
Velo tersenyum melihat bagaimana Ibunya Rigo menyambutnya. Wanita cantik itu, Meski memilki kerutan yang tak bisa di sembunyikan, tapi dia yang energik dan juga sangat ramah benar-benar terlihat sangat cantik di mata Velo. Nyonya Elena, wanita yang tak lain adalah Ibu mertuanya benar-benar tidak seperti kesan pertama kali mereka bertemu. Dia yang dulunya sangat dingin dan cuek, kini terlihat ramah, juga penyayang. Sedari Velo datang kesana pagi tadi bersama Rigo, dia tak henti-hentinya mengajak Velo untuk mengobrol kesana kemari, menceritakan tingkah polah Rigo sewaktu kecil dan banyak hal lain.
" Ve, kue kering ini adalah buatan Ibu loh. Kau mau coba tidak? Oh iya, karena Ibu tidak terlalu suka yang sangat manis seperti kebanyakan kue kering pada umumnya, rasanya mungkin agak hambar, tapi kalau yang keju, pure keju jadi agak asin. Ayo, cobalah! "
Velo mengangguk setuju, lalu dia mengambil kue kering yang di sodorkan padanya. Begitu dia mendapati gigitan pertama, Velo tersentak bahagia karena tenyata rasanya benar-benar enak, gurih, dan manis yang tidak terlalu mencolok sangat sesuai dengan seleranya.
" Bagaimana? "
" Ini enak, Ibu! "
Velo terdiam, begitu juga dengan Nyonya Elena. Kenapa? itu karena tanpa sadar Velo memanggil Nyonya Elena dengan sebutan Ibu. Sedari datang pagi tadi Velo terus memanggil Nyonya Elena sebagai Bibi, tapi hanya karena kue kering yang enak dia jadi tiba-tiba memanggil Ibu. Velo tersenyum sembari menahan dirinya yang ingin menangis, ternyata menyebut wanita lain sebagai Ibu, memanggul Ibu, tidaklah menyakitkan seperti sebelumnya. Rasanya lega, dia bisa memanggil Ibu meski orang itu bukanlah Ibu kandungnya.
Nyonya Elena tersenyum menatap Velo dengan dalam. Sepertinya dia bisa melihat Velo tersenyum sembari menahan perasaan ingin menangis sehingga Nyonya Elena merasa hatinya begitu tersentuh olehnya.
" Ve, karena aku tidak memiliki saudari, di tambah aku juga tidak suka terlalu dekat dengan teman, aku juga tidak punya putri, bagiamana kalau mulai saat ini Ibu bisa menganggap mu sebagai teman dan putri sekaligus? "
Velo terdiam karena tidak begitu paham apa yang di katakan Nyonya Elena.
" Maksudnya adalah, bagaimana kalau nanti kita pergi ke salon bersama, melakukan hal menyenangkan lainnya seperti berbelanja atau apapun. Meskipun Ibu tidak muda lagi, tapi Ibu tidak kuno jadi percayalah Ibu bisa mengimbangi mu. "
Velo mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya, air mata yang sangat sulit untuk di tahan itu jatuh juga membuat Nyonya Elena langsung memeluk Velo.
Seperti inikah rasanya memiliki Ibu? Seperti inikah bahagianya ketika ada sosok yang akan memeluk dan menguatkan? Kenapa hatinya sangat rapih sekarang? Kenapa dia mudah menangis? Kemana dirinya, kemana keteguhan, juga sikap dingin dan arogan seperti sebelumnya?
" Ve, Ibu tidak tahu seberapa sulitnya hidup yang kau jalani, percayalah manusia di ciptakan bukan untuk terus merasakan kepedihan. " Nyonya Elena mengendurkan pelukannya. Menangkup wajah Velo dan mengusap air matanya.
" Kalau kita merasakan ketengan dalam hidup, sekecil apapun hal akan di rasa bahagia, jadi penting sekali untuk hati merasa tenang. Sekarang kau bukan hanya punya Rigo, tapi juga punya Ibu dan Ayah. Bukankah kami saja sudah cukup? "
Velo mengangguk, lalu tersenyum meski air matanya terus terjatuh.
