Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Sudah Akan Berakhir


__ADS_3

Ayah Fer kebingungan kemana dia harus pergi, yang di kantong celananya jelas cukup kalau untuk pergi ke desa, tapi setelah di desa bagaimana dia akan bertahan hidup? Tanah belakang rumah sudah di jual untuk berobat Ibunya sebelum meninggal, dia hanya punya rumah dan sedikit halaman rumah, di tambah rumah itu juga sudah di berikan kepada kakaknya karena emang kakaknya yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk membenahi rumah, juga merenovasi ulang. Kondisi di sana juga jelas tidak akan mendukung kalau dia tidak punya uang, pertama dia tidak akur dengan kakaknya karena selama ini dia selalu banyak alasan ketika di mintai uang patungan untuk berobat Ibunya, dan pasti sudah tahu apa alasannya Ayah Fer tidak bisa sering mengirim uang, iya, karena semua uang berada di bawah kendali istrinya.


Ayah Fer juga tidak akur dengan para tetangga, semua itu karena dia begitu sombong setelah menikahi Nyonya Selena, dia banyak memakai orang desa saat mereka tak menghormati dirinya, dia juga di benci banyak orang karena sudah menelantarkan Velo dan juga istrinya sedari istrinya hamil muda.


Menyesal? Iya sudah tentu dia menyesal, tapi bukan menyesal seperti yang sedang kita pikirkan, dia hanya menyesal karena pada akhirnya dia memilih pilihan yang salah, membuatnya banyak merugi, juga hidup sulit di usia yang sudah hampir tidak produktif.


Tersisa beberapa lembar uang saja, juga hanya ponsel di sakunya. Jadi dengan segala keberanian yang dia miliki, Ayah Fer menghubungi beberapa kenalannya, tujuannya adalah untuk meminjam uang dari mereka, di kumpulkan menjadi satu, dan kabur begitu saja untuk ke desa sehingga dia bisa hidup dengan baik di desa. Tapi, sudah beberapa kali dia menghubungi kenalan yang dia kenal karena istrinya, dan kebanyakan mereka adalah orang berada, Ayah Fer sama sekali tak mendapatkan bantuan pinjaman sedikitpun. Dia teringat dengan Rigo, tapi dia juga merasa takut kalau yang menerima panggilan suara itu adalah Velo seperti sebelumnya.


Ayah Fer membuang nafasnya, sejak semalam dia sama sekali tidak tidur memikirkan bagaimana jalan keluarnya, juga meratapi uangnya yang hilang di ambil dua preman brengsek. Dia terdiam memandangi ponselnya yang sudah akan kehabisan baterai, lalu membuang nafasnya. Harapan terakhirnya adalah Rigo, hanya dia yang bisa dia harapan dan semoga saja kalo ini Rigo yang menerima panggilan telepon darinya.


Satu panggilan tak mendapatkan jawaban, Ayah Fer mulai kembali mencoba menghubungi Rigo, hingga panggilan ke enam akhirnya dia mendapatkan jawaban.


Halo?


Ayah Fer menghela nafas lega karena ternyata Rigo lah yang menerima panggilan telepon darinya.


" Rigo, apa boleh kita bicara sebentar? "


Ah, iya. Ada apa, paman?


" Anu, begini Rigo. Sebenarnya paman sedang ada dalam masalah yang tidak baik, paman habis kerampokan semalam, paman bisa minta tolong pinjamkan uang? "


Bagaimana ya? Sebenarnya aku tidak yakin bisa membantu.

__ADS_1


" Begini, Rigo. Paman berencana akan menjual tanah dan rumah di desa, sekarang sedang dalam tahap negoisasi, jadi kau tidak perlu khawatir soal ini. Paman akan mengembalikan uangmu segera setelah rumah paman terjual. "


Tidak ada suara.


" Rigo? "


Ah, iya maaf!


" Bagaimana? Kau bisa membantu tidak? "


Paman, semua uangku sekarang berada di tangan istriku. Semalam aku baru saja meletakkan kartu debit ku di dompetnya, agak aneh sekali kalau aku mengambil kartu debit dari istriku.


