
Setelah menutup telepon dari Ayah Fer, Velo tersenyum miring dengan tatapan dingin, tatapan itu tak bisa Rigo lihat karena posisi Velo tengah membelakanginya saat itu. Velo tahu kalau hal ini belum seberapa di bandingkan dengan apa yang dia alami, sehingga keinginan untuk memberikan lebih penderitaan menjadi semakin ingin dia lakukan.
Tuan Fer, ini sudah gilaranmu. Aku akan memperlihatkan betapa jahatnya seorang anak yang lahir dari sifat jahat dan bajingan mu. Aku, seorang Velo, manusia rendahan yang tidak punya hati ini akan membuatmu merasakan lebih baik mati di banding hidup. Tunggulah, hitung saja detik demi detik dari sekarang. Aku akan membuatmu seperti tercekik setiap detik, matamu terbuka terus menerus tak bisa tertidur sedetikpun.
Velo meletakkan ponsel milik Rigo, lalu menjatuhkan tubuhnya di sebelah Rigo dan memeluk Rigo untuk menyembunyikan wajahnya.
Rigo hanya bisa terdiam tanpa bicara, tangannya bergerak untuk mengusap kepala Velo dengan lembut. Pembicaraan antara Velo dan Ayah Fer memang sepertinya bisa membuat Rugi memahami beberapa hal. Meskipun dia tidak tahu apa yang di katakan oleh Ayah Fer, dia tentu saja memahami benar situasinya dari kalimat yang keluar dari mulut Velo.
Kebencian, kekecewaan, perasaan marah, terkhinati, mendendam sampai ke tulang sumsum, mendarah daging, sepertinya Ayah Fer memiliki hutang besar, atas kehidupan Velo.
Waktu sudah hampir sore, Velo dan Rigo benar-benar lelah karena hanya berbaring di tempat tidur sehingga Velo meminta Rigo mengantarnya untuk pergi ke salon. Dia ingin merawat tubuhnya dulu, baru nanti sekitar jam tujuh malam Rigo akan menjemputnya di sana. Tidak ada yang harus di kerjakan, Velo juga meminta Rigo untuk meninggalkannya karena akan butuh waktu yang cukup lama, akhirnya Rigo kembali ke mobil, sebentar mengendurkan mobilnya dengan santai dan berpikir apa yang akan dia lakukan sampai nanti jam tujuh malam?
Begitu melintasi galery yang dulu pernah dikunjungi Selena dan membuatnya bertemu dengan Velo, iya! Galeri itu adalah milik Nyonya Laurent. Segera Rigo mengatakan mobilnya kesana, entah ada ayu tidak Nyonya Laurent, tapi Rigo benar-benar ingin bertemu dengannya dan menanyakan beberapa hal penting padanya tentang Velo.
Beruntung, Rigo benar-benar sangat beruntung karena ternyata Nyonya Laurent ada di sana sedang berbicara dengan tiga pegawainya.
" Nyonya Laurent? " Sapa Rigo membuat Nyonya Laurent berbalik untuk melihat ke arahnya. Sebentar Nyonya Laurent mengeryit memastikan siapa pria di hadapannya itu.
" Ah, kau suaminya Velo ya? "
__ADS_1
Rigo tersenyum, lalu mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Nyunya Laurent dan Rigo kini sudah duduk bersebrangan meja, mereka duduk di ruangan khusus di mana biasanya Nyonya Laurent menerima tamu-tamu galerinya.
" Ini pertama kalinya kita bertemu dengan situasi yang bagus. " Ujar Nyonya Laurent lalu teneyim dengan kesan hangat dan bersahabat.
" Ah, saya justru takut mengganggu. " Ucap Rigo memang benar itu kah yang sebenarnya dia rasakan.
" Tidak juga. " Nyonya Laurent menatap Rigo lalu membuang nafasnya.
" Akhirnya kau penasaran juga ya? "
" Aku tidak salah paham kan? Kau datang menemui ku karena penasaran tentang Velo, ah! ataukah ada urusan lain? "
Rigo tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Benar, aku penasaran tentang dia. Bisakah anda memberitahu bagaimana Velo? Aku mampu memahaminya, tapi mungkin hanya sekitar lima persen saja, selebihnya aku benar-benar sulit memahami Velo. Ini bukan hanya soal rasa penasaran, aku ingin lebih mengenali Velo, dan agar bisa bertindak benar untuknya. "
Nyonya Laurent tersenyum, jujur dia benar-benar bahagia sekali karena Velo memiliki pria yang setulus Zegon, di tambah sekarang Rigo. Sayangnya setulus apapun pria kepadanya, Velo tidak akan pernah bisa menerima perasaan tulus itu, yah pendapatan itu hanya berlaku jika hati Velo dan cara berpikirnya masih tidak berubah.
