Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Kembalilah, Jangan Membuang Waktu!


__ADS_3

Selena tertunduk malu, dia sama sekali tak memiliki kepercayaan diri seperti beberapa saat lalu ketika dia tengah melakukan catwalk. Tentu saja semua itu karena apa yang terjadi beberapa saat lalu membuat semua orang menatapnya dengan tatapan menghina.


Beberapa saat lalu.


Model yang memergoki Selena telah menampar Velo mengadukan apa yang di lakukan Selena kepada penyelanggara acara. Tentu saja semua itu membutuhkan bukti karena Selena mencoba mengelak untuk membela diri, tapi begitu melihat rekaman kamera pengawas, Selena benar-benar terkejut bukan main karena semua yang dia lakukan jelas terlihat. Tidak ga tamparan, jari telunjuk yang begitu aktif tertuju kepada Velo membuat posisinya benar-benar terlihat seperti tersangka pembulian.


" Selama ini dia di kenal dengan peri di dunia nyata, benar-benar menakutkan sekali. Bagaimana bisa selama ini dia terus menyembunyikan wajah itu dari semua orang? " Seperti itulah ucapan hampir semua orang terhadap Selena.


Nyonya Fer benar-benar tidak habis pikir, dia kesal, marah dan kecewa kepada putrinya yang selama dia banggakan. Padahal sudah jelas di tempat seperti ini seharusnya ada banyak kamera pengawas, lantas kenapa bisa dia bertindak gegabah seperti itu? Sekarang kesempatan untuk ikut acara berikutnya sudah lenyap, bahkan bisa jadi juga dia tidak akan mendapatkan tawaran lagi untuk menjadi model seperti ini. Hancur, hancur sudah harapannya yang ingin merasakan bagaimana nyamannya memiliki yang bisa menghasilkan banyak uang.


Ayah Fer, pria itu hanya bisa membuang nafas, menghela nafas, dia sudah tidak tahu harus mengatakan apa karena sepertinya semua yang terjadi seperti sengaja memojokkan keluarga mereka. Melihat putrinya tertunduk sembari menangis tentu saja dia tidak tega, bagaimanapun Selena benar-benar memiliki arti tersendiri baginya karena sedari lahir hingga besar dialah yang banyak menghabiskan waktu untuk mengurus Selena, sehingga kedekatan mereka tidak perlu di ragukan lagi.


Di sisi lain.


Velo tersenyum setelah menghela nafasnya. Dia menatap sepasang kakinya setelah mengambil posisi duduk, menatap sepasang kakinya yang masih menggunakan heels tinggi. Perlahan kakinya bergerak melepaskan heels itu, ah! Rupanya berdarah, lecet, di dekat jempol kaki, dan di belakang kakinya. Cukup parah juga karena ada banyak darah yang tertinggal di sana.


Sakit? Tentu saja sakit, tapi tetap saja tak membuat Velo ingin merintih, bibirnya tetap tersenyum membayangkan bagaimana wajah Nyonya Fer dan juga Ayah Fer yang seperti orang terhantam badai raksasa. Mereka sama sekali tak bisa tersenyum, mereka diam, matanya menunjukkan kekecewaan, bahkan sepasang bola mata itu tak pernah lama menatap ke ara depan dan memilih terus menunduk.


Velo kembali menatap sepasang kakinya yang berdarah dan lecet. Dia menghela nafas, tersenyum sembari sebentar memejamkan mata, membiarkan pikirannya melayang memikirkan apa yang akan tejadi esok.


" Aku tidak tahu kalau kekasihku bahkan menikmati situasi meskipun kakinya berdarah. "


Velo membuka matanya lebar, menatap sosok pria tinggi besar yang kini tengah tersenyum menatapnya. Dia sudah berada di posisi berlutut, menyentuh kaki Velo dan terus membiarkan matanya menatap Velo dengan senyuman.


" Sudah hampir selesai, Love ku. Kau sudah harus bersiap untuk kembali. " Ucap pria itu kembali tersenyum.


" Zegon? "


Zegon menatap kedua kaki Velo yang terluka, laku mengeluarkan sebotol cairan untuk membersihkan luka dengan kapas. Setelah itu dia mengoleskan obat di bagian yang terluka. Velo hanya bisa terdiam dengan perasaan terkejut, dia benar-benar tidak tahu kalau Zegon akan muncul di saat seperti ini.

