Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Menjadi Partner Yang Baik


__ADS_3

" Kenapa kau datang? Ini kan masih siang, sana kembali ke kantor! " Ucap Nyonya Elena kepada Rigo yang baru saja datang ke apartemen setelah mendapatkan pesan dari Velo.


Rigo membuang nafasnya, sebenarnya dia benar-benar takut kalau nanti Ibunya akan mengancam Velo, dan mengatakan kalimat yang menyinggung Velo dan berakhir seperti saat bersama Selena. Tapi kalau di lihat situasinya sekarang, Rigo hanya bisa terdiam dan memperhatikan tingkah tidak biasa Ibunya.


Dia terlihat ramah kepada Velo, mengajak Velo mengobrol seputar kecantikan, bahkan juga tertawa padahal Velo sendiri tidak memberikan respon yang ramah.


" Ibu, aku antar pulang saja ya? " Nyonya Elena sebenarnya ingin memarahi Rigo karena mengganggu waktunya untuk mengobrol dengan Velo, tapi setelah memperhatikan Velo yang sepertinya tidak nyaman dia memilih menyetujui permintaan putranya itu. Tentu saja dia pulang ke rumah, tapi dia tidak setuju untuk di antar oleh Rigo, karena dia membawa sopir dan juga mobilnya.


" Baiklah, Velo. Aku ada acara donasi di panti asuhan, jadi istirahat lah ya? Jangan bekerja terlalu lelah supaya tidak cepat tua. " Pamit Ibunya Rigo yang langsung mendapati anggukan setuju dari Velo.


Sejenak Velo dan Rigo terdiam. Velo yang bingung kenapa Ibunya Rigo bersikap aneh, sementara Rigo yang bingung karena sikap Ibunya yang ramah ini jarang sekali dia lihat.


" Ibuku ada mengatakan sesuatu? " Tanya Rigo memulai pembicaraan karena tidak mungkin mereka hanya akan saling diam satu sama lain.


Velo menatap Rigo, tatapannya yang tidak biasa itu membuat Rigo bingung karena Velo tidak terlihat marah, juga tidak sedang terlihat bahagia.


" Ini di luar dugaan ku, entah Ibumu sedang ingin melakukan apa, tapi hatiku terus menolaknya. Rigo, mari kita akhiri semua ini. "


Rigo terdiam, kedua matanya menatap dengan sorot terkejut juga kecewa. Akhiri? Akhiri yang bagaimana? Kenapa jantungnya berdebar kencang seperti ini?


" Akhiri? Apanya yang di akhiri? "


" Pernikahan ini, mari kita akhiri dan ambil jalan kita sendiri. "


Rigo tersenyum kelu, dia membuang nafas sebentar karena begitu tercengang dengan apa yang di ucapkan Velo. Rigo kembali menatap Velo dengan tatapan serius, dia juga menunjukkan benar tatapan marahnya.


" Kau datang padaku tiba-tiba, memaksaku untuk menikahimu, memulai untuk menyentuhku dan mengancam saat aku mencoba menolak. Sekarang kau ingin mengakhiri semuanya saat sudah kacau? Kau pikir hidup siapa yang kau permainkan? Sadarlah aku ini manusia, kau tidak boleh berbuat sesuka hatimu dan menganggap hanya kau yang memiliki hak sebagai manusia! " Rigo membentak dengan marah, iya! Dia benar-benar marah karena apa yang di ucapkan Velo tadi.

__ADS_1


Velo sama sekali tidak terlihat takut, tidak luka terlihat menyesal dengan apa yang dia katakan. Tentu saja wajar jika Rigo marah, itu adalah haknya, hanya saja dia merasa Ibunya Rigo membuat perasaannya tidak nyaman, takut akan adanya perubahan di luar kendalinya, dan membuatnya lupa dengan tujuan hidupnya.