__ADS_1
" Dari mana aku harus memulainya? "
" Semua yang anda tahu, tolong beri tahu aku. "
Nyonya Laurent terdiam sebentar.
" Awal aku mengenal Velo, sebenarnya sudah sekitar delapan tahun lalu. Aku tidak sengaja melihatnya di pinggiran jalan memungut botol-botol bekas. Usia Velo saat itu sudah remaja, mungkin sekitar empat belas atau lima belas tahunan. Pertama kali aku melihatnya, aku langsung berjalan mendekatinya, saat jarak kami sangat dekat, aku begitu bergetar melihat sorot matanya yang tajam dan dalam. Dia menatapku seperti ingin memperingati bahwa dia tidak suka, atau benci untuk di kasihani. Tadinya aku ingin memberikan uang, tapi aku urungkan niatku. Aku diam-diam memotretnya, sejak hari itu wajah Velo benar-benar membuatku terngiang-ngiang, aku terus terbayang dan memikirkan dia. Sampai akhirnya aku melukis wajahnya saat itu. " Nyonya Laurent berjalan menuju tak buku yang berukuran lumayan besar, lalu menggesernya dengan mudah. Di sana ada gambar seorang remaja dengan pakaian compang-camping, rambut sebahu, dan benar saja sorot mata yang begitu tajam dan dalam adalah mata Velo.
Rigo terdiam memperhatikan benar wajah Velo saat itu, padahal usianya baru remaja, tapi wajahnya memperlihatkan benar dia telah banyak mengalami masa-masa terberat melebihi orang dewasa. Rigo mengeraskan rahangnya di barengi kepalan tangannya.
" Aku coba mencari tahu tentang Velo, tapi aku benar-benar terkejut mengetahui Velo bersekolah dengan rajin. Dia memang tidak pernah mendapatkan juara kelas, dia tidak pernah aktif dalam kegiatan sekolah, tapi dia hampir tidak pernah izin sekolah sampai teman-temannya menyebut Velo sebagai bangku sekolah. Setelah itu aku pergi keluar negeri karena suatu hal, lalu saat aku kembali aku bertemu kembali dengan sosok Velo yang jauh berbeda dari sebelumnya. Dia sudah bisa tersenyum ramah meskipun senyum itu adalah senyum palsu, aku langsung mengenali dia hanya dengan melihat sorot matanya. Saat pertama kali aku melihat perubahan itu aku benar-benar merasa senang. Tapi begitu Zegon menceritakan segalanya padaku, apa saja yang di alami Velo, aku hampir jatuh lemas. Aku menyesal sekali karena tidak menolongnya, aku menyesal karena salah mengartikan tatapan itu. "
Nyonya Laurent menatap wajah Velo di lukisan yang dia buat.
" Tatapan yang dalam, tajam, tatapan marah, tatapan yang membuat takut untuk orang lain mendekat, sebenarnya adalah pesan dari dalam dirinya, dia membutuhkan orang lain untuk menolongnya dari belenggu itu. Velo mengalami kehidupan yang sangat berat, selama sepuluh tahun dia hidup di kota besar ini seorang diri. Dia mencari makan sendiri, membayar sekolah sendiri, tidur di mana saja tempat bisa dia tidur. Sedangkan Ayah kandungnya hidup dengan nyaman, tak sekalipun melihat dan perduli bagaimana kehidupan Velo selama ini. Tadinya aku masih ingin meminta Velo bersabar, dan tetap memaafkan Ayahnya . Tapi begitu Velo menceritakan bagaimana kehidupannya di desa, hingga Ibunya meninggal, aku sendiri sudah tidak sanggup untuk bicara apa-apa lagi. Jika itu manusia lain, aku yakin dia akan memilih bunuh diri. "
Rigo mengeratkan kepalan tangannya sampai gemetar karena begitu kuatnya.
" Pantas saja, pantas saja dia seperti itu. " Gumam Rigo tanpa sadar dia menitihkan air mata.
__ADS_1
Bersambung.