Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Kalimat Yang Sama


__ADS_3

Velo membuka matanya perlahan dengan dahi mengeryit saat sinar matahari menerpa kulit wajahnya. Begitu matanya terbuka, dia langsung melihat Rugi yang masih tertidur sembari memeluknya. Semalaman mereka tidur di mobil, pantas saja tubuhnya terasa sakit. Tapi biarpun begitu, dia mendapatkan keutungan yang tidak biasa yaitu, suasana hatinya sudah jauh lebih baik dari semalam.


Sebenarnya pelukan Zegon benar-benar sangat mempengaruhinya, dia bisa merasakan nyaman saat Zegon memeluknya. Velo membuang nafasnya, dia membenahi posisinya untuk duduk dengan tegap agar tubuhnya tak terlalu lama di posisi yang tidak nyaman. Velo mengingat kembali bagaimana bisa Zegon masuk ke apartemen padahal Alexandre Gold adalah apartemen yang memiliki peraturan ketat, dan bagaimana juga caranya Zegon bisa tahu kode pintu apartemennya?


Velo menoleh, menatap Rigo yang kini tengah mengeryit saat sinar matahari menerpa wajahnya. Velo tersenyum tipis, dia mengalami sinar matahari mengunakan tangannya. Rigo, pria itu juga sudah bekerja keras untuk membantunya melewati masa yang sulit, jadi tentu saja dia harus berterimakasih padanya. Velo menggerakkan satu tangannya perlahan mengusap wajah Rigo yang begitu nyenyak tertidur seperti seorang bayi.


Velo melihat ke sekelilingnya, dan sepertinya hari benar-benar sudah siang. Velo menurunkan tangannya yang dia gunakan untuk menghalau sinar matahari agar tidak mengenai wajah Rigo. Dia kembali tersenyum melihat Rigo mengeryit, mencoba menghindari sinar matahari yang mengganggu tidurnya. Tapi karena tidak juga menghilang, Rigo jadi terbangun dengan wajah yang kesal. Begitu matanya terbuka, dia hanya bisa terlihat terkejut, ah, dia lupa kalau tidur di mobil semalam.


Rigo menatap Velo yang juga tengah menatapnya dengan senyuman menggoda seperti sebelum apa yang terjadi semalam.


" Wah, istriku sudah tersenyum seperti itu saat aku bangun, kau sedang menginginkan sesuatu kah? "


Velo membuang nafasnya.


" Iya, aku menginginkan sesuatu, tapi sepertinya tidak akan enak kalau tidak dalam keadaan bersih dan wangi. "


Rigo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Padahal dia hanya bercanda, tapi tanggapan Velo benar-benar memancing sesuatu yang seharusnya tidak boleh terprovokasi. Rigo meraih lengan Velo, menjatuhkan tubuhnya lalu mengunci Velo dengan tubuhnya yang kini sudah berada di atas tubuh Velo.


" Beruntungnya adalah, aku tidak pernah kotor dan tidak pernah memiliki bau badan. " Rigo merah tengkuk Velo, menyatukan bibirnya dengan gerakan yang begitu panas seolah dia sangat tidak sabar untuk itu.


***

__ADS_1


Selena terdiam menatap ke arah luar kamarnya dari jendela kamarnya. Dia mendapatkan panggilan kerja, tapi hanya menjadi kasir di mini market saja. Awalnya Selena hanya coba-coba saja, tapi tidak tahunya dia benar-benar memiliki peluang untuk bekerja menjadi kasir mini market.


Helaan nafas yang di lakukan Selena, dia benar-benar sedih dan seperti tak bisa menerima karena jalan hidupnya benar-benar berubah drastis. Lusa adalah hari ulang tahunnya, tapi dia sama sekali tak bersemangat karena ulang tahunnya kali ini pasti akan menyuguhkan kesedihan tersendiri untuknya. Padahal beberapa bulan lalu dia berharap ulang tahun kali ini dia sudah akan menjadi tunangan dari seorang Rigo, dia bisa membanggakan Rigo kepada semua orang, tapi jangankan Rigo, ulang tahunnya juga sudah pasti tidak akan di rayakan seperti biasanya kan?


