Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Peran Wanita Rendahan


__ADS_3

Velo terdiam menatap seorang pria yang berdiri dari jarak lumayan jauh, dia tersenyum tapi wajahnya nampak pucat. Velo yang saat itu baru saja akan kembali ke apartemen karena seharian mengurus butik, di tambah Rigo terus menghubungi dan mengatakan jika akan menjemputnya, Velo merasa tidak punya pilihan dan bersiap untuk pulang. Tapi begitu dia keluar dari butik, sosok pria yang sebulan ini tak muncul tiba-tiba berdiri dan menatapnya.


Kenapa? Padahal biasanya dia akan berjalan mendekat dan memeluknya.


" Zegon? "


Velo tanpa sadar menjalankan kakinya, tatapannya juga terus terarah kepada Zegon. D dalam hati dia bertanya, kenapa? Ada apa dengannya? Kenapa dia terlibat tidak biasa?


Velo menghentikan langkah kakinya saat jaraknya dengan Zegon sudah sangat dekat. Velo masih terus menatap mata Zegon, sementara Zegon tersenyum dengan tatapan yang tidak biasa.


" Senang bisa melihatmu lagi, aku juga senang karena kau terlihat baik-baik saja. Bagaimana? Apa kau menemui kesulitan? "


Velo tak menjawab, dia merasakan debaran jantungnya yang begitu kuat sekali. Rasanya ada yang ingin dia tanyakan tapi dia tidak tahu apa, dia hanya bisa menatap Zegon dengan tatapan dalam mencari tahu apakah yang sebenarnya ingin dia ketahui dari Zegon.


Velo mengepalkan tangannya, lalu bergerak cepat memeluk Zegon. Apakah ini karena mereka sudah terbiasa seperti itu? Velo memejamkan matanya, sekarang dia tahu ada yang terjadi dengan pria yang sudah menemaninya selama empat tahun. Dia tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu.


Zegon, pria itu mengeryit menahan sesuatu yang sakit di tubuhnya. Dia merindukan Velo, dia merindukan wanita itu dengan sangat, tapi sayangnya dia tidak bisa banyak membuat gerakan.


" Katakan, apa yang terjadi padamu? " Tanya Velo saat dia sudah melepaskan pelukannya.


Zegon kembali tersenyum, wajahnya berkeringat cukup banyak membuat Velo semakin curiga padanya.


" Memang apa yang bisa terjadi padaku? Aku hanya merindukanmu, tidak ada yang lain. "


Velo tentu saja tidak percaya, dia memperhatikan tangan, kaki, leher, tidak ada yang terluka, kalau begitu pasti ada di bagian yang tertutupi baju kan? Velo terdiam sebentar, lalu mencoba memaksa untuk membuka kancing kemeja yang di gunakan Zegon.

__ADS_1


" Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa kau jadi terang-terangan begini? " Zegon mencoba menghentikan tangan Velo, tapi dia benar-benar tidak cukup kuat saat itu hingga Velo bisa melihat adanya perban di perutnya.


" Kau kenapa? " Tanya Velo, tatapannya sudah benar-benar amanat marah, tubuhnya juga mulai terasa dingin. Yah, mungkin Velo takut melihat orang yang dekat dengannya pergi lagi dengan cara yang menyakitkan.


" Hanya tergores saja saat aku sedang bermain golf, tidak serius jadi jangan khawatir. "


Velo memukul dada Zegon dengan tatapan marah.


" Katakan padaku, kau kenapa?! "


Zegon terdiam, kenapa? Tidak bisa tentu untuk dia katakan. Wanita cantik di hadapannya ini, pasti sangat ketakutan bukan? Sudah cukup selama ini dia terus menyalahkan diri sendiri, jadi dia tidak ingin kalau sampai Velo masih seperti itu. Dia juga ingin Velo sedikit melunak agar bisa merasakan cinta, tapi sayangnya dia tidak bisa memaksa dan memilih diam seribu bahasa asalkan Velo bahagia, tentu dia akan ikut bahagia.


