
Velo menghela nafas kasarnya setelah melihat pesan yang dikirimkan sekretaris Zegon padanya. Dia mengatakan jika Zegon kembali bertengkar dengan Ayahnya di rumah sakit, Zegon membela Velo habis-habisan dan pada akhirnya Ayahnya membuat Zegon tidak memiliki pilihan selain keluar dari catatan keluarga.
Rasanya dia benar-benar dilema saat ini, apakah dia harus mengikuti kata hatinya yang ingin datang kepada Zegon? Tapi kalau tidak bagiamana jadinya pria itu?
Velo memejamkan matanya sebentar, sepertinya dia masih harus menyelesaikan urusan rumit dengan Zegon sampai tuntas dulu baru bisa pergi untuk memilih jalannya sendiri dengan tenang.
Di luar gedung apartemen, Rigo masih terdiam tak melakukan apapun. Semalaman dia benar-benar tidak tidur, dia terus bimbang antara ingin menemui Velo atau tidak, hingga pada akhirnya dia hanya bisa diam di sana dengan segala kebimbangannya. Dia terus berpikir, apakah jika dia terus menunjukkan perasaannya dengan begitu jelas akan membuat Velo merasa tidak nyaman? Lalu apakah dia harus diam saja dan menyimpan rapat-rapat perasaan cinta di hatinya? Jujur dia benar-benar sangat tersiksa, dia bingung harus melakukan apa agar Velo tidak terus berpikir untuk meninggalkannya. Sulit sekali, Velo sangat sulit untuk di mengerti dan di pahami. Dia tak bisa di genggam erat karena akan membuat Velo dan juga dirinya terluka, jika di lepaskan begitu saja, dia akan bebas terbang tak memiliki arah tujuan, itu juga akan membuat Rigo bersedih dan sakit karena kehilangan Velo.
Rigo menghela nafasnya, mungkin akan lebih baik kalau dia tenang dulu beberapa saat, setidaknya sampai dia bisa menata pikirannya dengan baik, begitu juga dengan Velo. Rigo menekan started mobilnya, melakukan dengan kecepatan sedang menuju apartemen miliknya. Hari ini dia juga tidak akan pergi ke kantor, jadi terserah saja kalau nanti Ayahnya akan mengomel padanya.
Seperti yang di inginkan sekretaris Zegon, Velo akhirnya memutuskan untuk menemui Zegon pagi ini. Entah akan berakhir seperti apa pembicaranya dengan Zegon, entah pada akhirnya dia masih akan tetap memilih jalanya, atau akan kembali berada di pelukan pria itu, Velo hanya akan menggantungkan nasibnya kepada takdir.
Velo menghentikan langkah kakinya saat melihat seorang wanita yang dulu pernah memukuli dan memaki dirinya tengah berbicara kepada sekretarisnya Zegon. Di lihat dari raut wajah keduanya, sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius.
" Anda sudah datang, Nona Ve? "
Velo tersenyum lalu mengangguk, dia sama sekali tak melihat ke arah wanita yang ada di hadapan Sekretarisnya Zegon yang adalah mantan istri dari Zegon sendiri. Entah apa yang ingin dia lakukan di sana, tapi Velo juga sudah tidak perduli lagi. Hanya saja untuk kali ini dia tidak akan menerima pukulan lagi dari wanita itu.
" Tuan sudah menanyakan sejak dia bangun tadi, jadi maaf kalau saya merepotkan Anda untuk datang. " Ujar Sekretarisnya Zegon. Mendengar ucapan Sekretarisnya Zegon mengatakan itu, mantan istrinya Zegon benar-benar terlihat sangat kecewa hingga matanya memerah menahan tangis. Entah apa yang di tangisi wanita itu sejak tadi, karena matanya masih sembab.
" Baiklah, aku akan masuk. " Ujar Velo bersiap untuk masuk ke dalam ruang rawat.
__ADS_1
" Tunggu! " Mantan istri Zegon yang bernama Greta menahan lengan Velo dan menatapnya dengan tatapan memohon, jauh berbeda dengan tatapan matanya yang begitu tajam saat memaki Velo dulu.
Velo menghela nafas, dia menatap Greta dengan tatapan dingin.
