Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Kenyataan Tak Terduga


__ADS_3

Setelah selesai bekerja, Selena memutuskan untuk langsung ke rumah sakit menjaga Ibunya. Begitu dia turun dari bus, segera dia menjalankan kakinya menuju gedung rumah sakit, tanpa di duga dia melihat sosok yang sangat dia kenal tengah berjualan makanan dengan gerobaknya.


" Ayah? " Selena sebentar terdiam karena sangat terkejut melihat Ayahnya sibuk berjualan makanan jalanan. Ayahnya memang terlihat kurus, tapi dia terlihat bersemangat sekali hingga tak terlihat merasakan kesedihan. Selena terus menatap Ayahnya semakin dalam, untuk pertama kali dia bisa melihat Ayahnya tersenyum seperti itu, untuk pertama kali dia bisa melihat Ayahnya seperti menjadi dirinya sendiri. Dia terlihat energik, dia tidak seperti Ayah yang selalu mengangguk dan menurut apa yang di katakan Ibunya.


" Ternyata lepas dari kami, Ayah baru benar-benar bahagia ya? " Selena menahan tangisnya. Bukan sedih karena Ayahnya meninggalkan dia serta Ibunya, tapi dia sedih karena baru menyadari jika selama ini Ayahnya sama sekali tak terlihat sungguh-sungguh bahagia. Padahal dia tahu benar dari raut wajah Ayahnya, padahal dia tahu benar Ayahnya tidak hidup dengan baik karena tertekan oleh Ibunya. Tapi dia berpura-pura tidak tahu, asalkan bisa merasakan kasih sayang Ayahnya, dia tidak perduli yang lainnya.


Selena memang memiliki niat untuk meminta Ayahnya kembali kepada Ibunya, mereka bisa hidup bersama, dan Ayahnya bisa fokus menjaga Ibunya yang masih sakit. Tapi, haruskah dia mengorbankan kebahagiaan Ayahnya yang sekarang? Haruskah dia membuat Ayahnya kembali dan di perlakukan buruk oleh Ibunya? Memang sih semenjak sakit semakin parah Ibunya sama sekali tidak banyak mengeluh. Dia hanya banyak diam, dan sesekali menangis saat dia merasa sedih dan bersalah kepada Selena.


" Silahkan, kalau kurang rasa, boleh tambahkan bumbunya ya? " Ucap Ayah Fer lalu bersiap berbaik badan dan melayani pembeli yang lain. Tapi niatnya itu tak bisa dilanjutkan saat kedua bola matanya tak sengaja melihat Selena tengah menatap ke arahnya dengan mata memerah seperti menahan tangis.


" Selena? "


Beberapa saat kemudian.


" Kenapa kau terus menangis sedari tadi? Memang bertemu Ayahmu adalah hal yang menyediakan ya? " Ujar Ayah Fer sekedar untuk menghibur putrinya.


Selena menggelengkan kepala sembari mengusap air matanya yang terus terjatuh. Bukan itu, tentu saja dia amanat merindukan Ayahnya, apalagi saat Ayahnya datang memeluknya tadi, mengusap kepalanya dengan lembut, rasanya tangis yang coba ditahan tadi luruh tak tertahankan.


" Ayah, Ayah, aku, aku rindu Ayah. " Ucap Selena tersendat-sendat karena Isak tangisnya masih tak mau berhenti.


Ayah Fer menghela nafasnya. Dia tersenyum lalu kembali mengusap kepala putrinya dengan lembut. Sebenarnya saat pertama kali dia melihat Selena, yang dia takutkan adalah kemarahan Selena, lalu pertanyaan mengenai perhiasan yang dia curi waktu itu. Tapi sepertinya perasaan rindu Selena lebih besar dari pada apapun. Ayah Fer menjadi membatin di dalam hati, andai saja waktu bisa di ulang, andai saja dia memperlakukan Velo sebaik dia memperlakukan Selena, bukankah sekarang dia bisa hidup dengan tenang dengan dua putri yang menyayanginya?

__ADS_1


" Ayah, Ibu sedang di rumah sakit sekarang. Sakitnya semakin memburuk akhir-akhir ini makanya dia berada di sana. "


Ayah Fer terdiam sesaat.