" Love, kenapa kau sangat khawatir seperti itu? Aku sudah pernah mengatakan kalau tidak akan mati sebelum kau kan? "


" Ve? "


Velo menoleh ke belakang, Zegon juga menatap ke arah di mana suara yang memanggil nama Velo. Dia adalah Rigo, pria dengan tatapan hangat tapi akan langsung menunjukkan tatapan permusuhan saat melihat Zegon.


Rigo berjalan mendekati Velo, dia sebentar menatap Zegon dengan dingin, meraih tangan Velo dan menggenggamnya erat-erat.


" Ve, kalaupun ini berat untukmu, tapi kemana kau harus kembali kau harus lebih tahu dan terbiasa mulai sekarang. " Rigo menarik tangan Velo membuat Velo mau tak mau ikut terbawa.


" Rigo! " Velo mencoba melepaskan tangan Rigo dari tangannya, tapi Rigo justru semakin erat menggenggamnya. Velo menatap Zegon, sebenarnya dia ingin Zegon memintanya untuk tinggal, tapi karena Zegon hanya diam saja, Velo akhirnya mengikuti Rigo yang mulai membawanya menjauh.


Zegon membuang nafasnya, dia sudah menahan tubuhnya sedari tadi agar tidak jatuh, dan sekarang dia benar-benar tidak tahan lagi.

__ADS_1


" Tuan! "


Untung saja sekretaris Zegon datang tepat waktu, jadi dia bisa menahan tubuh Zegon yang jalur saja terjatuh di lantai.


" Tuan, tolong berhentilah untuk memaksakan diri anda. Sudah dua kali jahitan di perut anda robek karena anda terus memaksa untuk bangun dan menemui Nona Ve. Sekarang anda sudah melihatnya, tolong istirahatlah dengan benar sampai beberapa hari kedepan. Tidak, mungkin butuh hitungan bulan. " Ucap Sekretaris nya Zegon karena melihat adanya darah yang merembes dari luka Zegon. Dengan segera dia membawa Zegon untuk masuk ke dalam mobil, laku segera menuju ke rumah sakit.


Rigo membanting pintu dengan kuat, tentu saja Velo paham bagaimana perasaan Rigo saat ini, dan dia juga tidak bisa mengatakan apapun untuk menjelaskan apa yang bahkan tidak dia mengerti.


" Ve, tidak bisakah kau berhenti dengan semua ini? "


Velo terdiam.


" Pertama kau memaksaku, mengacaukan perasaanku, membuatku tidak bisa mencegah perbuatan jahatmu padahal aku tahu apa yang kau lakukan salah, dan semua kejahatan akan menjadi bumerang untukmu. Sebenarnya, berapa ratus kali aku harus mengatakan padamu untuk fokus dengan kita berdua saja? Aku benar-benar mulai muak denganmu!. "


Rigo memukul setir kemudinya, dia benar-benar tidak perduli dengan kecepatan kendaraannya yang diatas rata-rata. Velo masih terdiam karena bahkan dia tidak mengkhawatirkan dirinya, entah akan mati atau tidak. Tapi, bagaimana dengan Rigo? Bagaimana kalau dia yang menjadi celaka?


" Berhenti. " Ucap Velo dengan tatapan datarnya, melihat tak ada emosi apapun di wajah Velo, Rigo benar-benar menjadi sangat marah. Dengan segera dia menghentikan laju mobilnya dengan perasaan yang begitu marah.


" Kau mau menemui pria itu? Walaupun kau pernah menjadi simpanan pria itu, tapi kau seharusnya juga ingat kalau aku adalah suamimu! Seharusnya kau memiliki perasaan perduli padaku walau kau tidak memiliki cinta untukku. Kau, kau juga berhentilah memerankan tokoh wanita rendahan, berhentilah membuat orang lain salah paham! "


Velo tak mengatakan apapun. Dia hanya membuang nafasnya, lalu keluar dari mobil.


" Berkendaralah dengan kecepatan sedang. " Sebenarnya Velo meminta Rigo berhenti agar Rigo bisa sedikit tenang baru nanti bisa melanjutkan mengemudi, tapi Rigo sedang sangat marah sekarang, jadi Velo memilih pergi agar Rigo bisa mengambil waktu untuk menenangkan diri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2