
" Mari berhenti, kau harus kembali kepada Greta karena dia mengandung anakmu, Zegon. Aku mengatakan ini bukan sengaja ingin menjauhi mu, sungguh bukan itu yang aku inginkan. Sebenarnya kakiku selalu terus ingin berlari ke arahmu, tapi takdir bukan milik kita jadi bisa apa? " Ucap Velo kepada Zegon yang kini menatap Velo dengan mata memerah menahan tangis yang seperti ingin pecah begitu saja.
" Tidak, itu sangat kecil kemungkinannya! Aku dan wanita sialan itu, dia terus menjebakku, aku benar-benar tidak bisa mempercayainya. "
Velo meraih tangan Zegon, menganggapnya, mengecup tangan itu, lalu meletakkan di kepalanya.
" Zegon, aku bisa merasakan bagaimana kau mencintaiku dengan setulus hati, aku merasakan benar bahwa bagimu aku adalah yang paling penting dan utama. Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak, aku tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Tapi yang bisa aku katakan adalah, aku selalu tanpa sadar akan berlari ke arahmu, terus menatapmu, juga merasakan kehangatan yang berbeda. Kali ini, kabulkanlah permintaan wanita yang sangat kau cintai ini, tolong terimalah calon anakmu, rawatlah dia dengan baik, cintai dia seperti kau mencintaiku. Tolong, jangan biarkan anak itu menjadi sepertiku, besarkan dia dengan penuh kasih agar tidak memiliki jalan hidup yang terjal sepertiku, aku mohon....... "
Zegon terdiam dengan mata terkejut, dia bahkan sampai meneteskan air mata melihat betapa wajah Velo memerah seperti ingin menangis tapi tidak bisa.
" Wanitaku, wanitaku sendiri yang mendorongku kepada wanita lain? " Zegon bertanya dengan kekecewaan yang begitu besar terasa di hatinya.
Velo menggeleng.
" Aku mendorongmu untuk menjadi seorang Ayah yang baik, aku tidak ingin kau mendapatkan kebencian dari anakmu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu hidup dalam kesakitan dan penyesalan, aku menginginkan Zegon yang seperti itu. "
Zegon menarik tangannya dari kepala Velo. Bisa-bisanya Velo meminta hal yang begitu sulit untuk dia lakukan. Jika saja dia diminta untuk keluar dari keluarga tentu saja akan dengan senang hati, membunuh orang juga bukan masalah, bahkan berjalan kaki mengelilingi dunia juga akan terasa lebih mudah dari pada harus berpisah dengan Velo.
" Jangan mimpi, aku tidak akan bisa melakukan itu. "
Velo meraih wajah Zegon, menangkupnya, dan menatapnya dengan dalam.
" Aku tahu ini berat untukmu, aku juga merasakan yang sama. Aku tidak tahu akan menjadi seperti apa hidupku saat aku tidak akan bisa bersama denganmu lagi, tapi asalkan aku tahu kau baik-baik saja, hidup dengan baik dan menjadi Ayah yang baik, aku adalah orang yang akan merasa paling bahagia untukmu. "
Zegon membiarkan air matanya jatuh sekali lagi, sakit sekali karena penghalang di antara begitu besar dan banyak tak ada hentinya. Bukan hanya Velo, tapi Zegon juga tidak tahu akan jadi seperti apa hidupnya tanpa Velo.
__ADS_1
" Aku, tidak pernah putus asa seperti ini. Aku baru pertama kali merasakan dadaku penuh, sesak dan sakit, aku tidak rela, aku tidak ingin melepaskanmu. "
Velo menyeka air mata Zegon lalu mengecup keningnya.
" Aku tahu, tentu saja aku tahu. Pria yang begitu gagah, dan sangat hebat ini, aku baru pertama kali melihatmu menangis. Meskipun aku tidak bisa menitihkan air mata sepertimu, tapi aku juga merasakan apa yang kau rasakan. "
" Love, katakan kau mencintaiku, katakan seperti itu cepat! Masalah anak bisa kita saja yang membesarkannya kan? "
Velo menggelengkan kepala.
