Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Bermain Kata-kata Begitu Hebat!


__ADS_3

" Aku mohon, tolong lah tinggalkan kekasihku. Aku tidak punya apapun lagi yang bisa aku harapkan kecuali dia. Aku sudah mundur dari kompetisi dan membiarkanmu menjadi juara pertama, aku harus menerima makian dan tatapan marah kedua orang tuaku karena keputusan itu. Sekarang, tolong tinggalkan kekasihku, aku harus menikah dengan dia demi anak yang ada di dalam kandunganku. Aku mohon, Selena. " Suara Maria terdengar bergetar, dan sepertinya dia juga sudah mulai menitihkan air mata meski tak terdengar terisak.


" Kenapa kau memohon padaku? Priamu yang datang padaku, dia mengajarku dengan begitu bersemangat. Aku sudah bilang aku tidak ingin memiliki hubungan apapun, jadi jangan merengek padaku, datanglah saja pada priamu itu. " Suara Selena yang begitu dingin dan sombong terdengar jelas di telinga Rigo dan juga Velo.


" Tidak ada hubungan? tapi kenapa kalian selalu pergi bersama? Kalian bahkan beberapa kali menggunakan baju pasangan, kalian tidak mungkin berteman sejauh itu kan? "


Selena terdengar berdecih, dia membuang nafas seolah di begitu jengah mendengar pertanyaan dari Maria yang terdengar begitu menuntut untuk di jawab.


" Memangnya kenapa? Kalau kau mau dia kembali bersama denganmu, ya bujuk saja dia. Lagi pula merengek padaku tidak akan ada hasilnya, kau tahu kenapa? Karena aku tidak perlu menggoda pria, apalagi sampai mau di hamili sepertimu. Aku hanya perlu sedikit tersenyum dan pria sudah gila karena itu. Pria tentu saja akan berburu hal mewah dan istimewa, sementara barang murahan hanya akan dia gunakan sebagai penyeka kotoran saja. "


Terdengar suara Isak tangis, dan sudah jelas kalau suara itu pasti adalah suara Maria.


" Selena, padahal aku bicara baik-baik padamu, tapi kau menghinaku sampai seperti ini? Aku, aku hanya menyerahkan tubuhku ini kepada dia, aku tidak pernah di sentuh siapapun sebelumnya. Dia sudah berjanji akan menikahiku, tapi karena kau dekat dengannya dia jadi memintaku untuk menggugurkan anakku. Aku tidak bisa menerimanya, aku tidak ingin membunuh anakku, karena rasanya pasti akan sangat menyiksa batin seperti aku membunuh diriku sendiri. "


Selena terdengar terkekeh membuat Rigo menahan nafas, sisi lain dari Selena benar-benar membuatnya begitu merinding.

__ADS_1


" Kalau begitu lakukan saja. " Ucap Selena.


" Apa? Lakukan apa? " Tanya Maria dengan nada bicara, bertanya yang bingung seolah dia tidak berharap kalau dugaannya itu benar.


" Gugurkan saja, atau mati, toh itu akan sama saja. Kau hamil, maka itu adalah salahmu yang tidak bisa menjaga diri dengan baik. Perempuan yang masih sangat muda sepertimu sudah berani memberikan tubuhnya kepada seorang pria, tapi menyeret orang lain untuk melakukan pengorbanan. Yah, pantas saja orang tuamu marah dan membencimu, semua orang tua jelas membenci perbuatan buruk, serta murahan seperti itu. "


" Jaga ucapanmu, Selena! " Kesal Maria.


