Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Harmonis Menuju Miris


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Selena menceritakan semua yang di katakan Rigo kepadanya, di sana juga ada Ayahnya yang hanya bisa terdiam, bingung harus melakukan apa. Di sisi lain dia sangat menyayangi Selena, di sisi lain dia tidak berani banyak bertindak karena Velo pasti tidak akan tinggal diam. Sial, dia sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya dia akan kembali di buat kesulitan oleh Velo. Dia pikir Velo akan menjauh karena membencinya, hidup dengan kehidupannya sendiri, bahkan juga akan melupakan kalau dia memiliki seorang Ayah.


" Berhentilah untuk terus menangis, Selena! Itu tidak ada gunanya! "


Selena terdiam dengan wajah terkejut, begitu juga dengan Tuan Fer yang terkejut bukan main melihat istrinya untuk pertama kali memarahi Selena, berbicara dengan nada tinggi dan mimik kesal.


" Ibu, barusan Ibu membentakku? " Tanya Selena membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Tentu saja dia terkejut, sebelumnya tidak pernah Ibunya membentak seperti ini, kalaupun marah Ibunya pasti akan lebih memilih untuk mengatakan semua uneg-uneg nya dengan nada bicara yang lembut.


Nyonya Fer membuang nafasnya. Sebenarnya dia tahu kalau tidak boleh membentak putrinya seperti ini karena dia tidak biasa dengan kekasaran. Tapi kondisinya sekarang ini juga sedang tidak baik, dia stres karena butiknya tidak buka, sepi, dan bisa jadi akan segera tutup. Di tambah selama ini suaminya hanya di sibukkan dengan membantunya di butik, bisa di bilang butik adalah satu-satunya mata pencarian keluarga Selena. Jadi jika butik sampai tutup, bagaimana dia akan menjelaskan ini kepada Ibunya selaku pemilik butik sebelumnya? Tapi kalau tidak di tutup dia juga tidak akan sanggup membayar biaya listrik dan pajak pendapatan tiap tahun. Masalah tempat, butik itu di bangun dengan tanah pribadi, meskipun tidak berat, tetap saja sulit kalau tidak ada pemasukan kan?


" Selena, kau ini sudah dewasa. Usiamu sudah akan dua puluh tiga tahun. Cobalah untuk mencari pekerjaan, bantu Ibu menghasilkan uang supaya keluarga kita bisa makan. "


Selena ternganga tak percaya, air matanya masih mengalir deras dengan jantung yang berdebar begitu kencang, dadanya tiba-tiba terasa sakit juga nyeri membuat Selena terdiam menahan rasa sakit, tambahan kecewa, juga marah.


" Kau juga, Fer. Kau carilah pekerjaan supaya kita bisa makan dan menghasilkan uang untuk masa tua. Kau tahu benar butik kita sudah tidak buka kan? Kau mau diam terus di rumah sampai kapan? Dari dulu sampai sekarang hanya tahu bersembunyi di ketiak ku, pergilah sana cari kerja! " Nyonya Fer menatap sinis suaminya yang sedari tadi memilih diam tak bersuara.


" Ibu, kenapa aku jadi memiliki kewajiban untuk mencari uang? Aku kan anak Ibu, aku tidak harus di tuntut untuk memenuhi kebutuhan keluarga kan? " Selena bertanya sembari menyeka air matanya.


" Ibu tidak memintamu untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Selena. Ibu hanya meminta sedikit bantuan, lagi pula kalau kau masih ingin sekolah ballet lagi, kau akan selesai di usia dua puluh enam atau dua puluh tujuh. Apa yang akan kau lakukan di usia itu? Jika kau mencari pekerjaan, mungkin kau sudah bisa menghasilkan uang untuk membeli apa yang kau inginkan. Ibu tidak bisa menjamin kau bisa sekolah ballet lagi karena keuangan Ibu juga sudah sangat sulit. Kalaupun ingin mengandalkan Rigo, kau tahu sendiri bagaimana pendapatnya kan? Lagi pula menjadi Balerina itu bukan hal mudah, belum tentu juga kau akan menjadi Balerina. "


Selena bangkit dari posisinya, dia berjalan cepat menuju kamarnya, lalu menangis sesegukan di sana. Salahkah dia memiliki cita-cita sebagai Balerina? Apakah salah untuknya jika ingin sekolah ballet agar bisa mendapatkan lebih banyak ilmu dan pelatihan yang tepat agar kemungkinan menjadi balerina semakin besar?