" Ayah mengerti kesulitan yang kau hadapi, Selena. Tapi bisakah sekali ini saja Ayah egois tehadap kalian berdua? Sudah puluhan tahun, Ayah juga sudah lelah dengan semua ini. Ayah pikir bisa sedikit berguna saat dia sakit, ternyata Ayah hanya akan menyiksa Ibumu, juga menyiksamu, menyiksa diri sendiri. Ibumu pasti akan sangat menginginkan kehadiran Ayah, seperti dulu saat dia sakit usus buntu dia akan sangat membutuhkan Ayah, berjanji akan memperlakukan Ayah lebih baik, tapi setelah dia sembuh, dia semakin hebat dalam menekan Ayah. Ini bukan tentang Ayah semata, tapi juga untuk dia, juga untukmu, Selena. "


" Ayah, apakah sudah tidak mencintai Ibu? "


Ayah Fer membuang nafasnya.


" Cinta? Ayah ini pria bajingan yang bisa mengatakan cinta kepada siapapun yang Ayah mau. Ini buka soal cinta lagi, Selena. Ini tentang prinsip, tentang masa depan, tentang kelangsungan hidup. Ayah minta maaf sekali, tapi Ayah tidak memiliki keberanian untuk kembali kepada Ibumu. Ayah cukup bahagia dengan sekarang ini, Ayah senang walaupun tidak hidup dengan fasilitas bagus seperti dulu. "


Selena menatap Ayahnya semakin dalam dengan perasaan bersalah juga sedih.


" Panjang sekali ceritanya, Selena. Yang jelas Ayah juga sempat sakit waktu itu, Ayah pikir Ayah akan mati saat tidur di jalanan. Tapi, Velo datang memberikan banyak uang, jadilah Ayah bisa seperti sekarang ini. "


" Velo? " Selena mengeryit dengan tatapan matanya yang begitu terkejut.


Ayah Fer mengangguk dengan senyum kelu yang membuat Selena tidak memahami apa maksudnya itu.


" Selena, ada satu kenyataan yang selama ini Ayah tutupi darimu. "

__ADS_1


" Apa? Kenyataan apa? "


" Velo, dia, dia, " Ayah Fer menyatukan jemarinya, menekannya dengan kuat saat jemarinya saling bertautan.


" Dia adalah anak Ayah juga. "


Selena membeku, dia tak bisa berkata-kata mendengar kalimat aneh, kalimat yang bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya. Anak ayahnya juga? Apa-apaan sebenarnya? Kenapa bisa? Bukankah usianya dengan Velo hanya berenda satu tahun saja? Bagaimana bisa seperti itu?!


" Ayah sedang bercanda ya? "


Ayah Fer menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih. Dia terlihat amat merasa bersalah, dia juga terlihat menyesali sekali semua yang sudah terjadi ini.


" Ayah sudah menikah dengan gadis desa sebelum datang ke kota. Waktu itu Ibunya Velo sedang hamil muda, karena Ayah tidak ada uang untuk biaya melahirkan Ibunya Velo saat itu, Ayah memutuskan untuk pergi ke kota, tapi beberapa bulan bekerja Ayah dan Ibumu bertemu. Ayah menikahi Ibumu dan melupakan istri Ayah yang sebelumnya, bahkan Ayah juga tidak perduli lagi bagaimana cara dia melahirkan, ada uang atau tidak. "


Selena bangkit dari duduknya, dengan wajah terkejut dia hanya bisa kebingungan dan menangis tanpa suara.


" Ibu, Ibuku, apakah Ibu tahu tentang ini? "


" Iya, dia sudah tahu. Dia bilang Ayah hanya miliknya, Ayah hanya boleh mencintainya, Ayah hanya boleh menjadi Ayahmu, Ayah hanya boleh memiliki satu putri saja yaitu, kau. Ayah buta karena harta dan kemewahan, Ayah sampai lupa Velo yang kelaparan, menderita dalam kemelaratan, Ibunya yang sakit-sakitan, mengabaikan dia yang terus ingin bertemu saat Ayah kembali ke desa. Ayah, benar-benar pria bajingan yang menjadikan. " Ucap Ayah Fer tertunduk sedih.


Selena, gadis itu benar-benar tidak tahu harus bagaimana dan mengatakan apa. Ternyata, Ayahnya adalah pria brengsek, Ibunya yang egois, bisa-bisanya menyakiti wanita lain agar dirinya bahagia.

__ADS_1


" Kalian, kalian benar-benar, aku, tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Pantas saja dia selalu menatapku dengan begitu benci, pantas saja dia sangat marah saat aku menyebut Ibunya, pantas saja dia membenci kita semua! Kalian benar-benar keterlaluan! "


Bersambung.


__ADS_2