
" Kak, ayo di makan! " Ucap Selena lalu tersenyum begitu lembut kepada Rigo. Pagi tadi Selena berencana untuk mendatangi kediaman orang tua Rigo, tapi karena kedua orang tua Rigo memiliki kesibukannya sendiri, Selena hanya menunda niatnya itu, lalu menghubungi Rigo. Mendapati kabar bahwa Rigo berada di apartemennya, maka segera Selena menuju kesana, tapi sebelum itu dia membelikan satu porsi nasi goreng untuk sarapan Rigo.
Rigo memaksakan senyumnya, lalu menatap nasi goreng yang sudah di pindahkan ke piring.
" Kau tidak sarapan? " Tanya Rigo karena hanya ada satu goreng yang di sodorkan padanya.
" Tidak kak, aku kan tidak biasa sarapan dengan nasi. Aku terbiasa makan buah saja, dan lagi sebelum kesini aku sudah makan buah. "
Rigo terdiam, dia masih belum ingin memakan nasi goreng yang ada di hadapannya itu. Aneh, benar-benar sangat aneh karena Selena seperti tak mengetahui sarapan apa yang dia biasa makan, Rigo juga tidak terlalu menyukai sarapan yang berat, biasanya dia hanya akan makan sandwich, roti bakar dengan madu, wafle dengan saus vanila, sereal gandum, dan lagi dia sudah mulai terbiasa makan bersama dengan Velo. Jujur saja selera makannya memang kurang lebih mirip seperti Velo. Kalaupun ingin sarapan dengan nasi, Rigo tidak akan memesan nasi goreng dengan begitu banyak minyak, dan Rigo juga tidak menyukai pedas. Melihat nasi goreng yang di bawakan Selena, dia benar-benar tidak tertarik, juga tidak berselera melihat tampilannya yang begitu merah karena sudah pasti pedas rasanya.
" Selena, maaf tapi aku tidak menyukai nasi goreng ini. Aku pesan sendiri tidak apa-apa kan? "
Selena terlihat kecewa, tapi dia mencoba menahannya dengan senyuman.
" Kalau begitu kak Rigo mau makan apa? Nanti aku yang pesan. " Ujar Selena.
" Sandwich saja. "
Selena mengangguk setuju, lalu segera mengeluarkan ponselnya.
" Halo?, aku mau sandwich dengan isian daging ya? Pastikan dagingnya di bakar dengan kematangan medium. "
__ADS_1
Rigo mengeryitkan dahi. Tidak, bukan sandwich yang seperti itu yang dia inginkan. Hah! Ternyata Selena benar-benar tidak tahu apapun tentang dirinya, padahal Rigo hampir mengetahui semua makanan yang di sukai Selena, kebiasaan Selena, dan bisa menebak bagaimana suasana hati Selena, bahkan masalah fashion Selena dia juga tahu dengan baik.
" Selena? " Panggil Rigo.
" Iya? " Selena sebentar menghentikan pembicaranya dengan telepon untuk menatap Rigo dengan tatapan bertanya.
" Berikan ponselnya padaku, aku boleh kan memesan sendiri? "
Selena terdiam, dan tak lama dia menyerahkan ponselnya kepada Rigo.
" Halo? Aku mau sandwich dengan isian telur juga sosis. Aku juga mau tambahan tomat dan sayuran, untuk rotinya tolong biarkan saja jangan di bakar, tidak usah di beri saus dan mayonaise, seperti itu sudah cukup. " Setelah mengatakan itu Rigo mengembalikan ponselnya kepada Selena.
Tidak tahu harus bagaimana, Selena terdiam sebentar karena dia merasa kalau dia memang terlalu fokus dengan apa yang dia suka selama ini. Rigo selalu bertanya apa yang dia suka, apa yang dia mau, Rigo tahu makanan apa saja yang Selena suka, pakaian seperti apa, bunga apa yang di sukai Selena, tapi Selena tidak tahu apapun tentang Rigo. Dia pikir Rigo akan menyukai makanan mewah jadi itulah alasannya Selena memesan sandwich dengan daging terbaik, padahal nyatanya Rigo tidak menyukai makanan yang dia pesan.
