Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Anjing Gila Vs Srigala


__ADS_3

" Nyonya Fer, aku sudah hampir lima puluh tahun hidup di dunia, meskipun aku memang menikah di usia yang sangat muda karena perjodohan orang tua, tapi aku, juga suamiku tidak pernah ingin menjodohkan Rigo dengan siapapun, mendesak dia untuk menikahi wanita yang kami pikir pantas juga sudah kami setujui bersama tidak akan melakukan itu. Nyonya Fer, aku mengerti tentang kekhawatiran yang kau rasakan, tapi apa gunanya memaksakan sesuatu yang sebenarnya akan lebih baik jika tidak di paksakan? Rigo masih labil dalam menentukan perasaan, dia memang sering bergonta-ganti kekasih karena dia belum menemukan sosok yang pas untuknya, dan kalau dia benar berselingkuh dari putrimu, itu berarti dia juga kurang pas dengannya. "


Nyonya Fer sebenarnya sudah tidak bisa berkata-kata sedari tadi, dia sungguh tidak menyangka kalau Nyonya Elena sangat santai dan terkesan tidak begitu perduli kepada Selena, putri yang dia besarkan sepenuh hati, dia habiskan banyak uang demi putrinya agar bahagia, ternyata malah ada yang menyembarangi seperti ini.


" Nyonya Elena, kalaupun memang benar Rigo mengabaikan banyak uang, seharusnya putriku bukan orang yang memaksanya kan? Dan masalah perselingkuhannya Rigo, bukankah tugas orang tua untuk menuntun anak ke jalan yang benar? " Nyonya Fer tidak bisa menahan lagi, bagaimanapun putrinya Selena adalah putri yang paling baik dan sempurna, dia juga sangat membutuhkan Rigo agar bisa membantu Selena bersekolah, menunjang, serta bantuan untuk promo ke jenjang yang lebih tinggi lagi untuk bisa menjadi balerina terkenal.


Nyonya Elena tersenyum dengan tenang, dia menatap Nyonya Fer yang terlihat tertekan dan tidak tenang.


" Nyonya Fer, aku tidak mempermasalahkan uang yang sudah di habiskan putraku untuk putrimu seandainya kau tidak membahasnya. Putraku bekerja di perusahaan Ayahnya dengan kemampuan yang begitu hebat, tentu saja dia bisa mendapatkan banyak uang dari gajinya, juga haknya sebagai anak. Aku tidak perduli kemana uang putraku asalkan itu masih wajar, dan tidak menggunakan uang perusahaan. Mungkin kau menganggap putraku semampu itu untuk membeli apartemen di tempat yang sangat mewah, tai sayangnya tidak seperti itu. "


" Maksud, Nyonya Elena? "


Nyonya Elena kembali tersenyum.


" Harga apartemen di sana sekitar lima belas miliar, dan putraku sampai detik ini masih menabung karena belum cukup uang. Dulu aku hanya penasaran kenapa Rigo menabung untuk membeli apartemen ketimbang rumah, dan jawaban putraku adalah, Selena ingin tinggal di sana karena di sana sangat aman, dan juga jaminannya sangat setimpal dengan harganya. "


Nyonya Fer menelan Salivanya sendiri, iya dia ingat benar Selena pernah menceritakan bahwa dia meminta Rigo untuk membeli apartemen di sana karena banyak alasan yang mendukung. Pertama keamanannya tidak di ragukan lagi, pelayannya cepat dan siaga dua puluh empat jam, tempatnya tenang, gedungnya juga di bangun untuk tahan gempa.


" Masalah menuntun ke jalan yang benar, sejujurnya aku agak tersinggung karena itu artinya anda sedang mengatai ku tida pecus menjadi seorang Ibu. "


Nyonya Fer menggelengkan kepalanya karena sungguh dia tidak bermaksud mengatai calon besannya itu.


" Tidak, bukan, Nyonya Elena. Saya hanya asal bicara, tolong jangan tersinggung. "


" Tidak masalah, Nyonya Fer. "


" Anu, ngomong-ngomong bagaimana anda akan menyikapi masalah ini? " Tanya Nyonya Fer yang tentu saja masih belum rela kalau Velo di biarkan begitu saja.


" Akan aku bicarakan dengannya nanti. "


Nyonya Fer sebenarnya sangat kesal dan tidak terima dengan perlakuan Nyonya Elena gang menggampangkan masalah sebesar ini, di tambah dia juga tidak siap melihat Selena sedih kalau sampai tahu respon calon Ibu mertuanya seperti orang yang tidak perduli, alias terlalu santai.

__ADS_1


Begitu Nyonya Fer meninggalkan kediaman Nyonya Elena,


" Rigo.......! " Nyonya Elena memegangi kepalanya yang sakit.


