Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Lebih Murahan!


__ADS_3

Velo terdiam menatap Rigo yang kini tengah membuat sarapan untuk mereka berdua. Nasi goreng dengan udang, juga ada sedikit sayuran, lalu dia juga sudah menyiapkan dua belas teh hijau yang wanginya begitu enak.


" Kenapa kau sangat akrab dengan dapurku? " Tanya Velo karena memang seperti itulah yang terlihat.


Rigo tersenyum, dia berbalik dengan membawa dua piring nasi goreng di tangannya.


" Karena kau juga jarang denganmu kan? "


Velo menghela nafasnya.


" Jangan memperlihatkan wajah keberatan seperti itu, semalam kau tidur dengan nyaman di pelukanku, itu berarti kita sangat akrab kan? "


Velo terdiam. Iya, benar. Semalam dia benar-benar tidur dengan sangat nyaman di pelukan Rigo. Entah kenapa, tapi suasana hatinya kemarin seperti mengalami perubahan yang sangat besar, dia seperti merasa kehilangan dirinya sendiri, dia merasa kalau pelukan Rigo seperti sebuah kenyamanan yang nyata.


Velo menghela nafas, sebenarnya apa yang terjadi sekarang? kenapa Rigo malah berada di mana dia berada? Sebenarnya bagaimana Tuhan ingin membawa hidupnya?


" Berhentilah banyak berpikir, makan dulu sarapanmu. " Ucap Rigo lalu mengecup pipi Velo sembari meletakkan piring nasi goreng di hadapan Velo.


Tak ingin bicara lagi, Velo memakan sarapannya karena dia juga sudah merasa lapar. Begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, Velo terdiam sebentar karena merasa kagum dengan rasa masakan Rigo. Padahal Rigo adalah pria, tapi kenapa dia begitu jago memasak? Sup telur yang dia makan juga sangat enak rasanya, yah, walaupun sudah tidak hangat dan agak amis, tapi gurih sup telur itu benar-benar membuatnya berselera makan hingga tidak sadar dia menghabiskan sup telur. Sekarang, dia juga sangat menyukai nasi goreng buatan Rigo sampai perutnya kenyang saja dia masih ingin terus makan.


Beberapa saat kemudian.


" Kau masih belum ingin pulang ke rumahmu? " Tanya Velo menatap Rigo yang kini duduk di hadapannya, memangku wajahnya dan terus tersenyum menatap Velo membuat risih juga lama kelamaan.


" Istriku disini, jadi kalau pulang ya harus bawa istri kan? "


" Rigo, hubungan kita seperti apa kau juga paham benar kan? "


Rigo menghela nafas, lalu mengangguk.


" Kalau begitu, tolong pergilah biarkan aku sendiri. " Velo menatap dengan tatapan memohon, bukan dia muak bersama Rigo, hanya saja dia tidak ingin menyakiti Rigo karena hingga saat ini dia tak merasakan perasaan spesial kepada pria itu. Dia tidak ingin Rigo merasa rendah diri karena memiliki hubungan tidak biasa dengan wanita sepertinya, jadi Velo pikir berpisah dengan Rigo adalah keputusan yang paling benar dan paling baik untuk masa depan Rigo.


Rigo mengubah posisi, kini dia duduk di sebelah Velo dan meraih tangan Velo untuk dia genggam.


" Kau terus mengusirku, apakah karena kau takut jatuh padaku? "


" Tidak! "

__ADS_1


" Berarti kau sudah jatuh cinta ya? "


Velo membuang wajahnya, dia malas menjawab pertanyaan Rigo.


Rigo tersenyum, melepaskan genggaman tangannya dari tangan Velo, lalu meraih dagu Velo untuk menatap ke arahnya.


" Kau mau mengusirku sampai sejuta kali pun, aku tidak akan pergi walaupun selangkah darimu. Aku tahu kau tidak memiliki perasaan seperti yang aku rasakan, aku tahu kau tidak ingin terbebani dengan perasaan bersalah padaku, entah apa lagi alasannya yang sebenarnya, tapi aku tidak akan memiliki satu alasan pun untuk pergi darimu. "


" Kau ini kenapa Rigo? "


Rigo membuang nafasnya lalu tersenyum.


" Aku mencintaimu, alasan itu juga yang membuatku yakin hingga aku bisa sampai di sini. "


" Tapi aku tidak mencintaimu. " Ucap Velo dengan tegas.