__ADS_1


" Fer, selama ini kau sudah banyak menikmati uang butik itu kan? Besok carilah pekerjaan, bantu menghasilkan uang, dan aku juga akan berusaha untuk tetap bisa menghasilkan uang. "


" Sayang, kau tahu kan usiaku sudah tidak muda lagi? Akan sulit sekali untukku mendapatkan pekerjaan dengan usiaku ini. " Ujar Ayah Fer karena memang usianya sudah lima puluh tahun, jadi pekerjaan juga akan sulit dia dapatkan.


" Kau belum mencobanya, tapi sudah mengeluh. Fer, jadilah sedikit berguna untuk keluarga, mau sampai kapan kau terus seperti ini?! "


Ayah Fer terdiam menahan amarahnya yang juga naik. Sejujurnya dia sudah banyak berkorban demi istri dan anaknya, mulai dari meninggalkan Velo serta Ibunya, membantu semua pekerjaan istrinya, mengasuh Selena, yang bangun malam hari untuk membuatkan susu dan menenangkan Selena juga dia. Tapi semua itu benar-benar tak terlihat sama sekali. Padahal bukan hanya urusan anak, dia juga membantu menjalankan butik milik istrinya. Mulai dari bahan, memantau proses penjahitan, memilih manik, Payet, dan jenis benang yang akan di gunakan. Tapi kemana semua pengorbanan itu? Kenapa tidak terlihat sama sekali di mata istrinya yang selama ini dia puja-puja?


***


Velo tersenyum sembari memejamkan mata menikmati udara malam yang begitu tenang. Velo kini berada di posisi duduk di balkon apartemen, menikmati benar detik demi detik proses yang begitu menantang, kadang membuat emosinya naik, kadang lucu, kadang gelisah, berlebihan sekali bukan sikap Velo dalam menikmati hidup? Tapi yah, setiap orang memiliki proses berjalannya hidup dengan ujiannya masing-masing hingga membentuk pribadi yang tidak biasa juga bukan hal yang aneh sebenarnya.


Velo membuka matanya, lalu tersenyum kepada Rigo yang baru saja pulang ke apartemennya.


" Hidup hanya sekali, sayang. Jika tidak di nikmati baik-baik bagaimana bisa orang akan merasa bahagia? "


Rigo menghela nafas, lalu duduk di samping Velo.


" Wajah jelekmu ini kenapa kau bawa pulang? Apa makan malam dengan kekasihmu tidak berjalan lancar? Atau, itu mu tidak bangun saat sudah akan kau gunakan? "


Rigo mendorong dahi Velo pelan.

__ADS_1


" Otakmu benar-benar sangat berbahaya. "


Velo terkekeh.


" Selena, dia sudah tahu tentang hubungan kita. "


Velo tersenyum.


" Kau baru menyadarinya? Dia bahkan sudah tahu sejak lama. Di restauran waktu itu, dia memakiku sesuka hatinya, mengatakan satu kalimat yang paling aku benci di dunia ini. Aku mencekiknya, karena aku merasa muak dengan mulutnya. " Velo kembali tersenyum menatap Rigo.


" Akan lebih baik jika kau bersikap masa bodoh seperti biasanya, jangan menggunakan tanganmu untuk melukai orang lain. "


Velo tersenyum dengan tatapan kesal.


" Rigo, semua orang boleh memakiku sebagai jal*ng, pelac*r, murahan, rendahan, tidak tahu malu, tidak tahu diri, wanita hina, atau apapun itu. Tapi ada satu orang yang tidak boleh di maki, dan Selena melakukan itu. Mungkin kau tidak tidak percaya, tapi aku bukan orang yang perduli apa yang akan terjadi nanti. Ketika aku ingin memukul, memaki, membunuh maka akan aku lakukan. Aku bukan orang yang perduli masa depan, jadi jagalah baik-baik kekasihmu, jangan sampai tanganku ini membuat nyawanya minggat. "


Rigo terdiam.


Kau tidak perduli dengan masa depanmu, tapi aku perduli.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2