Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Memiliki Anak Sendiri


__ADS_3

" Hari ini, di bawah sinar rembulan yang terang, menatap bintang yang gemerlap menyinari langit malam. Tiupan angin yang sejuk, suasana hening yang menenangkan, aku, Velo Agata. Tidak perduli seperti apa kehidupan di masa depan, tidak perduli seberapa menderitanya masa lalu, aku akan tetap berusaha membahagiakan diriku sendiri yang utama. " Gumam Velo lirih di dalam hati, dia tersenyum, tapi senyum yang terukir di bibirnya benar-benar senyum bahagia sesuai dengan suasana hatinya.


Tuhan, terimakasih atas luka masa laluku sehingga kebahagiaan ini terasa sangat berlebihan untukku.


Rigo pernah mengatakan jika, kebahagiaan dirinya adalah hal yang utama untuk mereka, maka itulah Velo selalu melakukan apa yang dia inginkan untuk membuat dirinya bahagia. Velo pikir menjalani hidup seperti itu adalah hal yang biasa dan membosankan, ternyata setelah dia jalani benar-benar berbeda dari yang dia pikirkan.


Nyonya Elena, dia benar-benar memperlakukan Velo seperti teman, sekaligus putri, serta menantunya. Berbelanja bersama, ke salon bersama, melakukan banyak hal lain bersama, pagi tadi mereka juga membuat kue kering bersama. Velo seperti merasakan kembali kasih Ibu yang lebih dari pada Ibunya sendiri, dia kadang mendapat tatapan sinis dari Ayah mertua tapi dia juga selalu diam-diam memperhatikan Velo dan mengkhawatirkan dirinya.


Rigo? Heh! Pria itu benar-benar semakin gila setiap harinya.


" Sayang........ Bagiamana penampilanku hari ini? "


Velo membuang nafasnya, berbalik dengan tatapan seolah sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan Rigo.


" Tada.......! "


" Pft! " Velo menahan tawanya melihat Rigo dengan penampilan anehnya. Bagaimana tidak aneh? Hari ini dia menggunakan lingerie yang entah kapan dia beli, menggunakan heels tinggi, lipstik merah menyala, berjalan mendekati Velo sembari menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri seperti pria setengah wanita.


" Kenapa menahan tawa? Apakah suamimu ini cukup menggoda malam ini? " Rigo berjalan mendekati Velo, meraih tengkuk Velo membuat Velo terus dan harus menatap ke arah Rigo yang kini tengah memutarkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


" Apa kau tidak bosan hah?! "


Rigo meraih pinggul Velo, membuat tubuh mereka menempel dan wajah mereka yang berdekatan.


" Perhatikan baik-baik, suamimu ini sudah menyiapkan surprise dengan sangat baik, benar kan? "


'' Hah...... Iya, aku benar-benar terkejut ternyata kau bisa secantik ini hanya dengan lingerie. "


Rigo memaksakan senyumnya. Gila? Mungkin memang dia gila karena sangat mencintai istrinya sendiri. Berawal dari membaca sebuah komik romantis, akhirnya dia mulai menggoda Velo dengan cara yang aneh. Pertama dia menggunakan bikini yang sukses membuat Velo tertawa terbahak-bahak, kemudian dia mengunakan daster, dan masih banyak hal lain hingga hampir setiap hari mereka begitu banyak tertawa.


" Sayang, ini sudah satu tahun apakah kau merasakan perasaan menyesal hidup bersama denganku? " Tanya Rigo sembari mengusap dengan lembut pipi Velo.


Velo menghela nafas, lalu memeluk tengkuk Rigo dan menatapnya dengan serius.

__ADS_1


" Tenang saja, selama kau banyak uang, selama wajahmu masih tampan, terutama selama ini masih bisa di gunakan, aku tidak akan merasa menyesal. " Ucap Velo sembari menyentuh bagian inti milik Rigo.


Rigo tersenyum dengan bangga, lalu dengan sebagai dia melepaskan heels tinggi yang dia gunakan ke sembarang arah, membopong tubuh Velo untuk dia bawa ke dalam kamar.