" Aku hanya merasa akan lebih baik jika Ibumu bersikap dingin padaku, sikapnya barusan ini benar-benar sangat membuatku tertekan. Aku tidak menyukai situasi ini, aku tidak menyukai saat dimana aku tidak bisa berpikir dengan baik. "


Rigo mengusap wajahnya dengan kasar, lalu membuang nafas. Sekarang dia paham, sikap Ibunya yang ramah dan hangat membuat Velo takut karena selama ini Velo hanya di perlakukan dingin dari kebanyakan orang. Dia menolak untuk menerima sikap baik orang lain karena dia tidak ingin keteguhannya dalam berprasangka bahwa akan lebih baik di benci menjadi memudar. Velo, dia hanya tidak siap menerima sikap baik, tulus dari orang lain karena dia jarang mendapatkan itu.


Benar, Velo memiliki tiga teman baik, tapi Rigo yakin benar bahwa Velo tetap membuat batasan di antara mereka.


" Jangan bicara tentang hal ini lagi sampai aku yang mengungkitnya. Ingat, aku seharusnya tidak masuk dalam daftar balas dendammu, kau sudah banyak mengunakan ku untuk kepentinganmu, jadi bayarlah perbuatanmu itu, sampai aku benar-benar sudah tidak berselera lagi saat melihatmu barulah kakimu bisa menjauh dariku. "


Velo tidak bicara lagi, dia diam seribu bahasa karena tidak memiliki alasan untuk bisa mengelaknya.


Malam harinya.


Rigo kembali ke apartemen setelah siang tadi bertengkar dengan Velo dan dia memutuskan untuk kembali ke kantor.


Rigo sebenarnya bisa saja mencari orang untuk mencari tahu semua tentang Velo, tapi sifat Velo yang tidak biasa itu pasti akan sangat tidak suka jika Rigo melakukan itu.


Velo, tidak bisakah kita selangkah lebih dekat? Kau seperti sosok yang rapuh tapi bersembunyi di balik beton kokoh. Bibirmu tersenyum, tapi tatapan, sorot matamu yang dalam seolah membuatku ingin meraihmu, membawamu keluar dari sesuatu yang aku tidak mengerti. Sampai kapan kau akan tenggelam semakin dalam karena dendammu?


" Kau masih ingin berdiri di sana? " Velo tersenyum, iya dia menyadari kedatangan Rigo.


Rigo segera berjalan mendekat, dan duduk di sebelah Velo.


" Kenapa kau tidak menyalakan lampunya? " Tanya Rigo menatap ke arah depan di mana dia bisa melihat langit malam.


" Gelap itu tenang, kau merasa seperti itu kan? "

__ADS_1


Rigo mengangguk. Gelap memang tenang, tapi jangan lupa di tempat gelap banyak sesuatu yang sulit untuk di lihat.


" Apa warna kesukaanmu? " Tanya Rigo membuat Velo menatapnya karena bingung, kenapa bertanya tentang warna kesukaan tiba-tiba?


" Aku harus menjawab ya? "


" Iya. "


Velo tersenyum.


" Aku suka hitam. "


Rigo tersenyum, hitam? Bahkan itu juga warna favoritnya.


" Kenapa kau suka warna hitam? "


" Karena aku menyukai malam, kesunyian, kurang lebih begitu. Atau mungkin juga karena aku merasa cocok dengan hitam, entah alasan yang mana, tapi aku menyukai warna hitam. "


Dia benar-benar menyukai warna hitam ya?


Velo membuang nafasnya. Pertengkaran sudah berakhir, sekarang sudah waktunya menjadi partner yang baik agar saat mereka berpisah nanti tidak akan ada penyesalan yang tertinggal. Velo bangkit dari duduknya, berpindah untuk duduk di pangkuan Rigo dan melingkarkan lengannya memeluk serta menatap Rigo dengan jarak yang begitu dekat.


" Kau belum mandi, apa perlu aku bantu untuk mandi? " Tanya Velo tersenyum dengan mimik menggoda.


" Tidak perlu, aku bisa mandi setelah selesai. "


Rigo dan Velo menyatukan bibir dengan begitu bersemangat. Tangan mereka berdua juga sudah mulai aktif bergerak ke arah titik penting dari bagian tubuh mereka berdua.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2