Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Paksa Memaksa


__ADS_3

Hari itu, hari di mana Zegon melemparkan bola kertas kepadanya, Rigo benar-benar merasa sangat berterimakasih kepada Zegon. Dia tahu bahwa Zegon mencintai Velo lebih dari pada apapun sehingga melakukan hal yang begitu bertentangan dengan hatinya.


Sebuah alamat lengkap di mana rumah Velo berada, rumah yang dulu di tempati bersama dengan mendiang Ibunya. Awalnya Rigo ragu untuk kesana karena dia merasa Velo selama ini memiliki banyak kenangan buruk jadi apakah mungkin dia akan kembali ke tempat yang sudah memberikan semua kenangan itu?


" Sudah sebelas tahun dia tidak kesana, cobalah saja untuk datang ke tempat itu. Berjanjilah padaku, kau tidak akan menyakiti dia, jaga dia baik-baik kalau memang pada akhirnya dia setuju untuk bersamamu. Jangan memaksa dia untuk mencintaimu, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, biarkan dia merasa tetap bebas meskipun kau bersama dengannya. Hanya itulah cara yang bisa kau gunakan jika ingin bersama Velo. Percayalah padanya, sejahat apapun mulut, dan tatapan matanya, dia adalah orang yang paling memiliki hati, dan orang yang paling tanggap bagaimana harus memanusiakan manusia. "


Seperti itulah pesan yang di ucapkan Zegon sebelum Rigo pergi. Dia melihat Zegon seperti menahan tangis, dia pasti mencintai Velo melebihi yang dia bayangkan, tapi sayangnya Rigo juga merasakan yang sama, jadi maaf untuk kali ini Rigo akan lebih bergerak cepat dan tidak akan mengenal kata lelah.


Berangkat seorang diri, tidak merasakan kantuk walaupun seharian tidak tidur, dan di temani ponsel yang bisa dia gunakan untuk membantunya lebih cepat menemukan alamat rumah Velo. Begitu sampai di rumah Velo, dia terus mengetuk pintu tapi tak ada jawaban hingga seorang tetangga datang menyapanya.


" Orangnya sedang pergi, Tuan. "


" Oh, jadi dia ada di rumah sebelumnya? "


" Iya, sudah sekitar satu bulanan. "


Rigo tersenyum lega, akhirnya dia datang ke alamat yang benar, dan tepat sekali.


" Ngomong-ngomong, Velo pergi kemana ya? "


Tetangga itu membuang nafasnya.


" Kalau melihat arah jalannya sih, sepertinya dia ingin ke makam Ibunya. Maklum saja, sudah lama sekali tidak pulang, sibuk di kota entah apa pekerjaannya sampai tidak ada waktu untuk mengunjungi makam Ibunya. "


Rigo mengeryitkan dahi menatap tetangga Velo yang sepertinya berumur sekitar empat puluh lima atau lima puluh tahunan itu. Bukan merasa bingung dengan Velo, tapi dia bingung bagaimana bisa seorang berbicara begitu lancar kepada orang asing yang tidak di kenal dengan kalimat yang menjurus seperti ingin mengajak untuk bergosip.

__ADS_1


" Velo adalah seorang bos dari tujuh butik besar, wajar saja kalau dia sibuk dan tidak banyak waktu luang untuk kembali ke desa. Toh di desa juga tidak ada saudara atau orang yang dekat untuk dia kunjungi kan? "


Tetangga Velo langsung terdiam, bos tujuh butik? Dia menelan salivanya sendiri. Pantas saja rumah Velo sekarang bagus sekali, dan menurut tetangga yang tidak sengaja melihat ruang tamu rumah Velo, memang perabotannya juga sagat bagus.


" Ngomong-ngomong, kalau mau ke makam kemana arahnya? " Tanya Rigo yang tentu saja ogah harus bergosip seperti Ibu-ibu, ah! Velo kalaupun jadi Ibu-ibu pasti tidak akan suka bergosip seperti itu kan? Haha.... membayangkan Velo yang mendengar orang lain bergosip bukanlah dia akan mengeluh seperti ini? Dasar manusia!, sudah tahu manusia kenapa harus seperti anjing yang menggonggong terus?


