Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Tertawa Untuk Menangis


__ADS_3

Nyonya Fer menatap penuh rasa kebencian karena melihat semua anggota pegawainya berpindah kerja kepada butik milik Velo. Padahal dia tidak pernah ada masalah dengan sanita itu, padahal dia duluan yang memulai dengan merendahkan putrinya, tapi kenapa dia terus membuatnya kesal?


Pertama kekasih putrinya, sekarang pegawainya, pelanggannya, kenapa semua ingin dia ambil? Apa sebenarnya masalahnya? Padahal putrinya juga adalah putri yang baik.


Tatapan Nyonya Fer semakin menajam, tubuhnya juga sampai gemetar melihat mantan pegawainya tertawa bersama begitu juga dengan Velo yang belum lama datang. Entah apa yang sebenarnya mereka bicarakan, hanya saja Nyonya Fer beranggapan kalau mereka pasti sedang mengejek dirinya, menghina karena butiknya tutup dan jatuh miskin.


" Tidak bisa di biarkan! " Kesal Nyonya Fer lalu meninggalkan Ayah Fer yang tengah merapihkan barang-barang untuk dia bawa ke butik pusat. Nyonya Fer berjalan keluar dari butik, lalu dengan emosi masuk ke dalam butik Velo membuat semua mantan pegawainya di sana terkejut dan langsung terdiam bingung dengan kedatangan mantan Bosnya itu.


Velo tersenyum dengan tatapan datar, dia tidak ingin bertanya karena kedatangan Nyonya Fer kesana pastilah bukan hal baik, tapi Velo cukup senang karena itu adalah pertanda jika emosi Nyonya Fer cukup kacau sehingga masuk ke dalam butik Velo bisa dia lakukan tanpa segan sedikitpun.


" Kau sengaja melakukan ini? Kau sengaja merebut apapun dari keluargaku, iya kan?! " Ucap Nyonya Fer dengan sorot matanya yang begitu tajam. Sementara di seberang sana, Ayah Fer memilih untuk diam di dalam butik karena dia masih tidak tahu bagiamana caranya menghadapi Velo. Dia berharap istrinya tetap baik-baik saja, dan Velo tidak mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan.


Velo tersenyum, lalu menatap ke tiga pegawainya keluar sebentar, untunglah pengunjung sudah selesai jadi nyaman untuk Velo membuka mulut sampahnya.


" Dasar wanita murahan! Bisanya hanya merebut saja! Kau lihat saja nanti kalau orang tuanya Rigo sudah tahu tentang kelakuanmu yang hina itu, mereka pasti akan bertindak dan membuatmu menangis darah. "


Velo tentu saja masih terlihat tenang, dia hanya tersenyum mendengar semua yang di katakan Nyonya Fer karena dia memang bahagia. Ternyata emosi Nyonya Fer lebih cepat kacau di banding dugaannya.


" Nyonya Fer, sepertinya anda masih belum sadar benar ya? Kalau begitu biar aku beritahu anda satu hal, aku sangat suka merebut apa yang anda, dan kalian miliki. Jadi kedepannya cobalah untuk lebih hati-hati dan pastikan tidak salah ambil langkah. Ingat, aku selalu mengawasi, dan tidak akan membiarkan kesempatan terbuang begitu saja. "


" Aku benar-benar heran, dari mana jal*ng sepertimu lahir? Seumur hidupku, aku baru pertama kalinya melihat wanita yang benar-benar sangat tidak tahu malu, dan tidak tahu diri. "

__ADS_1


" Aku lahir dari wanita yang sejuta kali lipat lebih baik darimu, tapi kehidupan yang menanamkan sifat jal*ng di dalam diriku. Kenapa? Anda iri, dan ingin merasakan betapa indahnya menjadi jal*ng? " Velo mengakhiri kalimatnya dengan senyuman tapi sorot matanya mengejek dengan begitu jelas.


" Demi Tuhan, aku berdoa agar putriku tidak memiliki sifat sepertimu, aku berharap di dunia ini hanya kau seorang saja yang memiliki sifat menjijikan seperti itu! "


" Hah......! Telingaku sakit karena seperti mendengar gonggongan anjing. Apa anda mendengar suara anjing barusan, Nyonya Fer? "


Nyonya Fer mengepalkan kedua tangannya, menatap Velo semakin marah hingga tubuhnya semakin bergetar hebat.


" Di dalam tubuhmu itu, pasti hanyalah iblis! Aku jauh lebih tua darimu, aku seharunya kau hormati! Kenapa kau menganggap ku sebagai anjing?! " Kesal Nyonya Rigo.


