Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Dendam Yang Salah


__ADS_3

Rigo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, benar-benar seperti seorang pria yang tengah kesetanan. Dia begitu tidak bisa tenang, yang ada di pikirannya hanyalah, Velo, Velo, Velo, Velo, dan Velo. Gila kah? Entah!, perempuan tidak berperasaan, perempuan berhati batu, tidak bisa memahami perasaan orang lain, tatapan kejam, arogan, jahat, mulutnya pedas, suka menggoda dan tidak memberikan banyak waktu untuk istirahat dengan benar. Tapi, wanita itu membuat Rigo terus ingin sekali lebih dekat, semakin dalam terjebak untuk mencintainya, semakin egois pula dia ingin memilikinya seorang diri.


Begitu sampai di apartemen, Rigo terdiam sebentar karena terkejut melihat lampu ruangan depan dalam keadaan mati. Mungkinkah Velo duduk di balkon seperti biasanya dengan suasana gelap? Dengan cepat Rigo melangkahkan kaki menuju balkon, melihat tidak ada Velo di dana, Rigo berbaik dan berjalan cepat menuju kamar yang biasa mereka gunakan untuk tidur. Gelap, jadilah Rigo menyalakan lampu dengan tangan gemetar karena dia takut saat lampu menyala dia tidak melihat Velo berada di sana.


Deg!


Benar saja, Velo tidak ada di sana. Rigo terduduk lemas, dia benar-benar sedih dan menduga kalau Velo pasti pergi bersama Zegon untuk menjalani hidup mereka dengan bahagia. Hancur, dia benar-benar hancur karena dugaannya sendiri. Dia benar-benar sangat tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya pergi bersama dengan pria lamanya, dia tidak bisa tidak menangis hingga sesegukan di sana.


Setelah beberapa saat, Rigo bangkit dan melihat satu kotak cukup besar. Rigo berjalan mendekatinya, lalu membuka kotak itu. Semua isinya adalah tentang Rigo, photo pernikahan, kartu debit milik Rigo, juga cincin yang dia berikan untuk Velo waktu itu. Rigo benar-benar sangat hancur dan kesal, dia marah dengan keputusan Velo yang begitu tidak berperasaan.


" Velo, ternyata di matamu aku bahkan sama sekali tidak memiliki arti apapun ya? Ternyata apapun yang aku lakukan, semua kesabaranku benar-benar hanyalah angin lewat saja. "


Rigo mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dia berbalik meninggalkan kamar itu. Dengan raut wajah marah juga kecewa, Rigo meninggalkan apartemen milik Velo. Dia benar-benar mendendam dan membenci Velo, entah sampai kapan kebencian itu akan dia rasakan, dan entah bagaimana pula yang akan dia lakukan saya dia bertemu dengan Velo nanti.


Hari demi hari telah terlewati.


Rigo sekarang sudah seperti manusia tanpa nyawa. Dia tidak seperti sebelumnya yang mudah tersenyum, akrab dengan siapapun apalagi yang di ceritakan adalah tentang bola. Selama di kantor juga Rigo tak beda. Dia akan mengerjakan semua pekerjaan kantor tanpa sekalipun mengeluh lelah. Tentu saja karena dia ingin terus menyibukkan diri agar tidak terus teringat Velo, sedangkan Ayah Rigo hanya bisa membiarkan putranya memiliki waktu untuk melakukan apapun setidaknya sampai dia tenang nanti.


Masalah Zegon, Ayahnya Rigo juga belum lama tahu. Dia benar-benar cukup terkejut karena ternyata dia adalah pria yang selama ini menjadi penyokong keuangan Velo. Entah bagaimana dia harus bertindak sekarang ini, dia lain sisi dia tidak ingin Rigo berurusan dengan Zegon, tapi semua juga tidak mungkin karena Zegon dan perusahaan milik Ayahnya Rigo sudah menjalankan proyek baru mereka.


" Rigo, pulanglah ini sudah mulai malam. Kau mau membunuh dirimu sendiri? " Ujar Ayahnya Rigo yang masih saja melihat Rigo berada di ruangannya mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya bukan tugasnya untuk mengerjakan itu.


" Tidak apa-apa, Ayah. Aku masih ingin tetap disini. "


Ayahnya Rigo membuang nafasnya.

__ADS_1


" Jangan keras kepala, pulanglah dan temui Ibumu. Beberapa hari terakhir ini dia terus menanyakan tentangmu, jadi jangan seperti ini, kalau kau merasa sepi kau kan bisa bersama kami. "


Rigo mengangguk tanpa ekspresi, sekarang ini dia benar-benar tidak ingin melakukan apapun selain bekerja, jadi yang lainnya tidak akan dia lakukan.


" Lusa ada acara di kediaman Tuan besar Greff, kau mau ikut tidak? " Tanya Ayahnya Rigo.


Greff? Bukankah itu adalah nama keluarga dari Zegon? Acara apa? Apakah Velo dan Zegon akan melangsungkan pernikahan?


" Tidak mau. "


Ayahnya Rigo hanya bisa menghela nafasnya, memang benar putranya sedang tidak bisa di ajak bicara, jadi akan lebih baik kalau Rigo di tinggalkan saja sendiri.


Ayahnya Rigo segera meninggalkan ruangan Rigo setelah itu.


Di sisi lain.


Tatapan datang dulu membencinya, semua teman sekolahnya yang dulu sangat suka mengejek menjadi menatap kagum dan iri. Tetangga yang dulu terus memusuhi Ibunya sebagai janda buruk kini seperti menjilat ludah mereka sendiri dengan memuji Velo.


Kepala desa, pria itu sudah setua Ayahnya, tapi tatapan matanya yang haus akan Velo masih di rasakan oleh Velo. Selama waktu Velo tinggal di desa, Velo jarang sekali keluar rumah karena dia malas melihat tetangga, apalagi melihat kepala desa yang seperti sedang mencari perhatian Velo dengan mondar mandir di depan rumahnya.


Tok Tok


Suara pintu di ketuk membuat Velo yang sedang melamun menatap photo jadi tersentak. Velo berjalan mendekati pintu, tapi sebelum itu dia mengintip dulu melalui jendela siapa yang datang, dan ternyata adalah seorang pria muda tapi Velo tidak tahu siapa.


" Ada apa? " Tanya Velo tanpa ekspresi melihat pria itu tersenyum lebar padanya.

__ADS_1


" Kau sendirian? "


" Ada apa? " Tanya Velo karena pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban, justru pria itu malah bertanya balik.


" Ah, aku anak dari tetangga sebelah mu. Aku baru pulang dari kota, aku bekerja di sebuah perusahaan besar di sana. Aku dengar kau baru saja kembali, jadi datang untuk menyapa. "


Velo tersenyum miring dengan tatapan jengah.


" Oh, jadi kau anak laki-laki yang dulu mendorongku masuk ke got? "


Pria itu tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya.


" Aduh Velo, ingatanmu bagus sekali ya? Baiklah, aku minta maaf untuk kenakalanku waktu itu ya? "


Velo menghela nafas.


" Baiklah, aku memaafkan. Kalau begitu aku tutup dulu pintunya, aku sedang sibuk. "


" Eh, tunggu! " Pria itu menahan Velo dengan menyentuh lengan Velo.


Velo menyingkirkan tangan pria itu dengan mimik kesal.


" Apa lagi? "


" Nanti malam gabung bersama keluargaku ya? Aku ingin mengajakmu makan malam bersama. "

__ADS_1


" Aku tidak suka makan dengan banyak orang, jadi maaf aku tidak akan datang. "


Bersambung.


__ADS_2