Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Bonus Chapter


__ADS_3

" Detak jantung normal, tekanan darah normal, tidak ada luka fisik lagi, pendengaran, penglihatan juga normal, kaki yang terlilit kemarin juga sudah sembuh total, jadi kenapa kau terus datang menemui Dokter di saat tubuhmu baik-baik saja? " Tanya seorang pria yang berprofesi sebagai Dokter. Sudah satu bulan full dia harus menghadapi serang gadis yang terus datang ke rumah sakit, khusus m membayar untuk berkonsultasi dengan dirinya padahal sama sekali tidak memiliki masalah apapun setelah keseleo sekitar sebulan yang lalu.


Gadis itu tersenyum tipis sembari memperhatikan dengan jelas susunan wajah tampan milik sang Dokter. Sorot matanya yang tajam menjelaskan betapa gagahnya dia, alisnya yang tebal, bibirnya yang berisi, hidungnya, garis wajah yang tegas, betapa tampannya pria itu, membuat siapapun pasti ingin membungkusnya, membawanya pulang untuk dimilki seorang diri. Ah, belum lagi tubuhnya yang tinggi, dadanya yang lebar, bahunya yang kuat, lengannya terlihat gagah, Tuhan! Rasanya sulit sekali untuk tidak menginginkan pria itu.


" Adik kecil, hentikan cara menatapmu yang aneh itu, jujur saja aku terganggu. " Ucap Dokter itu lalu menghela nafas karena kesal juga di tatap aneh oleh seorang gadis delapan belas tahun.


Gadis itu mendengus kesal, lagi-lagi dia di sebut gadis kecil, bukankah itu menyebalkan? Perbedaan usia di antara mereka hanyalah sebelas tahun, kenapa harus menyebut adik kecil setiap kali dia datang kesana?


" Kakak tampan, jangan menyebutku adik kecil, cobalah sebut namaku dengan manis seperti ini, Velipe cantik, apakah mau jadi pacarku? " Iya, gadis itu bernama Velipe, Velerie Velipe Agorda. Orang akan memanggilnya Veve sebagai nama kesayangan sesuai dengan Velipe yang memiliki sifat manja, manis, dan juga penyayang.


Dokter itu membuang nafasnya, memijat pelipisnya karena mengahadapi Velipe benar-benar sangat sulit. Selalu saja seperti ini, merayunya seperti wanita yang tidak memiliki rasa malu padahal usianya masih sangat muda.


" Maaf sekali aku tidak tertarik dengan gadis yang sembrono sepertimu. Belajarlah yang baik supaya kau dapat nilai yang bagus, jangan menghabiskan waktu dan uangmu hanya untuk hal tidak penting. "


Veve membuang nafasnya, sebenarnya sebal mendengar ucapan Dokter tampan itu setiap kali bertemu ucapannya memang tidak enak di dengar, tapi karena wajahnya sangat tampan dan begitu sedap di pandang mata, sejuk di hati, maka bisa apa dia selain tersenyum dan pantang menyerah?


" Kakak Lavein, kenapa begitu cepat menolakku? Masih banyak waktu loh supaya kita bisa menjadi dekat, nanti pasti jatuh cinta padaku. "


Pria itu, dia adalah Lavein, cicit dari keluarga kaya yang menolak untuk menjalankan bisnis keluarga dan memilih profesi yang dia jalani sekarang yaitu, Dokter.


" Pasien selanjutnya! " Ucap Lavein meminta pasien berikutnya karena waktu yang di habiskan untuk Velipe sudah cukup banyak.


Velipe membuang nafasnya, lalu dia bangkit dengan wajah tidak rela.


" Calon suamiku, calon istri cantikmu ini pulang dulu ya? besok aku akan datang lagi! "


Lavein tak menanggapi, tak lama setelah itu juga pasien baru datang jadi Velipe juga tidak ada pilihan selain cepat pergi.


Begitu keluar dari gedung rumah sakit.


" Kau benar-benar menghabiskan banyak uang hanya untuk bertemu Dokter menyebalkan itu ya? " Ujar sahabatnya Velipe yang selalu menemani Velipe kemanapun dia pergi.


Velipe menghela nafasnya lalu tersenyum. Benar, sebulan ini dia mengabiskan banyak sekali uang hanya untuk bertemu dengan Lavein dengan alasan konsultasi tentunya. Entah mengapa, semenjak dia bertemu dengan Lavein ketika dia terjatuh saat olah raga lalu di bawa ke rumah sakit, dia di tangani langsung oleh Lavein. Sejak hari itu dia benar-benar tidak bisa melupakan Lavein. Wajahnya, cara dia bicara, saat dia menyentuh kakinya, semua itu benar-benar membuat jantung Velipe berdebar kencang.