" Aduh! Sakit sekali mendengarnya, tapi aku tidak perduli. " Rigo tersenyum setelah itu.


" Carilah wanita lain saja, Rigo. Kau tidak perlu merepotkan diri dengan sanita sepertiku, kau tahu benar bagaimana buruknya aku bukan? Masih terlalu awal, dan perasaanmu itu bukan perasaan cinta, tapi tertarik dan penasaran. Kau akan menyesal nantinya, jadi lebih baik ikuti saran ku untuk pergi, di luar sana banyak wanita yang sejuta kali lebih baik, juga bisa memberikan cinta sebanyak yang kau mau. "


Rigo membuang nafasnya.


Velo terdiam, dia mana bisa mengatakan apapun kalau sudah begini? Urusan cinta, dia bahkan tidak tahu apapun, tidak tahu caranya mengekspresikan perasaan seperti itu, dia tidak tahu harus bagaimana menjalani perasaan cinta itu. Dia sudah terbiasa mengatakan sesuatu yang masuk akal, sesuatu yang nyata bisa dia sentuh, bisa dia lihat, bisa dia rasakan. Cinta itu apa? Kenapa semua orang seperti mudah mengatakan cinta padahal tidak pernah melihat cinta itu seperti apa bentuknya, menyentuhnya juga tidak pernah bukan?


" Ve, aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi percayalah padaku kali ini. Kau tidak perlu mencintaiku, hanya berikan aku kesempatan saja untuk membuatmu merasa nyaman dan bahagia bersamaku. Biarkan aku mencoba memberitahu padamu bagaimana perasaanku, dan biarkan aku memperlakukanmu dengan baik sehingga kau tidak memiliki penyesalan untuk bersamaku. "


" Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kita bersama dengan keadaan yang tidak imbang itu. Kau memberikan segalanya dan aku mendapatkan banyak hal yang bahkan tidak aku inginkan? Rigo, kau pikir siapa aku sampai pantas menerima semua itu? "


Rigo tidak ingin menjawab pertanyaan Velo, dia segera meraih tengkuk Velo dan mencium bibir Velo.


" Rigo, berhentilah sebelum kau bertindak semakin jauh dan pada akhirnya kau akan menyakiti dirimu sendiri. " Ucap Velo setelah menjauhkan dirinya dari Rigo.


" Sekarang barulah kau menyakitiku, Ve. Kau terus memintaku berhenti padahal aku masih ingin terus lanjut. "


" Aku serius! "


" Aku juga, aku lebih serius di banding yang kau pikirkan. "

__ADS_1


" Kau akan menyesal! "


" Iya, baiklah. "


" Apa? " Velo menatap Rigo dengan tatapan bingung.


" Iya aku menyesal. "


" Rigo, kau sedang mempermainkan aku ya?! "


Rigo terkekeh, lalu menangkup wajah Velo.


" Sudah ku bilang penolakan mu tidak akan ada gunanya. Masalah cinta, aku punya banyak cinta jadi kita bisa bagi dua saja. Masalah bahagia atau tidak, kau bukan Tuhan, jadi mana bisa kau begitu sok tahu tentang masa depan kita? "


Velo menyingkirkan kedua tangan Rigo. Dia benar-benar tidak bisa mengelak lagi, sepertinya Rigo memang sangatlah keras kepala.


" Aku mantan simpanan suami orang. "


" Sudah tahu. "


" Aku penjahat, pendendam. "


" Iya, aku tahu. "


" Aku licik. "


" Aku bisa lebih licik. "


" Aku, aku perempuan murahan! "


" Yah, aku juga murahan. Kau hanya pernah tidur dengan satu pria sebelumnya, aku? Aku saja sudah lupa berapa wanita yang sudah pernah melakukan itu denganku. "


" Hah! Sialan! Ternyata kau jauh lebih murahan dari pada aku? "


Rigo terkekeh geli mendengar ucapan Velo barusan.


" Bedanya adalah, kau di istimewakan, kalau aku di manfaatkan setelah memanfaatkan. "

__ADS_1


" Menggelikan. " Ujar Velo membuat Rigo menahan tawanya. Mereka kini saling menatap membuat Rigo tanpa sadar memiliki niat dengan mendekatkan bibirnya kepada bibir Velo.


Bersambung.


__ADS_2