Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Aku Akan Mencoba!


__ADS_3

Velo mendorong wajah Rigo yang seperti ingin mencium bibirnya. Sepertinya, apapun yah dia katakan dan apa yang akan dia lakukan, Rigo tidak akan memperdulikan, juga tidak akan menjauh darinya. Entah harus bagaimana mengahadapi Rigo, yang jelas jika menjauhi Rigo adalah hal yang mustahil sekarang ini.


Rigo menghela nafasnya, padahal dia ingin sekali mencium bibir Velo, syukur juga kalau bisa sekalian melakukan itu. Maklum saja, satu bulan ini dia tida bertemu Velo, jadi tidak ada yang salah jika dia terus memikirkan hal seperti itu kan? Di tambah lagi dia sudah terbiasa dengan Velo yang begitu gencar menggodanya, jadi Velo yang flat seperti ini benar-benar membuat Rigo ingin terus maju, melakukan hal-hal yang ingin dia lakukan.


" Jadi kau tidak akan pergi kalau aku juga tidak ikut? "


Rigo mengangguk dengan bibir tersenyum.


" Baiklah, ada banyak syarat kalau kau ingin aku ikut bersama denganmu. "


" Hem, boleh katakan syaratnya sekarang? "


Velo menghela nafasnya sebentar.


" Pertama, aku minta uang bulanan delapan puluh persen dari gajimu untukku pribadi, kebutuhan lainnya tentu saja kau juga yang cover. Kedua, aku harus memiliki waktu bebas setiap akhir pekan. Ketiga, tidak boleh membentakku. Ke empat, kalau aku sedang bosan denganmu, aku di izinkan untuk cuci mata dan sebentar main-main dengan pria muda yang gagah. Ke lima, tidak boleh memaksa untuk melahirkan anak karena aku tidak ingin memiliki anak. Ke enam, kau tidak boleh berselingkuh tapi aku boleh. Ke tujuh, aku akan ganti mobil setiap satu tahun sekali. Delapan, tidak boleh memaksaku memasak, atau apapun yang tidak aku suka. Persyaratan selanjutnya sedang aku pikirkan. "


Rigo menggigit ujung kuku dari hari telunjuknya sembari berpikir dan menahan tawa. Rigo tidak boleh berselingkuh sementara Velo bisa melakukanya? Ganti mobil setiap tahun? bermain dengan pria muda? Hehe....... Walupun ucapan itu terdengar seperti wanita yang picik dan tidak tahu malu, memang siapa yang akan melakukannya sebagai syarat nikah kecuali Velo? Masalah uang nafkah dan kebutuhan bulanan, tentu saja adalah hal yang wajar bagi pasangan menikah, tapi persyaratan yang di ajukan Velo benar-benar menggelitik.


Ve, kau pikir aku mempercayainya begitu saja? Wajah picik dan murahanmu itu hanyalah topeng tebal yang begitu melekat di wajahmu, biar aku tunjukan padamu bahwa kau akan lebih nyaman dan bahagia saat menjadi dirimu sendiri.


" Oke! " Ucap Rigo dengan yakin.


" Apa?! " Velo terkejut tentunya, gila! Padahal persyaratan yang dia berikan tadi sangat tidak masuk akal, bukanlah seharusnya Rigo memprotes dirinya yang begitu bejat?

__ADS_1


" Kau gila ya? " Tanya Velo dengan tatapan tidak percaya.


Rigo tersenyum, lalu menatap Velo dengan dalam.


" Bukankah hanya dengan begitu kau akan bahagia? Aku mencintaimu makanya aku juga ingin melihat kau bahagia. Kalau melakukan semua yang kau katakan tadi bisa membuatmu bahagia, kenapa aku tidak setuju? "


Velo terdiam, dia sekarang benar-benar tida bisa mundur meksi maju juga bukanlah hal yang mudah untuknya.


