Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Bibi Saja, Itu Sudah Cukup!


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Nyonya Elena bertemu dengan Velo, sebenarnya dia sudah datang terlebih dulu ke butik sebelumnya yaitu, butik dimana Velo dan Nyonya Fer berbincang. Tadinya dia ingin langsung masuk ke butik setelah sampai di ambang pintu, tapi pembicaraan di antara Velo dan Nyonya Fer terdengar sangat serius sehingga dia memilih untuk diam mencuri dengar, dan dia juga sudah meminta pegawai butik Velo untuk tidak memberitahu kedatangannya. Nyonya Elena sengaja lebih cepat meninggalkan butik Velo sebelum Nyonya Fer keluar, tujuannya adalah karena dia tidak ingin ada kecanggungan yang tidak penting nantinya.


Sebagai orang wanita, dia juga pernah mengalami masa muda, dia tahu benar bagiamana rasanya di sakiti oleh orang lain, karena dulu dia tinggal bersama Ibu tiri yang sama sekali tidak menyukainya. Setelah lulus sekolah menengah atas dia di giring untuk di nikahkan dengan Ayahnya Rigo sementara anak kandungnya sendiri di kirim ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Dia pikir dia adalah wanita paling menyedihkan kala itu, karena selain memiliki Ibu tiri jahat, Ayah yang kurang perduli, dia juga di nikahkan dengan pemuda yang begitu hobi bergonta-ganti wanita.


Ternyata, dunia memang menyuguhkan jalan cerita berbeda, kesakitan berbeda, juga penderitaan yang berbeda di setiap manusia. Nyonya Elena jadi merasa agak bersyukur karena setidaknya dia tidak begitu menderita seperti Velo. Dia memang belum tahu seberapa bertanya penderitaan Velo, tapi melihat dari cara Velo yang justru haus akan kebencian, tak mengizinkan dirinya untuk segan, begitu hebat tersenyum menyembunyikan lukanya, hanya orang-orang dengan penderitaan totalitas yang bisa melakukan itu. Ah, lebih tepatnya lagi, Velo adalah orang terhebat, terkuat, yang pernah Nyonya Elena kenal. Karena jika saja itu bukan Velo, maka sudah pasti hanya tinggal nama yang bahkan tidak di ingat oleh orang lagi.


" Bibi, sebenarnya aku tiba-tiba merasa tidak perlu ke salon. " Ucap Velo memaksakan senyumnya membuat Nyonya Elena tersadar dari lamunannya.


" Ayolah, katanya kau kak sudah menikah dengan Rigo, aku yang sebatang kara ini tidak punya teman di rumah, jadi kemana kau ingin pergi tolong ajak wanita sebatang kara ini ya? "


Velo terdiam keheranan, juga bingung harus bagaimana menjauhkan si Ibu mertuanya yang tiba-tiba saja menembak padahal sebelumya sangat dingin dan terlihat tidak menyukainya.


Sebatang kara? Apanya yang sebatang kara? Alasan itu terlalu tidak normal dan membuatnya curiga.


Nyonya Elena tersenyum tipis, sebenarnya jika Velo tahu dia merasa kasihan, pasti Velo akan sangat tidak nyaman, dan akan menjauhinya. Tapi untuk mencari tahu bagaimana Velo yang sebenarnya tentu saja harus melangkah lebih maju dengan cara yang tidak biasa. Velo, gadis itu nampak tidak membutuhkan orang lain, dia tidak perduli dengan orang lain, bahkan parahnya dia juga tidak memperdulikan dirinya sendiri.


Tahu, Nyonya Elena tahu benar cara bersikapnya sangat tidak biasa, tapi dia yakin benar dengan cara ini dia bisa perlahan mendekatkan diri dengan Velo, dan menilai seperti apa Velo yang sebenarnya.


