Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Jual Rumah, Jangan Jual Diri!


__ADS_3

Rigo mengambil ponsel yang di pegang Velo, tidak perlu melihatnya maka dari itu dia meletakkan ponsel Velo di samping lampu tidur. Entah benar atau bukan sebab Velo tersenyum menatap ponsel, yang Rigo inginkan hanyalah membuat wanita di dekatnya itu hanya ingin bersama dirinya. Benar memang, untuk membuat Velo nyaman dia tidak bisa memaksa Velo, atau membebaskan Velo untuk memilih. Dia hanya perlu membuat Velo melihat ke arahnya, bukan sebagai objek untuk membalas dendam, tapi dia ingin Velo menatap ke arahnya karena dia memiliki kualifikasi untuk bisa mendampingi Velo kini, dan kemudian hari.


Rigo meraih dagu Velo, membuat wajahnya menatap dirinya yang tengah berdiri di hadapan Velo yang sedang duduk di tempat tidur. Rigo dan Velo terdiam sebentar saling menatap dengan dalam, Rogo tersenyum tipis, Velo juga mengikutinya.


" Kalau kau begitu bahagia hanya dengan melihatku seperti ini, kenapa tidak kita buat semakin bahagia saja? "


Velo kembali tersenyum, meraih handuk yang melingkar di pinggang Rigo dan menariknya hingga terlepas. Sebenarnya sekarang ini sudah bukan waktunya lagi untuk Velo melakukan ha ini, tapi dia juga tidak bisa langsung begitu saja menolak Rigo karena dia juga ingat benar bahwa Rigo tidak akan membuangnya sebelum Rugi merasa bosan. Velo pikir semakin sering mereka melakukannya, maka akan cepat juga Rigo merasakan bosan.


Rigo memposisikan dirinya, mendekat dengan begitu erat, mengunci tubuh Velo dengan tubuhnya. Tentu saja dia tahu dan paham benar apa yang sedang di pikirkan Velo. Tapi, Rigo sudah benar-benar berada di tahap mencintai Velo, dia tidak mungkin akan melepaskan wanita yang sudah menjadi istrinya. Rasanya ingin diam-diam mengajukan ke pencatatan sipil agar pernikahan mereka tercatat di negara dan tidak mudah untuk Velo meninggalkannya. Namun perasaan Rigo serta hatinya benar-benar begitu mengutamakan Velo. Dia tidak sanggup kalau nantinya Velo akan menatapnya penuh kebencian, pernikahan adalah tentang dua orang, Rigo jelas tidak bisa berbuat seenaknya sendiri karena Velo adalah orang yang bersangkutan langsung dengan hubungan pernikahan yang dia jalani.


" Kenapa aku merasa, beberapa waktu terakhir caramu bersikap semakin baik? Aku jadi curiga kalau kau jatuh cinta dengan perempuan sepertiku. Kau, tidak tiba-tiba anjlok selera dengan mencintai wanita hina ini kan? " Velo tersenyum sembari mengerakkan ibu jarinya di bibir Rigo yang sudah mulai mendekat padanya.


Rigo terdiam sebentar, lalu dia menatap Velo dengan jarak pandang mereka yang begitu dekat.


" Tidak bisakah kau jangan meremehkan dirimu sendiri? "


Velo terdiam, meremehkan diri sendiri? Tidak, bukan, dia tidak pernah meremehkan dirinya sendiri. Velo mengingat kembali, selama ini memang mulutnya pandai menghina dirinya sendiri, tapi sejak kapan dia benar-benar sudah tidak inga lagi.

__ADS_1


" Ve, jatuh cinta atau tidak, kita adakah suami istri. Entah kau menyukai ini atau tidak, kenyataan bahwa aku adalah suamimu jangan sampai kau lupakan. " Ucap Rigo lalu segera menyatukan bibirnya dengan bibir Velo.