Ayah Fer mengeryit bingung. Dia kembali melihat layar ponselnya, dan yakin benar, dia tidak salah menghubungi orang, tapi kenapa Rigo menyebut kata istriku?


Tidak, aku memang sudah menikah beberapa bulan lalu, paman. Istriku namanya Velove, paman sudah pernah bertemu dengannya, ah, lebih tepatnya paman kenal sekali dia kan? Sekarang paman sudah tahu kalau semua uang sudah aku berikan kepada istriku, jadi aku minta maaf tidak bisa mengambil kembali uang yang sudah aku berikan padanya. Kalau paman sangat butuh sekali, cobalah dulu untuk membicarakan ini dengan istriku.


Ayah Fer langsung mengakhiri sambungan teleponnya dengan mimik terkejut. Menikah? Jadi selama masih menjalin hubungan dengan Selena, Rigo juga Velo sudah menikah diam-diam? Ayah Fer merasakan kesal di dalam hatinya, sial! Sekarang dia benar-benar tidak bisa tidak percaya kalau Velo sengaja melakukan ini semua untuk membalas dirinya.


" Dasar anak durhaka! Bukannya berterima kasih kepada ku, kalau saja tidak ada aku bagaimana mungkin ada kau! Seharusnya dulu aku suruh saja Ibumu menggugurkan kandungan, atau memang lebih baik menginjak perut wanita itu supaya kau tidak lahir! " Kesal Ayah Fer, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Memohon kepada Velo? Tidak, tidak mungkin dia melakukan itu. Dia tahu benar bahwa Velo sangat sulit di hadapi. Cara bicaranya yang begitu dingin, sadis, dan arogan, sepintar apapun orang bicara dengannya, dia tetap akan bisa membuat ucapan orang lain seperti angin busuk saja.


" Dasar anak sialan! Kenapa dia tidak seperti Ibunya saja sih! Seharusnya dia itu pendiam, bodoh, mudah di tindas, sama persis seperti Ibunya. " Ayah Fer bangkit, dia sudah benar-benar lelah sekarang, lebih baik berjalan kaki saja, siapa tahu dia mendapatkan pekerjaan dan bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.


Apartemen Alexandre Gold.

__ADS_1


Velo tersenyum menatap Rigo setelah Rigo selesai bicara dengan pria yang pasti itu adalah Ayahnya. Sebenarnya alasan Rigo memang benar adanya, kemarin malam, dia melihat ada satu kartu debit yang bukan miliknya, dan dia baru tahu kalau kartu debit itu adalah milik Rigo setelah Rigo bicara dengan Ayah Fer barusan.


" Kau terus tersenyum seperti itu, apa kau mau mengajakku untuk main terkam menerkam? " Ujar Rigo yang begitu tak tahan melihat cara Velo menatapnya dengan tatapan yang begitu ambigu.


" Kita sudah selesai semalam, kau juga harus bekerja kan? "


" Tidak masalah juga libur sehari lagi. " Ujar Rigo.


Velo menghela nafasnya.


" Tidak bisa, aku takut kena amukan Ayahmu. Ngomong-ngomong, aku mendapat kabar kalau Ibunya Selena terkena stroke, apa kau tidak ingin melihat keadaannya? "


Rigo yang sedang sarapan itu segera menghentikan kegiatannya sebentar.


" Iya, nanti kita lihat keadaanya bersama-sama. "


" Bersama? Kau ini tidak tanggap ya? Aku sedang memberikan ruang untukmu dan Selena loh. "


Rigo menghela nafas, melanjutkan kegiatan sarapannya dan tidak berniat menjawab ucapan Velo barusan.


Velo tersenyum memperhatikan wajah Rigo.


Sudah berakhir, apa yang aku perlukan darimu sudah berakhir, Rigo. Kembali ke tempatmu, aku akan menyelesaikan sisanya dan mengakhiri semuanya dengan cepat. Aku tidak pantas untuk perhatianmu, kau bisa memilih wanita lain di luar sana, aku sudah selesai denganmu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2