Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Apa Yang Kau Dapatkan?


__ADS_3

Selena menyeka air matanya yang jatuh begitu banyak, rasanya benar-benar sakit sekali karena kenyataan ini. Padahal selama ini dia begitu santai tidak begitu membebani diri dengan cinta karena dia yakin benar tidak akan kehilangan cinta dari Rigo. Mereka sudah menikah, tentu saja itu bukan hal mudah yang bisa dia terima. Tatapan sombong Velo, cara bicaranya yang sinis, arogan tapi di bungkus dengan senyum, tatapan yang menghina, semua itu terus melukai hatinya semakin parah.


Nyonya Fer berbicara tidak jelas, dan Selena hanya meliriknya sebentar. Kesal, dia benar-benar kesal sehingga Ibunya yang sakit saja terlihat salah di matanya. Entah apa yang di inginkan oleh Nyonya Fer, tapi Selena benar-benar sedang tidak perduli. Bagaimanapun dia baru saja satu hati bekerja, tapi sekarang harus berhenti, di tambah menerima kenyataan bahwa tugasnya adalah untuk menjaga dan merawat Ibunya. Dia juga marah karena kenyataan Ibunya yang begitu pelit, semua uang berada di tangannya sehingga dia tidak bisa banyak berbuat apapun. Hanya bisa mengandalkan uang yang dia kira berasal dari Ayahnya, dan sekarang sudah harus berhemat karena obat Ibunya lumayan mahal.


" Diam lah, Ibu! Aku benar-benar sedang tidak memiliki mood untuk bersabar lagi. Ibu tahu Ibu seharusnya bisa sembuh cepat kalau Ibu tidak begitu erat menggenggam uang. Lihatlah, sekarang Ibu benar-benar sengsara kan? Ibu sulit sendiri karena Ibu pelit kan? "


Nyonya Fer terdiam, dia menangis tak bisa berkata-kata. Sekarang stroke nya semakin parah, tadinya hanya separuh tubuhnya jadi dia pikir dia akan membaik seiring berjalannya waktu. Pelit? Lebih tepatnya dia sedang menghemat uang karena banyak cicilan yang harus dia bayar agak rumahnya tidak di sita Bank dan anaknya tidak kehilangan tempat tinggal. Memang siapa yang mau sakit seperti itu? Tubuhnya bahkan hampir semua tidak bisa di gerakkan dengan normal karena dia terus memikirkan putrinya agar putrinya tidak kesulitan dalam keuangan, tapi nyatanya tetap sama saja, putrinya harus kesulitan menjaganya, di tambah suami brengseknya menghilang begitu saja setelah mengambil perhiasan miliknya.


" Ibu, sekarang janganlah banyak menuntut apapun. Aku sudah tidak bisa melakukan banyak hal, dan aku harus menjaga Ibu. membersihkan kotoran Ibu, membersihkan badan Ibu, menjaga dua puluh empat jam dan tidak tidur dengan benar. Tolong cepatlah sembuh, aku lelah........ " Selena kembali terisak mengingat semua hal yang menyakitkan begitu banyak terjadi di hidupnya, dan itu semua semenjak Velo datang di kehidupannya. Ayahnya yang juga dia harapkan juga tidak tahu di mana, dia hanya memberikan uang tanpa mau datang lagi padanya. Mungkin Ayahnya sudah benar-benar muak dengan Ibunya, di tambah lagi perdebatan tempo hari Selena ikut menekan Ayahnya sehingga Ayahnya memilih pergi dan mengabaikan semua pesan darinya.


Kenyataannya, Ayah Fer tidak bisa menerima pesan dari Selena karena nasib sial kembali dia rasakan. Malam tadi, saat dia sedang membeli makan dan akan keluar dari sarung penjual nasi dia ingin membaca pesan yang masuk ke ponselnya, tapi begitu mengeluarkan ponselnya, seorang jambret melintas dengan sepeda motor dan merampas ponselnya. Sial yang datang bertubi-tubi itu benar-benar membuat Ayah Fer kebingungan sendiri. Rasanya sudah kehabisan banyak hal, tapi kenapa masih sial tak berhenti menghampirinya?