" Rigo? "


" Em? "


" Seumur hidupku, aku tidak memikirkan tentang pernikahan, memiliki suami, hidup bersama dengan ikatan pernikahan, apalagi sampai menua bersama. Pria itu, pria yang seharunya adalah Ayahku memberikan kesan yang begitu buruk baik sebagai Ayah ataupun suami. Aku selalu menganggap semua pria akan seperti itu, pria akan mudah berubah saat bertemu dengan wanita yang baru. Dia akan menjadi sosok yang baru hingga pasangan sebelumnya merasa dia begitu asing dan berubah. Aku tidak siap menghadapi itu, karena apa? Karena aku tahu aku pasti akan melakukan apa yang tidak Ibuku lakukan. Bukan hanya tentang cemburu, tapi aku benci di khianati. Aku, akan dengan dingin menyakiti wanita itu, mencekiknya, merencanakan banyak hal untuk menyakitinya, aku juga tidak akan merasa bersalah saat dia pergi ke neraka lebih dulu. Lebih tepatnya, aku tidak ingin menikah karena kemungkinan itu, dan aku lebih menjaga tanganku agar jangan sampai menjadi wakil malaikat maut. "


" Ayahmu itu ibarat kambing yang baru pertama kali keluar dari kandang, dia brutal mencoba banyak hal yang menarik, lupa untuk kembali ke kandang dan terus berada di tempat yang pikir dia indah. Tapi yang harus kau ingat, dia pasti merindukan kandangnya, hanya saja dia tidak bisa bicara. "


" Kau, sedang menyamakan Ibuku dengan kandang? " Tanya Velo sedikit mengeryitkan dahi menatap Rigo.


" Ah, tidak lah. Tapi kalau aku memang jadi kambing dan kau kandangnya, aku benar-benar akan berada terus di kandang, serius deh! "


Velo memutar bola matanya karena begitu jengah dengan rayuan Rigo yang menyebalkan untuk dia dengar.


Rigo meraih kembali tangan Velo dan menggenggamnya paksa saat Velo ingin menarik kembali tangannya.

__ADS_1


" Jangan takut apapun, jangan takut untuk bersama denganku karena aku bukan Ayahmu. Aku tidak begitu miskin sampai membutuhkan wanita kaya maupun kau memang banyak uang. Aku punya orang tua yang pasti akan memarahiku saat aku menyakiti pasanganku. Ve, ini adalah kali pertama Ibuku menyukai wanita yang bersamaku. Percayalah padaku bahwa, Ibuku tidak akan membiarkan putranya melakukan kesalahan saat putranya sudah menikahi seorang wanita. Dia juga sama sepertiku, dia dia bahkan sering menanyakan apakah sudah tahu kau dimana. "


Velo tertunduk menahan sesuatu yang sepertinya dia ingin menangis. Ah, sialan! Gara-gara menangis kemarin, dia jadi mudah ingin menangis sekarang.


" Baiklah, aku akan mencoba untuk bersamamu. Tapi jika pada akhirnya aku tetap ingin pergi, tolong biarkan aku pergi, bagaimana? "


Tidak boleh!


Rigo tersenyum.


" Tentu saja, asalkan itu bisa lebih membuatmu bahagia. " Ucap Rigo berlawanan sekali dengan hatinya.


Velo tersenyum tipis, semoga keputusan ini adalah keputusan yang benar. Walaupun tahu kehidupan antara dua orang akan selalu memiliki jalan dan masalah masing-masing, tapi asalkan Velo tidak merasa di selingkuhi, dia pasti akan bisa bertahan apapun yang terjadi.


" Ve? " Panggil Rigo.


" Hem? " Velo menoleh menatap Rigo. Mereka kini benar-benar berada di jarak yang begitu dekat. Rigo menatapnya dengan dalam, menggerakkan satu tangannya mengusap wajah Velo, dan beralih meraih tengkuk Velo.


" Aku benar-benar merindukanmu, sangat merindukanmu. Tolong jangan tolak aku sekarang, aku benar-benar tidak bisa menahan lagi. " Rigo menyatukan bibirnya dengan bibir Velo, memangutnya dengan lembut sembari mendorong tubuh Velo perlahan untuk berbaring di atas sofa duduk tempat mereka berbicara sedari tadi.


Velo sebenarnya masih ingin menolak, tapi tangan Rigo yang terasa begitu hangat menyentuh tengkuknya seolah tak bisa membuat bibirnya terbuka apalagi untuk bicara. Perasaan itu, debaran jantung itu, kenapa tiba-tiba begitu di rasakan oleh Velo?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2