" Sayang, gaya apa yang akan kita gunakan malam ini? " Tanya Rigo sembari menutup pintu kamar.


" Mana aku tahu! Kita sudah mencoba banyak gaya sebelumnya. "


" Ah, bagiamana dengan gaya cucak? Gaya ujar kobra bagiamana? "


" Kau gila! "


" Ah, iya aku gila memikirkan soal gaya. Kita perpanjang durasi saja oke? " Rigo.


" Jangan lupa, kemarin durasimu berakhir sebelum target. " Velo.


" Ah, maaf! Malam ini akan lebih baik! " Rigo.


" Aku tahu! "


Beberapa saat kemudian.


" Besok adalah hari kita menikah, dan besok juga kita akan mendaftarkan pernikahan kita ke catatan negara. Bagaimana perasaanmu? " Tanya Rigo.


" Tidak tahu, apa bedanya tercatat di negara atau tidak, toh sama saja kalau kita sudah menikah dan kita adalah suami istri kan? "


Rigo mengeratkan pelukannya.


" Bedanya adalah, kau tidak bisa asal meninggalkanku. Kau membutuhkan namaku saat melakukan banyak hal yang berhubungan dengan dokumen. "


" Terdengar merepotkan ya? "


" Cih! Benar-benar istri yang kejam. "

__ADS_1


Velo tersenyum.


" Besok kita juga harus menjenguk sepupunya ibu yang baru melahirkan, kau bisa ikut? " Tanya Rigo.


" Iya, kenapa tidak? Toh anak kecil itu sangat lucu kan? Apalagi kalau yang baru lahir, mereka benar-benar seperti manusia ajaib. "


Rigo tersenyum sembari mengangguk.


" Iya, kalau kau mau kita bisa pinjam bayinya nanti. "


" Dari pada pinjam bukanya lebih enak punya anak sendiri? " Gumam Velo yang masih bisa di dengar oleh Rigo. Tentu saja Rigo mengeryit dan terkejut karena dia tidak percaya dengan apa yang di katakan Velo.


" Kau bilang apa barusan? Bilang apa, sayang? "


Velo terdiam saat Rigo mengubah posisinya untuk menatapnya penuh tanya.


" A, ah! Badanku lengket! Awas, sana! Aku mau mandi! "


" Tunggu! Tunggu dulu, sayang! " Rigo tak lagi bisa mengejar Velo karena dia sudah masuk ke dalam kamar, juga sudah di kunci pula jadi Rigo tidak bisa masuk ke dalam kamar mandi.


Rigo menghela nafasnya dan tersenyum.


" Dia bilang ingin punya anak sendiri? Iya aku dengar sekali, berarti kalau ada anak Velo tidak mungkin memiliki niatan meninggalkanku kan? " Memikirkan itu Rigo benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum di sana. Sementara Velo, dia juga tersenyum sendiri memikirkan apa yang dia katakan tadi.


Mengenai perasaanya, entah dia cinta atau tidak, yang Velo tahu adalah, dia merasa aman dan bahagia saat bersama Rigo. Meskipun ada masanya dia tiba-tiba menangis bahagia seorang diri, menangis teringat masa lalu, tapi bukankah yang penting adalah sekarang? Dulu dia tidak menginginkan anak karena takut anaknya akan memiliki nasib yang sama seperti dirinya. Namun, perasaan nyaman, kehangatan Ibu mertuanya, perhatian dari Rigo, juga Ayah mertuanya, Velo menjadi yakin seiring berjalannya waktu dan dia bersumpah kepada dirinya sendiri untuk tidak akan membiarkan anaknya kelak memiliki nasib seperti dirinya.


Di sisi lain.


Selena tengah menangis sedih karena Ibunya kembali masuk ke rumah sakit akibat penyakit yang dia derita. Tentu sebagai anak dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa merawat Ibunya yang sedang sakit. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka sudah tidak punya cukup uang untuk terus berada di rumah jadilah Selena bekerja.


Dia sendiri juga sudah berusaha mencari Ayahnya, tapi waktu yang terbatas untuk menjaga Ibunya, juga bekerja tak membuat Ayahnya cepat di temukan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2