" Orang yang hanya tahu bicara dengan nada tinggi, matanya yang bulat menatap tajam, bibirnya yang terus terbuka untuk memaki, memang apa namanya? Nyonya Fer, kalau Tuhan sudah menciptakan anda menjadi manusia, maka bersikaplah sebagai manusia, jangan terus menjadi anjing. Atau, memang anda nyaman meniru anjing? "


Nyonya Fer tidak tahan lagi, bagaimanapun mulut Velo memang kurang ajar jadi perlu untuk di tampar agar dia bisa belajar menghargai orang lain di kemudian hari.


" Sebenci apapun kau terhadap orang yang lebih tua, seharunya kau memiliki sedikit etika untuk menghormati! Kau tidak seharunya menyamakan orang lain dengan anjing, kau seharunya tidak begitu bodoh sampai tidak bisa menyamakan suara manusia dengan suara anjing kan?! "


Velo membenahi rambutnya yang bergerak menutupi sebagian wajahnya saat tamparan Nyonya Fer mendarat di pipinya. Velo tersenyum miring, tatapannya yang mengejek semakin jelas dari sebelumnya hingga membuat Nyonya Fer serasa ingin sekali lagi memukul wajah Velo.


" Tatapan anda itu, apakah anda ingin menamparku sekali lagi? Dua kali? Ah, banyak kali? "


Nyonya Fer mengepalkan tangannya untuk menahan diri.

__ADS_1


" Jangan mengajari ku tentang etika, Nyonya. Aku bukan orang yang beretika, dan tidak ingin tahu apa itu etika. Saat aku tidak suka aku akan menunjukannya dengan jelas, aku tidak bisa menahan diri untuk membencimu maka bukan salahku. Tentu saja itu adalah salahmu. Wajahmu, cara bicaramu, senyum di bibirmu, semuanya aku benci! Jangan pura-pura tidak tahu, jangan pura-pura tidak mengenaliku, Nyonya Fer yang terhormat. Kau bisa menipu orang lain dengan itu, tapi kau tidak akan pernah bisa menipuku. Berhentilah sok polos seperti putrimu, aku muak, dan ingin merobek mulutmu setiap kali mendengar suaramu. "


Nyonya Fer tersentak, dia terdiam sebentar mencoba untuk menenangkan dirinya sembari berpikir untuk mengelak.


" Wajahmu yang tersenyum manis, lembut, tatapanmu yang hangat kau selalu menunjukan itu di hadapan semua orang untuk menutupi keaslian dirimu kan? " Velo tersenyum dengan raut menghina, lalu meraih tasnya, mengeluarkan koin yang ada di sana, dan melemparkan ke tubuh Nyonya Fer membuat Nyonya Fer tersentak kaget tanpa suara.


" Tatapanmu yang pernah menatapku jijik, mengancamku dengan wajah menakutkan mu, mengusirku yang bahkan belum sempat menyelesaikan kalimat ku. Kau meludahiku, menendangku, mendorongku dengan keras sampai kepalaku terbentur batu dan berdarah. Kau hanya melemparkan koin seperti itu padaku, menatapku seolah aku adalah parasit di dalam hidupmu. Setelah membuatku berdarah, tidak bisa berjalan dengan benar, dan luka di hati semakin dalam, kau kembali ke pesta ulang tahun anakmu, bernyanyi dengan bahagia dan memasang wajah palsu mu. Nyonya Fer, perlu ku ingatkan lagi apa saja yang kau lakukan setelah itu aga bisa mengingatkan remaja yang kau usir dengan kejam setelah kau siksa itu? "


" Diam! Diam dan jangan berani bicara lagi, dasar perempuan brengsek! " Nyonya Fer memegangi dadanya karena nafasnya tak beraturan membuat dadanya terasa sesak.


Velo menatap dingin.


" Keluarlah dari sini, aku tidak ingin seekor anjing tua mati di tempatku. "


Nyonya Fer tak mengatakan apapun lagi, dia memilih pergi secepat mungkin membiarkan air matanya jatuh karena ketakutan.


" Sekarang, kau bukan hanya akan merasakan emosi karena keuanganmu semakin tipis. Kau juga harus mulai menikmati rasa gelisah, ketakutan, juga perasaan tertekan. Nyonya Fer, ingatanku sangat bagus, jadi jangan salahkan aku membalas dengan setimpal semua hal yang aku dapatkan darimu. "


Velo duduk di kursinya, dia terkekeh sendiri padahal hatinya sedang sangat sakit.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2