Uang di sakunya hanya tinggal dua lembar saja, tidak cukup untuk ongkos pergi ke desa, tidak cukup pula untuk biaya hidup bahkan sampai dua hari. Makanan yang dia beli termasuk makanan murah, tapi tetap saja harganya agak mahal, di tambah dia juga tidak mungkin tidak minum. Sudah dua hari dua makan satu kali dalam sehari, dia mencoba mengabaikan perutnya yang terus berbunyi saat akan tidur tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun. Sudah beberapa hari dia hanya bisa tidur di tempat yang terbuka.


Ayah Fer menghela nafasnya, sudah beberapa hari ini dia tidur di sembarang tempat di luaran. Kadang di halte bus, kadang di depan ruko yang sudah tutup, kadang juga di taman kota. Tentu saja dia beberapa kali mendapatkan perlakuan tidak baik dari para penjaga tempat, dan sempat juga membuat dia merasa kesal dan tidak terima dengan mengatakan kalimat seperti ini,


" Jangan perlakukan aku seperti gembel, gelandangan! "


Tapi balasan dari dia malah membuat Ayah Fer tidak bisa berbuat apa-apa dan cukup membuatnya malu.

__ADS_1


" Kala anda bukan gelandangan, gembel atau apapun itu, tolong tidurlah di rumah anda! "


Gelandangan? Apakah dia sudah benar-benar lantas untuk menjadi gelandangan? Ternyata dia cukup tersadar sekarang, dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menunjang hidupnya.


Ayah Fer tidak sengaja melihat pemulung yang lewat dan mengambil botol bekas minumnya. Dia tercekat dan akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri pendukung itu.


" Tunggu, Tuan! " Ayah Fer buru-buru berjalan mendekati pemulung yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


" Ada apa? "


" Maaf aku mengganggu mu, tapi bolehkah aku bertanya, pendapatan untuk menjadi pemilik berapa? "


Ayah Fer terdiam sebentar, lima puluh? Memang sedikit, tapi dengan uang segitu setidaknya dia masih bisa makan, kalau irit juga bisa menabung sedikit demi sedikit untuk kebutuhan mendesak.


" Baiklah, terimakasih. " Ujar Ayah Fer.


Pemulung? Pekerjaan ini benar-benar sangat tidak ingin dia kerjakan, selain kotor karena urusannya dengan sampah, dia juga menganggap pekerjaan ini sengaja kerjaan rendahan dan hina. Sudah tidak ada pilihan lagi, dia hanya bisa memikirkan bagiamana caranya agar perutnya tidak kosong.


***

__ADS_1


Velo tersenyum miring karena pada akhirnya dia bisa membuat sebuah keluarga harmonis, keluarga yang begitu bahagia dengan kematian Ibunya, dan penderitaannya selama ini. Keluarga yang selalu tersenyum, memasang wajah lembut, tatapan hangat, memperlakukan putri mereka seperti memperlakukan tuan putri. Lihat, lihatlah kekacauan itu, lihatlah seberapa banyak mereka menangis, dan masalahnya adalah, ini masih terbilang awal. Jalan hidup mereka berikutnya memasang sudah tidak akan menjadi urusan Velo lagi, tapi Velo yakin benar jika mereka akan memilki penyesalan dan kesakitan mereka sendiri baik secara batin juga fisik.


" Velo, sudah sejauh ini apa kau masih ingin bertindak? " Tanya Rigo yang sedari tadi terus memperhatikan wajah Velo yang tidak biasa setelah menerima telepon.


Velo menatap Rigo, lalu memaksakan senyumnya.


" Jika di bandingkan apa yang mereka lakukan padaku, penderitaan mereka benar-benar tidak akan setimpal. "


Rigo terdiam sebentar.


" Lalu apa yang kau dapatkan? Kau bahagia melihat mereka menderita? "


" Kau sedih untuk kekasihmu? "


" Lebih tepatnya, aku sedih untukmu. Kau tidak akan mendapatkan apapun dengan mereka menderita, kau hanya akan mendapatkan makian dan sumpah serapah dari mereka. "


" Kau tidak tahu ya? Mendengar sumpah serapah dari orang lain, di hina, apapun sikap buruk semacam itu aku sudah terbiasa jadi bukan masalah besar untukku. " Ujar Velo.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2