" Dasar, sifat gatalnya itu pasti karena Ayahnya dulu juga begitu! Rigo, dan kau sayang, kalian berdua benar-benar harus di hukum! "


" Nyonya, anda baik-baik saja? " Tanya pelayan rumah Nyonya Elena dengan tatapan khawatir.


" Apanya yang baik? Nehna, tolong pijat kepalaku ya? Pagi tadi Ayahnya Rigo membuat kesal, sekarang anakku, ya Tuhan rasanya ingin mengembalikan Rigo ke dalam perut dan ganti Ayah kandung supaya sifatnya sedikit lebih baik. " Ujar Nyonya Elena merasai kepalanya yang terasa sakit.


" Tapi biarpun begitu nak Rigo juga pria yang baik kan Nyonya? " Ujar pelayan rumah.


" Tentu saja, dia baik sepertiku, dan dia gatal seperti Ayahnya. "


" Pft! "


" Nehna, jangan berani-beraninya tertawa! "


***


Velo membuang nafasnya begitu keluar dari butik rencananya ingin langsung pulang malah sudah ada Selena yang berdiri menatapnya dengan tatapan marah. Tak ingin bicara dengan Selena, Velo menjalankan kakinya begitu saja melewati Selena yang matanya terus terarah padanya dengan sorot menajam.


" Dimana kak Rigo? Sudah satu Minggu dia jarang membalas pesan dariku, dia juga tidak mengangkat telepon dariku, semua karenamu kan? Kau menyembunyikan ponselnya kan? "


Velo mengeryit, lalu tersenyum sembari menghentikan langkah kakinya. Dia berbalik menatap Selena, melipat kedua lengannya dan menaruhnya di dadanya.


" Kau pikir Rigo adalah balita? Kalau dia tidak membalas pesan darimu, mungkin ya karena kau menghubunginya saat kami sedang berhubungan badan, atau mungkin mandi bersama, ah! Atau mungkin saat kami sedang duduk di balkon minum anggur bersama sembari saling mencurahkan isi hati? " Velo tersenyum miring dengan tatapan berani yang membuat Selena merasakan sesak di dadanya. Padahal acara pertunangan akan di selenggarakan sekitar sebulan lagi, tapi Rigo malah berubah seperti ini. Di tambah lagi, perubahan itu terjadi karena wanita tidak tahu malu di hadapannya yang selalu berbicara tanpa mengenal rasa malu.


" Aku peringatkan padamu, orang tua Rigo sudah tahu mengenai perselingkuhan kalian berdua. Kau tahu kan orang tua Rigo bukan orang yang bisa sembarangan menerima calon menantu? Dia pasti akan melakukan segala cara untuk menghancurkanmu! "


" Menghancurkan? " Velo tertawa keras sampai sudut matanya mengeluarkan air mata. Menghancurkan? Apakah dia perlu memberitahu jika dia sudah lama hancur?

__ADS_1


" Tertawalah sebisamu, toh belum tentu kau bisa tertawa lagi setelah ini. " Ujar Selena yang semakin terbawa emosi karena Velo justru sama sekali tidak takut dengan ancamannya.


" Aku justru takut, kau yang tidak bisa tertawa. Ah, sebenarnya selama satu Minggu ini kau sudah tidak bisa tertawa karena Rigo jarang membalas pesan darimu ya? "


Selena mengepalkan tangannya, rasanya dia ingin sekali memukul, menampar wajah Velo dengan sekuat tenaga. Tapi, dia juga masih ingat jelas betapa kasarnya Velo saat mencekiknya, tatapannya yang seolah menyumpahi untuk Selena cepat mati begitu mengerikan sekali.


Velo mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang, dengan sengaja dia menekan pengeras suara agar Selena mendengarnya.


Ada apa?


Selena membulatkan matanya karena dia tahu dengan jelas itu adalah suara Rigo.


" Sayang, bisa jemput aku di butik tidak? "


Aku belum selesai bekerja, mobilmu kemana?


" Mobilku ada, tapi hanya ada seekor anjing gila di depan butik, aku takut. "


Selena semakin mengeratkan kepalan tangannya.


Kenapa takut hanya anjing? Kau bukanya srigala?


" Aku akan menjadi srigala saat di atas tempat tidur. "


Sampai detik ini kau masih seperti kelinci.


" Ah, oke! Aku akan berusaha keras menjadi srigala untukmu! Ngomong-ngomong kau tidak bisa menjemputku? "


Aku menantikan penampilan srigala mu. Kalau kau mau bisa tunggu aku selesai sekitar empat puluh menit dari sekarang.


" Tentu saja, aku akan menunggu! " Velo memutuskan sambungan teleponnya, menatap Selena dengan senyum yang membuat Selena tak bisa berkata-kata dan hanya bisa menangis tanpa suara.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2