__ADS_1


Begitu selesai mengobati luka di kaki Velo, Zegon duduk di sebelah Velo dan mengusap kepala Velo dengan lembut.


" Apa kau belum lelah bermain? Aku sudah tidak sabar menunggumu kembali, jadi ku aku tidak boleh membuang waktu lagi. "


Velo mencengkram pinggiran tempat duduk yang dia tempati. Matanya masih tak berani menatap mata Zegon secara langsung, karena baginya Zegon seperti sosok yang tidak mampu untuk dia lawan.


" Zegon, aku- "


" Shhh....... " Zegon menyentuh bibir Velo, menatapnya dengan dalam. Rasanya ingin sekali memeluk wanita yang sangat dia rindukan itu, membawanya ke tempat tidur dan merengkuhnya sepanjang malam. Tapi, Zegon tidak bisa melakukannya karena dia tahu apa yang sedang di lakukan Velo saat ini. Awalnya dia begitu marah saat tahu kalau Velo menikah dengan seorang pria, dia ingin mendatangi Velo, dan menghancurkan pria yang di nikahi Velo, tapi begitu tahu semua tentang Velo, seluk beluknya dia menjadi tahu kalau Velo memiliki tujuan sehingga memilih untuk menikah.


" Aku tidak suka kau terus memanggil namaku, panggil aku seperti biasanya saja. "


" Aku sudah bilang kan kalau kau harus kembali bersama istrimu? Jangan begini, Zegon. "


Zegon tersenyum miring, kembali kepada istrinya? Istri yang dengan sejuta tipuan hanya untuk bisa menikah dengannya? Hah! Dia sudah muak dengan wanita yang terus memasang wajah malaikat untuk menyembunyikan iblis di dalam dirinya.


Velo terdiam, bercerai? Sebenarnya kenapa harus bercerai? Toh wanita itu adalah pilihan orang tuanya, di tambah wanita itu juga cukup oke menurut Velo.


" Aku hanya- "


" Ve? "


Velo terdiam membeku, suara itu adalah suara Rigo, dan kenapa Rigo berada di dana juga? Padahal dia tidak memberitahu tentang acara ini.


" Kau sedang bersama siapa? " Tanya Rigo karena posisi Velo dan juga Zegon membelakangi Rigo.


Zegon membuang nafasnya, memasang kaca mata hitamnya.


" Ingat, Love. Bersiap untuk kembali, jangan biarkan aku menunggu lama, oke? " Ucap Zegon lalu berjalan meninggalkan Velo dan Rigo.

__ADS_1


" Siapa pria itu? " Tanya Rigo karena tadi tidak mendapatkan jawaban apapun dari Velo, dan sialnya dia hanya bisa melihat punggung bidang pria itu.


Velo berbalik menatap Rigo, tersenyum seperti biasanya untuk menutupi apa yang sedang dia pikirkan saat itu.


" Dia, hanya penyelanggara acara. "


Rigo tahu Velo berbohong, sebenarnya sedari tadi dia terus memperhatikan Velo dan pria yang tida dia kenal itu. Mereka nampak begitu dekat seolah mereka sudah terbiasa satu sama lain, dan saat pria itu seperti akan mencium Velo barulah dia dengan buru-buru mendekati mereka.


" Begitu ya? "


Velo tersenyum, lalu mengangguk.


" Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada di sini? "


" Aku tadinya ingin menemui Faro, tapi dia malah sudah pergi lebih dulu karena pacarnya sudah menunggu. Tidak sengaja melihatmu, apa menyapamu di larang ya? "


Velo terkekeh.


" Ya sudah, aku sangat lelah, tolong bawa istrimu ini pulang ya sayang? " Velo memeluk lengan Rigo, bergelayut manja di sana.


" Kakimu? " Tanya Rigo yang tak sengaja melihat kaki Velo tanpa alas, bahkan ada luka di sana.


" Tadi lecet karena memakai heels, jadi karena suamiku ini sudah melihat kaki istrinya luka, tolong gendong aku! "


Rigo tak menjawab, tapi dia segera memposisikan dirinya untuk Velo naik ke punggungnya. Rigo juga membawa heels Velo, berjalan keluar gedung menuju mobilnya berada. Tanpa mereka sadari, Selena berserta orang tuanya melihat itu, dan Zegon juga melihatnya.


Velo, dia memeluk Rigo erat karena entah mengapa dia merasa takut setelah bertemu Zegon.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2