Rigo memindahkan Sandwich yang di pesan tadi ke piring, ada tiga sandwich, tapi Selena juga masih menolak.
" Maaf kak, aku benar-benar tidak berani makan banyak, apalagi ini masih pagi. Kak Rigo tahu kan kalau seorang balerina gemuk tidak akan bagus? "
Rigo tak mengatakan apapun lagi, sebegitu ketatnya kah Selena kepada dirinya sendiri? Padahal Selena bisa di bilang terlalu kurus, tapi bahkan dia sama sekali tidak keberatan menekan selera makannya dengan berlebihan.
" Kak, besok kalau ada waktu, kita pergi untuk lihat pakaian untuk acara pertunangan kita nanti ya? Sudah tidak lama lagi, jadi lebih cepat selesai kan lebih baik kak, begitu hari h nya semua sudah beres. "
__ADS_1
Rigo mengangguk lalu memaksakan senyumnya, iya dia sudah akan bertunangan dengan Selena, jadi berhenti memikirkan Velo adalah keputusan yang tepat. Rigo menganggap jika dia hanya terbawa suasana karena setelah mengenal Selena dia tidak lagi pernah memiliki hubungan dengan wanita lain, apalagi sampai melakukan hubungan badan. Rigo teringat dengan ucapan Selena yang ingin lebih dekat dengannya, dalam artian bisa melakukan apa yang kebanyakan suami istri lakukan.
Rigo meletakkan sandwich yang belum habis dia makan, menatap Selena dengan segala pemikirannya. Apakah benar jika dia melakukan itu dengan Selena dia akan bisa melupakan Velo dan mulai terbiasa dengan semua tentang Selena? Rigo bangkit dari posisinya, berjalan mendekati Selena yang duduk bersebrangan meja dengannya. Menunduk untuk mencium Selena, begitu bibir mereka menyatu, Rigo mulai mengerakkan bibirnya di sambut oleh Selena yang memberikan balasan untuk ciuman itu. Benar saja, ciuman itu semakin panas, dan Selena juga sudah bangkit memeluk Rigo agar mereka semakin menempel.
Tidak!
Rigo membuka matanya lebar karena dia tidak bisa konsentrasi dengan apa yang sedang dia lakukan bersama Selena. Sentuhan Velo, cara Velo menciumnya, lekukan tubuh Velo, semuanya begitu jelas berdatangan di otaknya membuat Rigo yang masih ingin terus memaksakan diri seolah mengatakan jika wanita yang dia cium saat ini bukanlah Velo.
" Kak Rigo? " Selena menatap dengan tatapan bingung karena tiba-tiba saja Rigo menjauhkan tubuhnya, bahkan mendorong Selena untuk menjauh.
Rigo tersadar, dan dia hanya bisa menatap Selena dengan mimik menyesal. Bukan, bukan terus mengingat Velo yang dia inginkan. Bagaimana bisa jadi seperti ini? Padahal saat melakukan hubungan badan dengan Velo pertama kali dengan sadar, dia sama sekali tidak mengingat tentang Selena, jadi kenapa sekarang Velo, wajahnya, tingkahnya, begitu mengganggunya?
" Selena, aku ke kamar mandi dulu ya? Hari ini aku tidak ke kantor, jadi kita pergi saja hari ini untuk melihat pakaian untuk tunangan nanti. "
Selena tidak menjawab, dia hanya bisa melihat Rigo yang pergi menjauh, masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi.
" Kau terus mengingat wanita itu kan? Kak Rigo, kau yang memaksaku, jangan salahkan aku. " Ujar Selena menatap dengan dendam.
Di kamar mandi, Rigo berdiri di bawah guyuran air yang keluar dari shower. Semoga saja air dingin yang mengaliri tubuhnya itu bisa membersihkan semua tentang Velo dari dalam otaknya karena terus mengingat Velo benar-benar menyiksa sekali.
" Ve, kau meninggalkan banyak bekas di tubuhku, apakah ini alasannya aku terus teringat padamu? Enyah lah, sebentar lagi aku akan menikahi wanita yang sudah lama aku inginkan. " Ujar Rigo.
__ADS_1
Bersambung.