" Cinta? Apa itu cinta? Aku tidak bisa melihatnya, tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa merasakannya, tidak bisa mengerti tentang cinta. Aku tidak tahu apapun, bagaimana aku bisa mengatakan aku mencintaimu Hem? Greta, wanita itu mengatakan dia sangat mencintaimu, dia lebih mengerti akan cinta, sementara aku tidak tahu apapun. Masalah membesarkan anak, bagaimanapun kalau kita tetap bersama, kebencian anakmu pasti bukan hanya untukmu, tapi juga untukku. Mari berpisah sampai disini, Zegon. Kau dan aku, tidak memiliki tempat untuk bersama di kehidupan ini. "
Velo menjauhkan tangannya dari wajah Zegon.
Velo mengepalkan tangan menahan dadanya yang terasa sangat sakit. Air mata Zegon seperti hunusan belati panjang yang menusuk dada sampai tembus ke punggungnya. Kalimat memaksa tapi memohon tak bisa Velo elak bahwa itu membuat seluruh tubuh Velo bergetar hebat.
" Jika memang benar kita tidak bisa bersama, bukankah memang lebih baik aku mati saja? Toh, tidak akan ada gunanya aku hidup bukan? "
Velo kembali mendekati Zegon, dan kembali menangkup wajahnya.
" Zegon, jika benar setelah kematian akan ada kehidupan lagi, aku berjanji akan berlari mencarimu, mengejarnya dengan hati dan pengalaman lebih baik supaya aku bisa merasakan cinta itu, dan menerima perasaan cintamu. Aku akan mendesakmu untuk menikahiku, tidak akan melepaskanmu dan mengekor kemanapun kau pergi. Jika memang benar, maka tunggulah aku di kehidupan kita berikutnya, aku yang akan datang padamu, aku janji. "
Zegon sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Remuk sudah hatinya, perasaannya, impian bahagia bersama dengan Velo hingga tua, dan semua masa lalu mereka hanya akan menjadi kenangan semata.
" Lihat aku baik-baik, Zegon. Percayalah padaku semua akan baik-baik saja, percayalah kau bisa mengatasi perasaan ini, mati berjuang untuk hidup kita, mari menjalani hidup yang baik agar bisa mendapatkan kesempatan untuk bereinkarnasi dan bertemu kembali. "
__ADS_1
Zegon benar-benar tidak bisa menahan Isak tangisnya lagi sehingga Velo memutuskan untuk memeluknya. Bahkan seorang pria yang begitu gagah tak memiliki celah kelemahan bisa menangis seperti ini hanya karena cinta? Bukankah cinta itu sangat mengerikan?
" Berjanjilah padaku, berjanjilah kau akan hidup dengan baik. Tunjukan bahwa kau bahagia nanti agar aku bisa tenang dan bahagia. Aku mungkin masih akan terus memikirkanmu, jadi tolong jangan memintaku untuk melupakanmu. "
" Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama denganmu, Zegon. " Ujar Velo.
" Aku, juga akan mengingat janjimu tadi. Kau akan datang padaku, kau harus mengejar ku untuk menikahimu, karena kalau tidak aku benar-benar tidak akan segan-segan menghancurkan dunia. "
Velo mengangguk paham sembari tersenyum. Konyol, mana mungkin ada reinkarnasi?
Velo melepaskan pelukannya, menatap Rigo yang kini sudah jauh lebih tenang meski wajahnya tetap terlihat tidak rela.
" Selamat tinggal, sayang. " Ucap Velo seraya memundurkan langkahnya. Zegon menahan tangan Velo membuat Velo terhenti. Masih melihat Zegon tak rela, Velo mendekatkan dirinya, mencium bibir Zegon sebagai ciuman selamat tinggal untuk mereka.
" Jaga dirimu baik-baik. " Ucap Velo setelah selesai mencium Zegon, lalu kembali memundurkan langkahnya, dia tersenyum menatap Rigo yang semakin terlihat tersiksa dengan perpisahan mereka.
Begitu keluar dari kamar rawat. Greta dan keluarga Rigo berada di sana menatap Velo dengan tatapan tak biasa, mereka juga terlihat tak ingin berkata-kata.
" Velo? " Panggil Greta saat Velo mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.
" Aku berhutang besar padamu, mari bertemu lagi suatu hari nanti, aku akan membalas kebaikanmu ini. " Ucap Greta sembari menyeka air matanya.
Membalas? Aku tidak membutuhkan apapun, hanya jaga baik-baik pria yang ada di dalam sana. Selamat tinggal, dan maaf karena aku tidak pantas menerima ucapan seperti itu.
Bersambung.
__ADS_1