__ADS_1


" Tapi dia terlalu dingin dan sombong, dia juga tidak menyukai mu kan? "


" Em! Benar sekali! Pria yang aku sukai tidak menyukaiku, pria yang tidak aku sukai juga tidak menyukaiku. Bukankah aku sudah terbiasa? Tapi untuk kali ini, aku tidak akan menyerah begitu saja! " Ucap Velipe mengepalkan tangannya, mengangkatnya tinggi dengan wajah yang begitu terlihat bersemangat.


Sahabat Velipe yang bernama Stefani itu hanya bisa memutar bola matanya karena jengah dengan apa yang di lakukan Velipe.


Sabtu malam, Velipe benar-benar hanya bisa menghela nafas sebal karena orang tuanya terus memaksa untuk ikut menghadiri perayaan sebuah perusahaan yang adalah mitra kerja perusahaan keluarganya.


Dia sudah menggunakan gaun yang di siapkan Ibunya, wajahnya juga sudah di rias oleh Ibunya hingga menjelma menjadi gadis yang sangat cantik. Bersama dengan orang tua, adik laki-lakinya Velipe akhirnya sampai di hotel mewah di mana perayaan itu di selenggarakan.


Tidak ingin terus bergabung dengan Ibunya mendengarkan pembicaraan orang tua yang tidak dia pahami, Velipe berjalan melihat lihat sekitaran ruangan yang terasa sangat elit dan mewah itu.


Love........


Velipe mengeryit, dia seperti mendengar seseorang memanggil Love begitu jelas di telinganya meskipun seperti berbisik. Velipe membalikkan tubuhnya, menatap sebuah photo yang di pajang di dinding yang tak jauh darinya.


" Kenapa sih? Love siapa? Namaku bukan Love kan? " Gumam Velipe, tapi saat dia kembali melihat photo itu Velipe Kadi teringat dengan Dokter yang selama ini dia kagumi Lavein, iya! Pria di photo itu mirip sekali dengan Lavein. Tidak mungkin itu adalah Lavein kan? Karena dia terlihat lebih dewasa, dan pakaian yang sangat rapih itu bukan edisi terbaru beberapa tahun ini kan?


" Kenapa aku malah merasa sangat akrab dengan orang yang ada di photo itu? " Gumam Velipe, anehnya tanpa sadar matanya memerah seperti ingin menangis tapi entah menangisi apa.


Tak tak tak


Suara sepatu pantofel terdengar nyaring di lorong yang agak sunyi sehingga Velipe bisa mendengar jelas adanya seseorang yang tengah melangkah menuju ke arahnya.


Deg!


Pria itu, pria itu datang!


Velipe membulatkan matanya karena tidak percaya jika bisa melihat Lavein datang berjalan menuju ke arahnya. Velipe menatap photo itu lalu menatap Lavein, dan memang mereka sangat mirip sekali.


" Kak Lavein! " Velipe tersenyum, dan Lavein berhenti tak jauh darinya.


" Kau ada di manapun rupanya. " Ujar Lavein dengan wajah datarnya.

__ADS_1


" Tepatnya, aku selalu ada di hatimu! "


Lavein membuang nafasnya.


" Baiklah, aku permisi dulu. "


" Tunggu! "


Levin mengentikan langkah kakinya, menatap Velipe dengan tatapan bertanya.


" Itu, pria itu siapa? " Tanya Velipe menunjuk photo yang berada di balik punggung Lavein membuat pria itu memutar tubuhnya untuk melihat.


" Ayahku bilang, itu photo kakek buyut ku. "


Velipe tersenyum.


" Halo kakek buyut? Aku calon istri kak Levin, senang berkenalan dengan kakek buyut. " Velipe tersenyum sembari menatap photo itu.


Levin menggeleng keheranan.


" Jangan bicara sembarangan. "


" Kenapa aku harus bicara sembarangan, sayang? "


Lavein mengeryit menatap Velipe yang terus tersenyum padanya.


Aku datang, kali ini biarkan aku yang berjuang lebih dulu!


Selesai!


Bonus Chapter selesai! Terimakasih untuk segala dukungannya, like, komentar, hadiah, vote, apapun itu. ❤️😘


Di tunggu di novel baru othor ya.......

__ADS_1


Marriage Struggle


__ADS_2