa padanya.

__ADS_1


Cuih!


Velo langsung terdiam tak berkata-kata lagi karena tiba-tiba saja Nyonya Fer meludahinya, tepat di wajahnya. Velo menatap wajah Nyonya Fer yang tidak hentinya menatap sinis, jijik, dingin, bahkan seperti terus menyumpahinya untuk mati.


" Jangan lagi mengatakan jika kau adalah anak tiriku, sudah ku bilang untuk menjadi keset saja kau masih tidak pantas. " Ucapan Nyonya Fer itu adalah yang terakhir Velo dengar.


Hanya diam, diam, tak menangis lagi, Velo seperti kehilangan ingatan tentang cara mengisi. Darah yang keluar dari kepalanya benar-benar tak lagi dia hiraukan, dia tak lagi merasakan kesakitan seolah luka dan rasa sakit itu tak mampu mengalahkan luka di hatinya.


Velo berjalan dengan pincang, luka di lutut, luka di siku, di kepala, di punggung, luka di hati, semua akan dia jadikan bekal untuk membalas dendam.


Velo menggelengkan kepala mengusir ingatan itu, dia kembali memfokuskan matanya menatap indahnya danau buatan, bunga yang menjadi pembatas danau, serta angsa yang berenang ke sana ke mari membuat Velo perlahan bisa tersenyum.


Sepuluh tahun setelah itu hidup Velo memang tak berhenti pahit, tapi kepahitan, kesedihan, kekecewaan, semua perasaan itu membuat seorang Velo tumbuh dengan kuat, dia selalu bisa memiliki jalan keluar dari situasi berbahaya. Tidak apa-apa menjadi jahat, tidak apa-apa memiliki dendam meski menurut orang lain dendam hanya akan membuat lebih sakit hati lagi. Tapi, untuk sebagian orang, dendam dapat membangunkan jiwa yang hampir mati, hampir menyerah, putus asa dan akhirnya memiliki tujuan dan tekad yang besar untuk berjuang hidup. Jangan sepelekan sebuah dendam, karena hanya dengan dendam, manusia bisa menjadi iblis, manusia bisa menjadi predator, manusia menjadi monster. Bersikap baiklah meski hati tidak rela, perbuatan buruk pada akhirnya akan kembali menyerang diri sendiri.


Velo tersentak kaget karena suara Ponselnya yang berdering, dan segera dia menerima panggilan telepon itu.


" Iya? "


Nona Ve, ada tamu penting yang datang ke butik, dia sedang menunggu anda.


" Siapa? "


Tidak mau menyebutkan namanya, Nona Ve.


" Apa wajahnya seperti anjing? "


Eh, anu, tidak.


" Apa mirip babi? "


Ti tidak juga, Nona Ve.


" Baguslah, aku sudah muak berbicara degan anjing, jadi waktunya untuk bicara dengan manusia. " Ucap Velo lalu memutuskan sambungan teleponnya. Sebentar dia membuang nafasnya, entah siapa yang datang ke butiknya, tapi lebih baik dia temui saja dari pada nanti akan timbul masalah baru.

__ADS_1


Velo bangkit dan dengan segera menuju dimana mobilnya terparkir. Untunglah butik di mana pegawainya mengubungi tidak jauh dari taman kota sehingga tidak membutuhkan banyak waktu terbuang di perjalanan.


Begitu sampai di butik.


" Ah, menantuku sudah datang! "


Velo membulatkan matanya karena begitu terkejut melihat Ibunya Rigo, atau Nyonya Elena tersenyum, berjalan ke arahnya dengan langkah kaki setengah berlari, meraih tangannya dan menggenggamnya dengan hangat.


" Bi Bibi, anda- "


" Ah, coba lihat bajumu! Kau terlihat seksi dan sangat cocok untukmu! "


Velo masih kebingungan, dan setelah sepuluh tahun ini situasi teraneh yang pernah dia hadapi.


" Velo, hari ini kau sibuk tidak? "


" Si sibuk. " Jawab Velo.


" Bagus, kalau begitu temani Ibu ke panti asuhan untuk mengantarkan donasi ya? "


Ibu? Tunggu! Dia kan sudah jawab kalau dia sibuk?!


" Ayo cepat! " Ajak Ibunya Rigo membuat Velo gelagapan sendiri.


" Tunggu, Bibi! Aku sibuk, sibuk sekali! Aku juga tidak suka kegiatan donasi, aku tidak suka donasi, dari pada donasi lebih baik aku ke salon untuk mempercantik diri! "


" Salon? "


Velo tersenyum, bagus! Seperti ini bagus!


" Benar, kita ke salon saja yuk! "


Apa?! Dia bukannya harus marah?! Tidak, tidak, ini apa-apaan?!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2