" Lepaskan, aku tidak ingin beradu mulut denganmu. "
Greta semakin mengeratkan kedua tangannya yang menahan lengan Velo. Dia semakin menatap dengan tatapan memohon sampai dia menangis membuat Velo tak berdaya.
" Tolong, ikutlah denganku sebentar. Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu, aku mohon.... Tolong, aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini, jadi aku benar-benar minta tolong padamu, ikutlah denganku, mari kita bicara. "
Velo terdiam sebentar.
" Apa yang sedang anda rencanakan, Nona Greta? " Tanya Sekretarisnya Zegon membuat Greta tak bicara sama sekali.
Greta terdiam sebentar, dia menunduk karena tidak bisa membicarakan apa yang ingin dia bicarakan karena Sekretarisnya Zegon pasti akan membuatnya tak bisa mengatakan apapun.
Melihat Greta tak bicara sama sekali, wajahnya yang seperti sangat putus asa, juga serba salah, Velo akhirnya memutuskan untuk ikut saja kemana Greta mengajaknya agar bisa bicara dengan nyaman.
" Baiklah, di mana kita harus bicara? "
Kalimat itu sontak membuat Greta tersenyum senang, tapi tidak dengan sekretarisnya Zegon.
__ADS_1
" Nona Ve, bukankah akan lebih baik jika anda menemui Tuan sekarang juga? " Sekretarisnya Zegon tentu saja akan mencegah Velo dan Greta bicara. Dia memang baru tahu beberapa saat tadi setelah Greta datang kesana, tapi dia yang masih belum yakin tidak bisa banyak bicara, bagaimanapun dia harus mencaritahu dulu benar atau tidaknya apa yang dia katakan tadi.
Di kantin rumah sakit, di sanalah Greta dan juga Velo berada untuk bicara.
" Bicaralah, kau juga tidak ingin membuang waktu kan? "
Greta mengangguk, sebentar dia terlihat gugup sampai kedua tangannya saling menggenggam erat untuk menimbulkan kepercayaan dan kekuatan dari dirinya sendiri.
" Ve, aku sedang hamil. Usia kandunganku sekarang sudah masuk ke lima bulan. Anak ini adalah anaknya Zegon, tapi Zegon tidak menerimanya dan bahkan menceraikanku padahal dia tahu aku sudah hamil dua bulan waktu itu. "
Deg!
Velo terdiam, hamil?
" Tentu saja ini bukan salahnya Zegon juga, selama bertahun-tahun kita menikah, Zegon sama sekali tidak pernah ingin menyentuhku, bahkan selalu menolakku. Aku mengambil inisiatif dengan memasukkan obat ke minumannya agar dia mau melakukan itu denganku. Aku tahu cara itu begitu murahan, tapi aku sangat mencintai Zegon, aku tidak ingin berpisah dengannya. Semenjak dia kenal denganmu, dia sama sekali tak pernah pulang kerumah, aku takut kehilangan dia, aku takut kau mengambilnya dariku maka dari itu aku hanya bisa melampiaskan kemarahan dan ketakutan ku padamu. Enam tahun kita bersama, tapi melakukan hubungan suami istri bahkan tidak lebih dari tiga kali. Selama dia bisa menghindari, dia akan bergegas dengan menahan reaksi obat untuk pergi menemeuimu. Aku gelisah setiap waktu, tapi Tuhan begitu baik padaku, aku hamil. Aku sangat bahagia sekali karena pada akhirnya aku memiliki alasan untuk bisa bertahan dengan Zegon. Tapi entah apa yang terjadi, Zegon mengajukan cerai, aku sudah mencoba untuk mencegah dengan mengatakan aku hamil. Zegon justru tertawa terbahak-bahak seolah ucapanku adalah guyonan. " Greta menyeka air matanya beberapa kali saya dia sedang bicara.
" Bagiamana aku bisa yakin kalau itu adalah anaknya Zegon? "
Greta meraih kedua tangan Velo dan menggenggamnya.
" Aku bersumpah, demi Tuhan, demi bayiku ini, jika aku berbohong, maka bayiku akan lahir cacat atau meninggal. "
__ADS_1
Bersambung.