" Kau yang harusnya melakukan itu! Kau datang padaku berbicara aneh seolah aku adalah perebut kekasihmu. Kalau kau memang murahan, jaga saja rahasia itu untukmu sendiri, jangan sampai pria lain akan jijik saat mengetahuinya. Orang tuamu, mereka juga akan lebih menekanmu saat mereka tahu kau hamil bukan? Hah! Berhentilah mencoba mengemis cinta dari seorang pria, kalau aku jadi kau, aku pasti sudah menelan belati tajam dan menjatuhkan diri dari gedung tinggi. Bagaimanapun kau bicara dengan begitu gamblang seperti wanita yang tidak tahu malu, justru aku yang malu sendiri. Lain kali tutup mulutmu rapat, Jangan biarkan orang lain mengetahui apa yang tidak perlu di ketahui. "


Rekaman suara selesai.


Rigo menarik nafasnya, membuang dengan cepat sembari memegangi kepalanya. Wanita yang dia kejar selama itu adalah orang yang menyeramkan rupanya? Tapi, masih saja Rogo ingin Velo melepaskan semuanya, lalu menerima Rigo dan perlahan mencoba untuk bersama dan bahagia dalam rumah tangga ini? Tunggu! Pemikiran ini, apakah Rigo sebenarnya sangat egois? Dia menginginkan Velo, dia ingin Velo menerimanya dan juga mencintainya agar bisa bahagia? Bahagia? Siapa yang akan bahagia? Bukankah Rigo seorang saja? Jika dia terus menekan Velo dengan alasan bahwa Velo pasti akan bahagia, siapa yang akan menjaminnya? Dan bagiamana jika kenyataannya Velo justru lebih menderita?


" Aku tidak pernah memintamu untuk mengerti diriku, Rigo. Aku tidak pernah menginginkan perhatianmu, kau juga sadar itu dari awal bukan? Aku bukan wanita yang bisa menerima perasaan cinta dari orang lain, aku juga tidak akan bisa mencintai apapun. Jika kau muak dengan keras kepalaku, tentu saja itu bukan salahmu, itu adalah salahku yang terbiasa dengan penderitaan selama hidupku. Aku sudah pernah mencoba untuk melakukan apa yang kau katakan tadi, tapi setiap momen aku justru semakin teringat masa lalu dan membatin, yah, dulu aku pernah melakukan ini dengan Ibuku. Aku teringat semua hal hanya karena hal sepele.

__ADS_1


Rigo terdiam tak bisa berkata-kata.


" Di dunia ini, aku hanya mempercayai diriku sendiri, aku yakin diriku sendiri tidak akan mengkhianati diri, tapi aku bahkan tidak bisa mencinta diriku sendiri. Jadi berhentilah, Rigo. Berhentilah menunjukkan segala perhatianmu karena itu sangat membuatku tertekan. Kalau kau masih ingin mencegahku dan mengatakan, melupakan masa lalu, kemudian kau ingin mencoba membahagiakanku, maka hentikan itu dan cobalah untuk mencari wanita lain. Kau bisa kembali kepada Selena, membantu dia melawanku, tapi aku tidak akan menyerah, aku juga akan tetap menjadi mesin penghancur, psikopat kejam yang akan terus bersiasat dengan sadis. "


Rigo menghela nafasnya. Sesak, sakit, kecewa. Velo mungkin ingin membuat Rigo melihat betapa kejamnya seorang Velo, tapi yang di rasakan Rigo adalah, kesakitan yang begitu dalam, dia kesulitan dalam menangani kebenciannya karena selama ini dia tidak mencoba untuk itu.


" Ayo kita tidur, ini sudah malam. " Rigo bangkit dari duduknya, meraih pergelangan tangan Velo dan menariknya untuk mengajak Velo masuk ke dalam kamar.


Velo menepisnya dengan kesal.


" Kau tidak mendengarkan baik-baik pembicaraan ini? " Tanya Velo.


" Dengar, aku dengar setiap kata dengan sangat jelas. Tapi ini sudah malam, kita harus tidur. "


Velo terdiam, kenapa Rigo justru menganggap seperti tak mendengar apapun?

__ADS_1


Ve, entah ini pemaksaan atau bukan, tapi satu sentimeter pun aku tidak akan membiarkanmu kabur. Kali ini, biarkan aku yang memulainya dengan benar.


Bersambung.


__ADS_2