Rigo, pria itu hanya bisa berdiri dari kejauhan melihat Velo dan juga Ibunya yang terlihat sangat akrab melebihi kedekatannya dengan Ibunya. Tapi, Rigo bahagia sekaligus terharu rasanya. Velo, wanita berhati batu, dingin, arogan, egois, ternyata adalah seorang wanita yang lemah dan rapuh. Selama ini sudah berpura-pura kuat dan hebat tentu ada masanya dia merasa lelah dan menyerah.
Tidak banyak yang berubah, hanya saja mereka berdua menjadi lebih terbuka dari sebelumnya.
Rigo, pria itu sekarang menjadi sangat aktif dalam banyak hal. Pagi dia bangun akan membantu menyiapkan sarapan, siang hari dia akan terus menghubungi Velo untuk mengingatkan makan, bahkan kadang dia mengirimkan makanan melalui aplikasi online. Malamnya Rigo selalu pulang dengan makanan untuk mereka, dan setiap malam pula Rigo tak membiarkan Velo tidur dengan nyenyak.
" Rigo, hentikan! " Velo menyingkirkan tangan Rigo yang begitu cepat menyusup masuk ke dalam kain dress yang di gunakan Velo. Bukanya tidak ingin melayani suaminya, hanya saja saat itu Velo sedang menghubungi Renata karena ada hal mengenai butik yang harus mereka rundingkan.
Tak mungkin mendengarkan Velo, Rigo yang kini berada di belakang tubuh Velo kembali menjalankan tangannya, menyusup dengan cepat ke bagian kain segitiga, menggunakan tangannya untuk sedikit bergerak membuat Velo menggigit bibirnya menahan itu.
" Rigo! " Bentak Velo pelan karena dia masih harus berbicara di telepon. Rigo semakin menjadi disana sehingga Velo benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Segera Velo mengakhiri panggilan teleponnya, berbalik badan dan sekarang dia lah yang membuat gerakan sebagai balasan dan penyerangan.
__ADS_1
Iya, seperti kebanyakan rumah tangga lainnya.
***
Zegon berada di ruang kerjanya tak perduli waktu yang sudah tengah malam. Padahal dia baru pulang bekerja pukul delapan malam tadi, dan begitu pulang dia hanya mengambil makanan untuk makan malam, dia bawa ke ruang kerjanya.
Zegon tahu apa yang dia lakukan sebenarnya tidak adil untuk istrinya. Tapi bisa apa dia kalau berusaha mencintai Greta sangat sulit untuknya. Tentu saja Zegon ada pada momen di butuhkan seperti, memeriksakan kehamilan, membelikan apa yang ingin di makan oleh Greta, hanya saja dia tidak bisa sedekat itu meski dia sudah memaksa dirinya. Tidak mungkin juga meminum obat perangsang karena efeknya juga tidak akan bagus untuknya, toh dia pasti akan menyesal saat sudah melakukan itu dengan Greta kan?
Velo, nama itu memang masih melekat di hatinya, tapi dia juga sadar jika Velo sudah bersama pria yang baik jadi dia tahu kemungkinan besarnya dia dan Velo memang tidak akan bersatu sehingga dia juga tidak ingin terus memikirkan Velo.
" Sayang, ini sudah malam jadi apakah bisa kau berhenti dan masuk ke kamar untuk istirahat? "
Zegon menatap Greta sebentar, lalu menghela nafas.
" Aku masih ingin di sini, tidurlah, jangan menungguku. "
Greta terdiam sedih, juga kecewa. Ternyata adanya bayi di dalam perutnya juga tidak bisa merubah perasaan Zegon sedikitpun. Zegon masih saja tak mau menyentuhnya, dia masih saja berwajah dingin meski cara bicaranya sudah tidak sekadar dan sekeras sebelumnya.
" Apa aku boleh menemani mu di sini? " Greta terus menatap Zegon penuh harap.
Bersambung.
__ADS_1