" Bibi, aku ingin pergi ke bar nanti malam. Biasanya aku akan minum sampai mabuk parah, jadi Bibi tidak perlu ikut kemana aku pergi kan? "

__ADS_1


" Hari ini kan ada mertuamu, jadi temani saja dulu aku ya? Ngomong-ngomong kenapa terus memanggilku Bibi? Bagaimana dengan Ibu? Kita juga belum berkenalan loh kemarin. "


Velo terdiam, Ibu? Tidak! Dia tidak bisa memanggil wanita lain dengan sebutan itu karena terlalu menyakitkan untuknya. Ibu, sosok itu begitu membekas, sosok yang sudah menjaganya dengan baik, tapi juga menjadi penghubung jalan menuju ke penderitaan. Jika saja Ibunya tidak bertahan dengan Ayahnya, menunggu Ayahnya pulang dan sibuk menangis setiap hari, mungkin jalan hidupnya akan sedikit terhindar dari penderitaan tak kunjung berhenti ini. Tapi mau di sesalkan bagaimanapun juga tidak akan ada gunanya. Semua sudah terjadi, Ibunya sudah beristirahat dengan tenang, hanya saja masih sulit untuknya menerima kesan pedih yang tertinggal.


" Bibi, aku lebih suka memanggil seperti itu. "


Nyonya Elena membuang nafasnya, tapi dia tidak masalah.


" Kalau begitu, kita ke apartemen mu saja ya? "


Sebenarnya Velo ingin menolak, tapi melihat Nyonya Elena terus memeluk lengannya dia jadi paham benar kalau menolak Nyonya Elena hanya akan membuatnya semakin penasaran dan ingin tahu. Velo akhirnya setuju untuk mengajak Nyonya Elena ke apartemennya.


Beberapa saat kemudian.


" Bibi ingin minum apa, aku akan buatkan. "


" Tidak usah, tidak akan lama juga kok. "


Velo terdiam melihat Nyonya Elena yang terus mengamati apartemennya. Pasti di dalam hati Nyonya Elena sedang membatin, dari mana Velo bisa mendapatkan semua itu di usianya yang masih muda. Kalaupun dia menduga Rigo yang memberikannya, sebentar lagi pasti dia akan meminta di kembalikan, dan apakah Nyonya Elena mendekatinya, meminta untuk datang ke apartemen karena ingin memastikan? Tanya Velo di dalam hati.

__ADS_1


Velo mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan kepada Rigo bahwa Ibunya sedang berada di apartemennya sekarang.


" Ngomong-ngomong, kapan kalian akan mendaftarkan pernikahan kalian ke negara? " Tanya Nyonya Elena.


Velo tersenyum sebentar.


" Bibi, aku kan sudah pernah bilang kalau kami hanya tinggal menunggu bosan satu sama lain. Aku tidak memiliki niat bertahan selamanya, Rigo juga memiliki wanita yang dia cintai sendiri. "


Nyonya Elena terdiam, seorang wanita yang menolak bersama Rigo selamanya tentu saja bukan hanya karena alasan sesimple itu.


Apa Velo memiliki trauma dengan hubungan pernikahan?


Nyonya Elena memaksakan senyumnya.


" Kita tidak pernah tahu bagiamana jalan hidup kita di masa depan Velo. Aku dulu juga begitu, asal menikah dengan Ayahnya Rigo serasa ingin mati setiap detik, aku menangis tidak kenal waktu. Tapi seiring berjalannya waktu, kami berdua jatuh cinta. Dia yang tadinya suka sekali selingkuh pada akhirnya memilih untuk setia karena cintanya padaku. Kau bisa mencobanya bukan? " Nyonya Elena tersenyum menatap Velo.


Velo tak berekspresi, dia tahu benar apa yang di maksud Nyonya Elena. Tapi, pernikahan sama sekali bukan pencapaian yang dia inginkan.


" Bibi, aku mudah muak dan bosan. Aku juga tidak menginginkan adanya anak, aku tidak suka hubungan yang rumit dan menguras energi. Pernikahan adalah hubungan yang sulit, kemarin memang saling jatuh cinta, tapi besok bisa saling membenci, saling menyalahkan, saling menyakiti. " Velo menatap Nyonya Elena dan tersenyum.

__ADS_1


" Aku merasa, hal itu benar-benar rumit dan menyebalkan. Kebanyakan pernikahan pasti akan menuntut anak, tapi sayangnya aku tidak menyukai anak-anak dan tidak ingin memiliki anak. Bibi pasti sangat mementingkan anak bukan? "


Bersambung.


__ADS_2