Setelah tetangga Velo menunjukkan arahnya, Rigo memilih untuk berjalan kaki, dan meninggalkan mobilnya di halaman rumah Velo. Di setiap desa memiliki makam sendiri, jadi itulah kenapa Rigo tida perlu menggunakan mobil karena jalan kaki juga tidak akan membutuhkan waktu lama. Benar saja, setelah sampai di makam, dia mendapati Velo di sana. Perlahan dia berjalan mendekat, mendengarkan semua yang di keluhkan Velo kepada Ibunya.


***


Rigo terus menatap Velo yang kini tengah tertidur pulas di kamarnya. Rasanya senang sekali karena pada akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan wanita yang dia cintai itu. Dengan seksama Rigo memperhatikan tubuh Velo, ternyata dia memang tambah kurus dan tirus.


Rigo membuang nafasnya, mengecup sebentar kening Velo, membenahi selimut yang menutupi tubuh Velo, lalu berjalan keluar dari kamarnya. Rigo belum sempat melihat-lihat isi rumah Velo, jadi sembari menunggu Velo bangun, Rigo ingin berjalan berkeliling melihat seisi rumah. Ternyata tidak banyak photo, hanya photo lama yang di scane dan di pajak di dinding. Photo Ibu dan juga Velo tentunya. Rumah itu memang tidak terlaku besar meskipun ada satu lantai lagi di atas. Tapi meskipun begitu, cara menyusun barang, desain rumah, semuanya, benar-benar membuat ruangan terasa lega dan kesan elegan begitu jelas.


Rigo menghentikan langkah kakinya begitu dia sampai di dapur. Dia tersenyum memikirkan bagaimana ya kalau dia membuat makanan untuk Velo? Rigo berjalan mendekati lemari pendingin, ada beberapa bahan makanan, tapi mengingat Velo baru saja kehujanan dan suasana hatinya sedang tidak bisa di tebak, makanya Rigo memutuskan untuk membuatkan sup telur. Entah suka atau tidak, tapi tidak ada salahnya juga untuk Rigo mencobanya kan?


Rigo tersenyum minat sup telur buatannya sudah matang, dia juga sudah mencicipinya. Rasanya enak, sama seperti buatan Ibunya. Rigo mengambil nampak, sendok, juga meyiapkan air hangat untuk Velo minum nanti. Setelah itu dia berjalan lagi menuju kamar Velo dan meletakan sup telur di meja yang gak jauh dari jendela kamar.


Karena Velo belum juga bangun, di tambah sip telurnya juga masih sangat panas, Rigo kembali duduk memandangi Velo dan akan membangunkan jika nanti sup telur buatannya agak berkurang panasnya.


Melihat Velo begitu nyenyak, Rigo jadi ingin berbaring di sebelah Velo jadi perlahan dia menuju kesana dan bergerak sangat pelan agar tidak membuat Velo terbangun. Benar sekali, ternyata rasanya sangat nyaman berbaring di sana sehingga tanpa sadar lama kelamaan dia ikut tertidur pulas. Yah, mungkin karena dia juga merasa sangat lelah di tambah belum juga tidur dari kemarin.


" Kau mau tidur sampai kiamat? "


Rigo tersentak mendengar suara Velo, lalu dengan segera membuka mata dan dengan cepat dia bangkit dari posisinya.

__ADS_1


" Ve, sudah bangun? "


" Sudah, sekitar tiga jam yang lalu. "


Rigo terkejut, lalu saat dia melihat ke jendela, rupanya memang sudah gelap.


" Ah, sup mu! " Ucap Rigo terkejut saat ingat dia memasak sup untuk Velo.


" Sudah aku makan. "


" Kau makan saat sudah dingin? "


" Hem. "


Rigo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sup telur yang dingin, pasti bau amis sekali kan?


" Kapan kau akan pergi? " Tanya Velo dengan wajah datarnya.


" Aku pergi saat kau juga ikut pergi. "


" Aku tidak mau! "


" Kau memang tidak mau, tapi aku mau! "


" Jangan memaksa! "

__ADS_1


" Aku suka memaksa, kau juga suka di paksa kan? "


Bersambung.


__ADS_2