Hari itu bukanlah akhir pekan, tapi karena Velo seorang lah Rigo benar-benar tidak memikirkan pekerjaan, dan fokus untuk bersama dengan Velo. Untuk Velo, Rigo bahkan sering mengabaikan pekerjaannya yang sebelumnya selalu dia nomor satukan. Karena Velo lah dia menjadi tahu harus melakukan apa dan bagiamana bersikap bijak untuk mengambil hatinya. Berbeda dengan Selena, gadis itu hanya butuh di belikan bunga, makan makanan yang enak dan mahal, di manjakan dengan hobinya. Sedang kan Velo, wanita itu jauh lebih sulit di banding yang Rigo pikirkan. Tidak memiliki hobi yang jelas, dia hanya mempelajari hal-hal seperti Selena untuk menyaingi Selena saja. Dia tidak suka berbelanja seperti wanita lain, dia tidak begitu hobi memakan makanan mewah, dia juga selalu sulit untuk di tebak ekspresi, dan apa maunya.


" Ve, apa yang kurang dari bagian tubuhku? " Tanya Rigo membuat Velo mengeryit bingung. Padahal tangan Rigo sudah menyentuh bagian intinya, bermain di sana membuat Velo harus merapatkan bibirnya agar tak bersuara, tapi kenapa juga malah Rigo bertanya dengan pertanyaan yang membingungkan?


" Ke kenapa, kenapa dengan pertanyaanmu? "


" Katakan saja, apa tubuhku masih kurang kekar? Lenganku kurang kuat? Bahuku terlihat kurang kokoh? Katakan saja, jangan berbohong. "


Velo mengabaikan saja pertanyaan dari Rigo karena posisinya sekarang benar-benar sulit untuk bicara. Padahal Rigo benar-benar ingin tahu, dia ingin memperbaiki apa yang bisa di perbaiki agar tidak begitu banyak celah untuk Velo menjadikan alasan, mencari sebab untuk mereka berpisah nanti.


" Ponselmu, sepertinya dari tadi ada yang menghubungi. " Rigo menoleh, mengambil ponselnya, sempat dia mengeryit bingung karena Ayahnya Selena lah yang menghubunginya. Rigo meletakkan ponselnya kembali, meraih pinggul Velo menekannya dan melanjutkan apa yang sedang mereka lakukan. Apapun tentang Selena, baik itu orang tuanya akan lebih baik dia mengabaikannya saja karena dia tidak ingin satu saja sikapnya akan membuat salah satu dari mereka salah paham, dan menganggap masih ada lampu hijau di antara Selena dan juga Rigo.


Beberapa saat kemudian.


Velo meraih ponsel Rigo karena Rigo benar-benar enggan untuk melihat ponselnya. Melihat begitu banyaknya panggilan dari Ayah Fer, Velo hanya bisa tersenyum miring dengan tatapan dingin.

__ADS_1


" Sayang, boleh aku saja yang menerima panggilan telepon dari calon Ayah mertuamu ini? " Tanya Velo, sebentar menjatuhkan tubuhnya kepada Rigo yang berbaring di sebelahnya dengan memainkan jari di punggung Velo.


" Berhentilah menyebut calon mertua, kau bisa menerima panggilan dari siapapun kalau kau mau. " Ujar Rigo karena memang dia tidak perduli sama sekali. Velo tersenyum, mengecup bibir Rigo sebentar lalu kembali dengan ponsel Rigo yang tidak ada hentinya terus di teror oleh Ayah Fer.


Rigo, Rigo? Maaf sekali aku mengganggu, kau pasti sedang bekerja ya?


Velo memberikan ponselnya untuk Rigo menjawab dulu.


" Iya. " Jawab Rigo membuat Velo tersenyum karena Rigo benar-benar sangat patuh padanya.


Begini, Rigo. Istriku sedang sakit, dia kena stroke. Dokter bilang dia membutuhkan penanganan khusus, dan juga butuh terapi. Semua uang keluarga di handle oleh istriku, aku jadi tidak punya uang sama sekali, makanya aku menghubungi untuk meminjam uang, bisakah tolong bantu aku?


Velo tersenyum senang dengan tatapan dingin.


" Kau pikir priaku adalah Bank? Istrimu kena stroke apakah itu menjadi urusan priaku? Kalau kau tidak punya uang, maka jual saja ginjalmu, atau satu bola matamu. "


Tak ada suara, tapi panggilan suara masih berlangsung.

__ADS_1


" Tuan Fer yang terhormat, bagaimana kalau jual saja rumahmu? Karena kalau kau jual diri di usiamu yang sudah tua itu, orang gila saja tidak akan Sudi membelinya. " Velo memutuskan sambungan teleponnya.


Bersambung.


__ADS_2