Prang!


Bruk!


Selena tersentak, tapi setelah itu dia hanya bisa membuang nafasnya. Sudah pasti itu adalah Ayah dan Ibunya yang lagi-lagi bertengkar. Sudah seperti menjadi kebiasaan setiap hari, di tambah Ayahnya juga tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Ibunya baru saja membayarkan upah pembantu selama dua bulan, Ibunya pasti pusing sekali dan tidak rela karena sudah membuang uang, makanya Ayahnya menjadi bahan pelampiasan Ibunya.


" Dasar suami tidak berguna! Sudah ku bilang pekerjaan apa saja lakukan, jangan pilih-pilih! Pergi sana! Pergi cepat cari kerja kalau kau tidak ingin anak dan istrimu mati kelaparan! " Suara Nyonya Fer begitu jelas terdengar memenuhi rumah itu. Barang-barang yang dia banting juga sudah berserakan di lantai, vas bunga, buku Desai baju, contoh bahan, dan beberapa hiasan dinding sudah melayang ke lantai.


" Kala kau masih seperti ini, jangan salahkan aku terus bersikap kasar padamu, Fer! "


Ayah Fer mencoba untuk menenangkan dirinya.


" Aku kan sudah bilang kalau aku sedang tidak enak badan? Kalau memang kau ingin aku menghasilkan uang, maka tolong pinjamkan aku modal untuk membuka usaha, aku akan mengembalikannya saat balik modal nanti. "


Nyonya Fer tersenyum dengan tatapan mengejek.


" Minta modal? Kau pikir aku Bank, hah?! Dari awal mengenalimu kau hanya tahu menyusahkan ku saja, mau sampai kapan kau menganggap ku adalah Bank?! "

__ADS_1


Ayah Fer tersentak, dia terdiam mendengar ucapan istrinya barusan. Kalimat itu, kalimat yang pernah dia ucapkan kepada Velo, dia mengucapkannya dengan mata yang membulat tajam, tatapan sinis, dan gestur mengusir, semua itu pernah dia lakukan kepada Velo padahal saat itu Velo datang dengan wajah mengemis agar bisa membelikan obat untuk Ibunya.


" Kenapa malah diam?! kau mau membuatku mati berdiri, hah?! pergi sana! Cepat cari kerja! "


Ayah Fer menghela nafasnya, padahal hari ini dia benar-benar sedang tidak enak badan, tapi sepertinya dia memang tidak memiliki waktu istirahat untuk membuat tubuhnya membaik. Ayah Fer berjalan mendekati lemari pakaian, dia meraih jaketnya karena tubuhnya serasa menggigil. Setelah itu dia berbalik untuk keluar dari kamar, tapi baru saja menyentuh handle pintu, tiba-tiba Nyunya Fer jatuh pingsan. Bergegas Ayah Fer berlari memeluk tubuh Nyonya Fer, dan berteriak memanggil Selena juga membantu di rumahnya.


" Ada apa, Ayah? " Tanya Selena dengan mimik kesalnya, karena dia beranggapan bahwa kedua orang tuanya asik bertengkar, berdebat dan dia harus menjadi juri untuk mereka. Tapi begitu melihat Ibunya tergeletak di lantai, segera Selena membantu Ayahnya untuk membawa Ibunya ke atas tempat tidur.


" Ayah, kenapa bisa begini? " Tanya Selena panik.


" Tidak tahu, Ayah tidak tahu. "


Beberapa saat kemudian, Dokter langganan mereka sudah datang untuk memeriksa keadaan Nyonya Fer.


" Tekanan darahnya tinggi sekali, tolong di perhatikan untuk pola makan, juga jangan membiarkan Nyonya berpikir berat beberapa hari ini ya? Ini resep obatnya. " Dokter menyerahkan resep obat kepada Ayah Fer, lalu izin untuk segera pergi.


" Ayah, kenapa masih belum pergi untuk membeli obat? " Tanya Selena sedikit kesal melihat Ayahnya hanya diam tak bergerak.


Menebus obat dengan apa? Sepeserpun aku tidak mempunyai uang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2